Sistem Pendidikan Indonesia Memprihatinkan

Posted by sangpembelajar On Saturday, 2 July 2011 3 komentar

Sistem Pendidikan Indonesia Memprihatinkan




Sistem pendidikan di Indonesia masih membutuhkan perbaikan. Kebolongan implementasi yang belum tertambal sempurna menyebabkan keseluruhan sistem tidak totalitas. Analoginya seperti sistem tubuh manusia. Sistem tubuh manusia memiliki tujuan pula dan setiap organ berperan penting dalam melaksanakan sistem. Jika satu organ saja tidak befungsi dengan baik atau macet, maka keseluruhan sistem akan menjadi kacau.


Menurut Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Beliau berujar bahwa sistem pendidikan di Indonesia kurang memperhatikan motorik. Ilmuwan-ilmuwan di Indonesia kurang membentuk konsep diri sehingga cenderung pintar namun sedikit bertindak. Hal ini juga ditandai dengan maraknya plagiat yang turut diaksikan oleh para intelek.


Rhenald mengingatkan bahwa manusia tidak hanya memiliki brain memory (otak) saja, melainkan juga myelin (memori otot). Sejauh ini, pendidikan di Indonesia terlalu mengedapankan pengetahuan dan hanya dibangun melalui jalur otak.


Padahal, bangsa-bangsa besar melarang guru-guru taman kanak-kanak menggenjot memori otak sebelum proses motorik (myelin) menemukan jalurnya. “Bahkan di Jepang, anak-anak dibiasakan melatih myelin dengan merangkai origami sehingga begitu dewasa mereka mampu menjadi engineer yang sangat detail dan sophisticated,” tuturnya.


Rhenald mengungkapkan pengetahuan didapat dengan belajar, sedangkan keterampilan dari latihan. Memisahkan keduanya hanya akan menghasilkan manusia opini yang gemar berwacana, namun tidak melakukan apa-apa.


Selain itu, kelemahan sistem pendidikan di Indonesia adalah bidang studi dan materi yang terlalu luas. Sistem pendidikan di Indonesia seperti lingkaran seta. Kurang lebih 16 bidang studi pada satu tahun ajaran telah membebat para siswa. Belum lagi, dari keenam belas bidang studi teresebut terdapat begitu banyak materi bidang studi yang abstrak, dan sering tidak sesuai dengan kebutuhan siswa.


Sistem pendidikan Indonesia terlalu memaksa peserta didik untuk dapat menguasai sekian banyak bidang studi dengan materi yang sedemikian abstrak, yang selanjutnya membuat anak merasa tertekan/stress yang dampaknya membuat mereka suka bolos, bosan sekolah, tawuran, mencontek, dan lain-lain.


Pada akhirnya mereka tidak dapat mengerjakan ujian dengan baik, nilai mereka kurang padahal sudah dilakukan remidi, dan supaya dianggap bisa mengajar atau karena tidak boleh ada nilai kurang atau karena kasihan beban pelajaran siswa terlalu banyak, guru melakukan manipulasi nilai rapor. Nilai rapor inilah yang kemudian dijadikan dasar untuk memperoleh beasiswa atau melanjutkan kuliah atau ikut PMDK dan lain sebagainya. Bukan, karena UN tidak adil, bahwa kemampuan siswa tidak dapat distandardisasi.


Alasan ketiga mengapa sistem pendidikan Indonesia perlu dibenahi adalah sistem pendidikan nasional sekarang, masih mengedepankan pada pencapaian berbasis nilai bukan pada keterampilan dan kompetensi sehingga kita tidak perlu bertanya dan bingung mengapa banyak sarjana yang menganggur, peserta olimpiade fisika yang tidak lulus Ujian Nasional dan banyak lagi hal-hal yang menggelikan dari sistem pendidikan ini


Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada nilai ternyata menghasilkan dua produk. Pertama, pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum dalam sistem pendidikan Indonesia sangat membuat pesera didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas. Sistem pendidikan nasional yang telah berlangsung hingga saat ini masih cenderung mengeksploitasi pemikiran peserta didik. Hal ini menyesatkan paradigma pendidik yang menurut John Dewey pendidikan adalah untuk hidup, bukan untuk bekerja dan menurut Ki Hajar Dewantara (filosofis keteladanan-substansi pendidikan) bahwa pendidikan berfungsi untuk memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi. Sementara peserta didik saat ini cenderung menjadi robot sistem pendidikan dan dapat dianalogikan seperti safe deposit box (Paulo Freire).


Produk kedua dari reaktan sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada nilai ialah pengesampingan aspek afektif (merasa) sehingga peserta didik hanya tercetak sebagai generasi-generasi yang pintar tapi tidak memiliki karakter-karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Sudah 65 tahun Indonesi merdeka dan setiap tahunnya keluar ribuan hingga jutaan kaum intelektual. Kenyataan pahitnya, hal tersebut tak kuasa mengubah nasib bangsa ini.

3 komentar:

susilofy said...

araaaaah

Gunthur salahudin said...

Sejak merdeka sampai sekarang kalangan pendidikan memiliki wawasan terbalik dengan kalangan industri dan bisnis pedahal tujuan orang sekolah supaya bisa bekerja dan menciptakan pekerjaan. Tuntutan Dunia kerja dan usaha adalah daya saing produktifitas, kualitas dan efisiensi kerja, bukan kecerdasan yang tidak berdaya. Pendidikan harus menghasilkan pemimpin, profesional dan entreprnuer, hasilnya justru kebalikannya, yaitu para pemimpin korup, amatir dan makelar. Inilah kegagalan fatal Pendidikan sehingga masyarakat menderita jadi korbannya.

susilofy said...

benar seperti itulah keadan yang kita hadapi saat ini.... gimana cara merubahnya tak bisa berbuat apa.. kami sebagai pendidik tak bisa berbuat apa selalu dikalajkan dengan sistem yang ada

Post a Comment