TES HASIL BELAJAR

Posted by sangpembelajar On Friday, 7 October 2016 0 komentar

TES HASIL BELAJAR


A. Tes Objektif


Keunggulan :


Tepat digunakan untuk mengukur proses berpikir rendah sampai dengan sedang (ingatan, pemahaman, penerapan). Semua / sebagian besar materi yang telah diajarkan dapat ditanyakan saat ujian sehingga semua/ sebagian besar tujuan pembelajaran yang ditetapkan dalam RPP dapat diukur ketercapaiannya. Pemberian skor pada setiap siswa dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan konsisten karena jawaban yang benar untuk setiap butir soal sudah jelas dan pasti. Memungkinkan untuk dilakukan analisis butir soal. Tingkat kesukaran soal dapat dikendalikan. Informasi yang diperoleh lebih kaya.


Kelemahan :


Butir soal yang ditulis cenderung mengukur proses berpikir rendah. Membuat pertanyaan tes objektif yang lebih baik lebih sukar sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Kemampuan anak dapat terganggu oleh kemampuannya dalam membaca dan menerka. Anak tidak dapat mengorganisasian, menghubungkan, dan menyatakan idenya sendiri karena semua alternatif jawaban untuk setiap pertanyaan sudah diberikan oleh penulis soal.


Upaya untuk meminimalkan kelemahan :


Agar soal yang ditulis dapat mengukur tujuan pembelajaran yang ditetapkan  penulis harus berorientasi pada kisi-kisi soal. Penulis soal harus menguasai materi dan berlatih menulis soal terus menerus, untuk menanggulangi lamanya menulis soal penulis soal harus memiliki bank soal. Menuliskan butir soal dengan baik sesuai kaidah penulisan butir soal objektif yang telah ditentukan. Tes objektif sebaiknya digunakan untuk tes sumatif, sedangkan untuk ulangan harian usahakan dengan tes uraian.


 B. Tes Uraian


Keunggulan :


Tepat digunakan untuk mengukur proses berpikir tinggi. Tepat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks yang tidak dapat diukur dengan tes objektif. Waktu yang digunakan untuk menulis satu set tes uraian lebih cepat dari pada waktu yang digunakan untuk menulis satu set tes objektif,  Menulis tes uraian yang baik relative lebih mudah dari pada menulis tes objektif.


Kelemahan :


Terbatasnya sampel materi yang ditanyakan. Sukar memeriksa jawaban siswa Karena sukar memeriksa jawaban siswa, sehingga pemberian skor kurang objektif dan kurang konsisten.


Hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya:


Adanya Hallo Effect


Memberi skor hanya dengan anggapan bahwa siswa pandai pada satu mata pelajaran (misal: MATEMATIKA), sehingga pelajaran yang lain pun dianggap pandai.


Adanya Efek Bawaan (Carry Over Effect)


Efek bawaan yang terjadi pada saat memeriksa butir soal nomor 1 ke butir soal.


Efek bawaan yang terjadi pada saat memeriksa jawaban satu siswa ke siswa lainnya cenderung tinggi setelah memeriksa jawaban siswa yang jelek.


Efek urutan pemeriksaan (Order Effect)


Hasil siswa yang diperiksa lebih awal cenderung tinggi daripada hasil siswa yang diperiksa mendekati akhir.


Pengaruh penggunaan bahasa


Kualitas jawaban siswa tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas isi jawaban tetapi juga dipengaruhi oleh penggunaan bahasa, ejaan, kalimat, tanda baca, dan struktur kalimat.


Pengaruh tulisan tangan


Kualitas tulisan siswa cenderung mempengaruhi skor siswa. Kualitas tulisan yang baik diberi skor tinggi daripada kualitas tulisan yang jelek.


 


Upaya untuk meminimalkan kelemahan :


Agar validitas isi tes uraian tinggi, maka berbentuk tes uraian terbatas. Unsur subyektivitas harus ditekan seminimal mungkin dengan memeriksa hasil tes siswa tanpa nama. Agar pemeriksaan tes uraian lebih objektif dan konsisten, maka cara yang harus dilakukan pemeriksa adalah sebagai berikut :




  1. Gunakan tes uraian terbatas

  2. Gunakan dua pemeriksa

  3. Ada kesepakatan dalam memberi skor antara kedua pemeriksa

  4. Lakukan uji coba terlebih dahulu terhadap skor yang telah disepakati setidak-tidaknya dari 4 orang siswa dengan perbedaan skor kedua pemeriksa kurang dari 5.


Upaya untuk mengurangi Hallo Effect adalah dengan menutup nama peserta tes. Untuk menghindari Carry Over Effect adalah dengan memeriksa jawaban per nomor untuk seluruh siswa. Untuk menghindari Order Effect adalah bila anda lelah, berhentilah memeriksa dan lanjutkan kembali setelah anda fresh kembali.


 C. MENGEMBANGKAN TES


Tes Objektif


Tes benar salah / true false item


Fungsi




  • Mengukur kemampuan siswa untuk mengidentifikasi kebenaran suatu pernyataan mengenai fakta, definisi, prinsip, teori, hukum, dan sebagainya.

  • Mengukur kemampuan siswa unuk membedakan antara fakta dengan pendapat atau opini.

  • Mengukur hasil belajar yang lebih tinggi dari sekedar ingatan.


Keunggulan




  • Mudah dikonstruksikan

  • Dapat mennanyakan banyak sampel materi

  • Mudah penskoran

  • Tepat digunakan untuk mengukur proses berpikir sederhana


Kelemahan




  • Probabilitas siswa dalam menebak jawaban sangat tinggi yaitu 50%.

  • Sebagian besar soal benar salah hanya digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa yang sederhana yaitu aspek ingatan.


Tes menjodohkan / matching exercise


Yaitu tes objektif yang ditulis dalam dua kolom. Kolom pertama adalah pokok soal/premis dan kolom kedua adalah jawaban / respon.


Keunggulan




  • Mudah dibuat

  • Mudah penskorannya

  • Dapat menguji banyak materi yang telah diajarkan pada siswa


Kelemahan




  • Butir soal yang dibuat cenderung mengukur hasil belajar yang sederhana


Tes pilihan ganda / multiple choice


Ragam tes pilihan ganda :


Melengkapi pilihan ( ragam A)


Tersusun atas pokok soal dengan empat / lima alternatif jawaban.


Hubungan antarhal (ragam B)


Tersusun atas pokok soal terdiri dari dua pernyataan yang independen dipisahkan dengan kata sebab.


Analisi kasus (ragam C)


Pertanyaan yang dirumuskan dikembangkan dari kasus yang disajikan sebelumnya dengan perintah jawaban siswa sama dengan ragam A.


Ganda kompleks (ragam D)


Tersusun atas pokok soal yang berupa pertanyaan disertai dengan 3 atau 4 buah alternatif jawaban. Dengan perintah jawaban menggunakan angka 1,2,3.


Membaca diagram , tabel, atau grafik ( ragam E )


Soal disampaikan dalam bentuk tabel, grafik, atau diagram. Dengan perintah jawaban yang berhubungan dengan tabel, grafik, atau diagram.


Mengkonstruksi tes objektif yang baik :


Saran dalam mengkonstruksi tes B-S


Kalimat / pernyataan harus dapat ditentukan dijawab benar/ salah. Hindari pernyataan yang membingungkan/ bermakna ganda. Hindari penulisan butir soal yang hanya mengukur hasil belajar yang tidak mengukur kompetensi. Upayakan butir soal tersebut menguji hasil belajar yang lebih tinggi dari sekedar ingatan. Hindari penggunaan pernyataan negatif apalagi pernyataan negatif ganda. Hindari penggunaan kalimat yang terlalu kompleks. Pernyataan benar dan salah harus dibuat seimbang dalam hal penulisan kalimat. Jumlah jawaban untuk pernyataan benar/ salah harusnya seimbang.


Saran dalam mengkonstruksi tes menjodohkan


Pernyataan-pernyataan dibawah kolom pertama atau kedua harus terdiri dari pernyataan yang homogen. Jumlah pernyataan kolom kedua dibuat lebih banyak dari kolom kedua. Penulisan kalimat pada respon hendaknya lebih pendek dari premis. Jika jawaban pada respon berbentuk angka penulisan harus diurutkan. Letakkan keseluruhan pernyataan premis dan respon pada halaman yang sama.


Saran dalam mengkonstruksi tes pilihan ganda


Inti permasalahan yang ditanyakan harus dirumuskan dengan jelas. Hindari pengulangan kata yang sama pada alternatif  jawaban. Hindari penggunaan kalimat berlebihan pada pokok soal. Alternatif jawaban hendaknya logis, homogen dari segi materi / panjang pendek kalimat dan pengecoh menarik untuk dipilih. Dalam merumuskan soal hindari adanya petunjuk ke jawaban yang benar. Setiap soal hanya ada satu jawaban yang benar. Hindari penggunaan ungkapan negatif dalam penulisan soal. Hindari alternatif jawaban yang berbunyi semua jawaban benar / semua jawaban salah. Jika alternatif jawaban berupa angka, susunlah angka tersebut berurutan. Dalam perumusan soal hindari penggunaan istilah teknis.  Upayakan agar jawaban soal tidak tergantung jawaban soal yang lain.


Tes Uraian


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengkonstruksi tes uraian yaitu :




  • Tulis tes uraian berdasarkan perencanaan tes yang dibuat.

  • Gunakan tes uraian untuk mengukur hasil belajar yang sukar.

  • Kembangkan butir soal dari suatu kasus.

  • Gunakan tes uraian terbatas.

  • Usahakan pertanyaan mengungkap pendapat siswa bukan hanya fakta.

  • Rumuskan pertanyaan dengan jelas dan tegas.

  • Rancanglah pertanyaan sesuai waktu yang disediakan dalam ujian.

  • Hindari penggunaan pernyataan pilihan.

  • Tuliskan skor maksimal yang dapat diperoleh siswa apabila ia mengerjakan soal dengan benar.


Pedoman penskoran :




  • Apa jawaban terbaik dari pertanyaan tersebut? Jika ada jawaban lain maka jawaban tersebut harus ditulis.

  • Tandai butir, kata kunci / konsep penting yang harus muncul pada jawaban tersebut.

  • Adakah butir, kata kunci / konsep yang lebih penting dari yang lain.

  • Beri skor pada setiap butir, kata kunci / konsep yang harus muncul pada jawaban tersebut.

  • Butir , kata kunci, atau konsep yang lebih penting dapat diberi skor lebih dari yang lain.


PERENCANAAN TES


Ada  beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat kisi-kisi antara lain :


Pemilihan sampel materi yang akan diujikan. Pemilihan sampel materi harus diupayakan serepresentatif mungkin. Penentuan jenis tes yang akan digunakan. Penentuan jenis tes yang akan digunakan apakah akan menggunakan tes pilihan ganda, tes uraian, atau gabungan antara keduanya harus diperhitungkan terutama terkait dengan materi, jumlah butir soal dan waktu tes yang disediakan. Jenjang kemampuan berpikir yang diujikan harus sesuai dengan kemampuan berpikir yang dilatihkan selama proses pembelajaran. Sebaran tingkat kesukaran.  Waktu ujian yang disediakan. Jumlah butir soal yang akan ditanyakan tergantung waktu ujian yang disediakan

0 komentar:

Post a Comment