Contoh Laporan Hasil Penelitan Tindakan Kelas Lengkap

Posted by sangpembelajar On Tuesday, 13 December 2016 5 komentar
Contoh Laporan Penelitian Tindakan Kelas


Laporan penelitian tindakan kelas saya susun sebagi bukti telah Melaksanakan Publikasi Ilmiah dalam bentuk karya tulis berupa laporan hasil penelitan pada bidang pendidikan di sekolah, diseminarkan dan disimpan di perpustakaan. Sehinga dapat dihitung angka kereditnya sebagai salah satu syarat untuk mengusulkan naik pangkat.


Berikut ini saya bagikan file lengkapnya laporan penelitian yang saya susun dengan judul "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DALAM MATERI CAHAYA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 6 PENYARINGAN SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2015/2016" jika dibutuhkan silahkan untuk di DOWNLOAD disini susilo-ptk dan lampiran Contoh PTK LAINNYA

Untuk melihat secara ringkas laporan hasil penelitian saya sajikan juga dalam bentuk artikel di bawah ini. semoga bermanfaat dan tentu saya butuh masukan dan komentarnya karena apa yang saya buat ini jauh dari kata sempurna.


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TIME TOKEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DALAM MATERI CAHAYA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 6 PENYARINGAN SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh:

Susilo Fitri Yatmoko

 Abstrak

 Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil belajar siswa dalam pata pelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token. Penelitan ini dilakukan di keas V  SD Negeri 6 Penyaringan pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian ini dilatar belakangi oleh masih rendahnya hasil belajar IPA dikelas V Hal ini berdasar observasi pra siklus di ketahui nilai ulangan harian matematika pada pelajaran IPA sebelumnya nilai rata-rata kelas untuk IPA masih rendah yaitu 60.87. Nilai rata-rata ini masih dibawah kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 65. Maka dari itu perlu untuk ditingkatkan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token.

Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V  SD Negeri 6 Penyaringan, Semester genap tahun pelajran 2015/2016 yang berjumlah 23 siswa.

Objek penelitian adalah hasil belajar IPA dalam materi cahaya melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token.  Pelaksanaan Penelitian ini berlangsung dalam dua siklus selama tiga bulan. Dengan keriteria keberhasilan dalam penelitian apa bila nilai rata-rata kelas minimal 65, dan ketuntasan belajar minimal 85.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token dapat  meningkatkan hasil belajar IPA tentang Cahaya siswa kelas V SD Negeri 6 Penyaringan Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016. Kesimpulan tersebut didungkung oleh hasil belajar siswa jika dilihat dari Rerata skor hasil belajar IPA siswa dari prasiklus (sebesar 60.87) ke siklus I (sebesar 69.35), dan Siklus II (sebesar 74.13). dan ketuntasan belajar siswa meningkat berturut-turut dari pra siklus 30.43, siklus I 78.26 dan siklus II 82.61. Jika dibandingkan dengan keriteria keberhasilan pada siklus II sudah memenuhi rata-rata kelas melebihi KKM diatas 65 dan kentuntasan belajar juga lebih dari 80. Maka dapat dikatakan penelitian ini telah berhasil.

Kata kunci: model pembelajaran kooperatif tipe time token, dan hasil belajar IPA

 PENDAHULUAN
Model pembelajaran yang mampu mewujudkan tujuan pembelajaran IPA ini adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa untuk meningkatkan sikap positif dalam pembelajaran IPA. Siswa dapat bekerja sama dengan anggota kelompok untuk mempelajari materi, menyelesaikan tugas-tugas, persoalan yang disajikan oleh guru, dan memberikan penjelasan di dalam kelompok. Secara individu siswa mampu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah IPA, sehingga akan mengurangi (bahkan menghilangkan) rasa cemas terhadap IPA yang banyak dialami para siswa. Sementara secara sosial, siswa mampu meningkatkan kemampuan berkomunikasi, bertukar pikiran, ide dan gagasan dalam sebuah kelompok diskusi (Ibrahim, 2000). Selain itu hasil penelitian yang dilakukan oleh Slavin (dalam Ibrahim dkk, 2000) pada beberapa mata pelajaran, termasuk IPA, telah membuktikan bahwa siswa  yang belajar secara kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih tinggi dibandingkan siswa yang belajar secara individu. Berdasarkan hasil penelitiannya, melalui penerapan pembelajaran kooperatif tidak ditemukan pengaruh negatif pada hasil belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa, model pembelajaran kooperatif cocok diterapkan dalam pembelajaran, termasuk mata pelajaran IPA.Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaranpada siswa-siswa SD Negeri 6 Penyaringan, Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana. menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran IPA belum tercapai secara maksimal. Hal tersebut secara umum nampak dari kurangnya antusias siswa SD Negeri 6 Penyaringandalam mengikuti proses pembelajaran IPA dan rendahnya hasil belajar siswa.

Berdasarkan data yang ada, hasil belajar IPA siswa SD Negeri 6 Penyaringan tergolong rendah walaupun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan hasil belajar dalam mata pelajaran IPA, seperti melalui penyempurnaan kurikulum, mengadakan penataran bagi staf pengajar, mensuplai buku-buku yang relevan. Namun semua usaha ini belum memberikan hasil yang diharapkan. Hal ini terbukti dari perolehan hasil belajar IPA siswa kelas V, yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Menurut Nurman, Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (Nurman, 2012).

 Berpatokan pada Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) ≥ 65 pada mata pelajaran IPA, siswa kelas V pada hasil belajar pra siklus menunjukkan bahwa baru 7 siswa yang mencapai KKM di tetapkan. Hal ini menyebabkan 16 siswa perlu meningkatkan perolehan hasil belajar. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sebenarnya perlu ada upaya yang harus dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

            Berdasarkan data diatas ada beberapa faktor yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya hasil belajar IPA siswa SD adalah proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru IPA di kelas tersebut kurang optimal. Menurut Artini (2011), kurang optimalnya proses pembelajaran yang dilaksanakan bisa bersumber pada metode pembelajaran, tidak menggunakan media dalam pembelajaran, alat evaluasi yang tidak memiliki blue-print, tidak tersedia buku pelajaran yang memenuhi tuntutan kurikulum, paradigma guru yang yang menganut sistem transfer pengetahuan, tidak menganut filosofi konstruktivisme, dan guru yang sering meninggalkan kelas.

Sehubungan dengan penggunaan metode pembelajaran, seorang guru harus jeli (prigel) di dalam memilih metode pembelajaran yang akan diterapkan di kelas. Menurut Puger (2004: 14), untuk meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan strategi dan metode pembelajaran yang dapat mengembangkan penanaman konsep, penalaran, dan memotivasi kegiatan belajar siswa.Salah satu metode pembelajaran yang dapat menumbuhkan pemahaman, penalaran, dan memotivasi kegiatan belajar siswa adalah dengan menggunakan metode belajar kooperatif. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif, maka pengungkapan konsep-konsep dalam suatu bidang studi dapat diwujudkan melalui cara-cara yang rasional, komunikatif, edukatif, dan kekeluargaan.

Sesungguhnya dalam pembelajaran kooperatif banyak cara yang dapat dilakukan dalam berdiskusi. Salah satunya adalah menggunakan tipe time token. Tipe time token dapat membantu guru dalam mengelola kelompok belajar, sehingga siswa yang mendominasi percakapan dapat berbagi aktif dengan siswa yang malu bahkan tidak pernah berbicara sama sekali (Ibrahim dkk, 2000). Adapun kelebihan tipe time token adalah adanya  peluang pemeratan kesempatan bagi siswa untuk mengemukakan pendapat/gagasan/jawaban maupun pertanyaan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan kupon bicara dalam waktu ± 10-30 detik, tanpa menghalangi aktivitas maupun kreativitas siswa yang memiliki kemampuan lebih. Siswa yang memiliki kemampuan lebih dapat menyampaikan gagasan/pendapat maupun memberikan penjelasan pada teman yang kurang mengerti di tengah kelompok. Secara tidak langsung melalui tipe time token  siswa belajar untuk bisa mendengarkan dan menghormati pendapat orang lain serta bertanggung jawab pada tugas bersama. Jadi, manfaat proses pembelajaran time token adalah selain siswa berdiskusi sesamanya, siswa juga mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kelompok. Tipe pembelajaran ini diharapkan dapat membantu siswa, khususnya siswa kelas V SD Negeri 6 Penyaringanberbagi aktif serta menumbuhkan komunikasi yang efektif dan kerja sama yang baik di antara anggota kelompok.

Berdasarkan uraian di atas, sangat penting dilakukan penelitian tentang model pembelajaran kooperatif dengan tipe time token dalam proses pembelajaran IPA dengan suatu usulan tindakan yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Time Token untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA dalam Materi Cahaya pada Siswa Kelas V SD Negeri 6 Penyaringan Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016”.

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:Bagaimana model pembelajaran kooperatif tipe time token dapat meningkatkanhasil belajar IPA siswa kelas VSD Negeri 6 PenyaringanSemester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016?

Berkaitan dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikanpenerapan model Pembelajaran Kooperatif tipe  time tokendalam meningkatkan hasil belajarIPA siswa kelas VSD Negeri 6 PenyaringanSemester Genap Tahun Ajaran 2015 / 2016.

Selain memunculkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, model pembelajaran kooperatif tipe time token akan berpengaruh pada hasil belajar IPA siswa. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe time token dalam mata pelajaran IPA, ternyata lebih memberi peluang pada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar. Perhatian siswa terfokus pada kegiatan belajar, karena siswa akan mengalami sendiri kegiatan belajar. Penemuan konsep setelah melalui kegiatan diskusi yang melibatkan seluruh anggota kelompok akan membuat informasi yang diperoleh melekat kuat dalam memori pikiran mereka. Terfokusnya perhatian siswa dan melekat kuatnya informasi yang diperoleh inilah yang secara tidak langsung memberi pengaruh pada peningkatan hasil belajar IPA siswa.

Bertitik tolak dari kerangka berpikir demikian, dapat ditegaskan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token secara tepat dalam kegiatan pembelajaran IPA akan berpengaruh pada peningkatan hasil belajar IPA siswa.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.

Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas. Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.

Tempat penelitian tindakan kelas ini bertempat di SD Negeri 6 Penyaringan, yang berlokasi di daerah pegunungan, beralamat di Banjar Tibu Beleng Tengah, Desa penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembarna.

Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V (lima) SD Negeri 6 Penyaringan Tahun Pelajaran 2015/2016 Semester II. Dengan jumlah siswa 23 orang, 13 orang laki-laki dan 10 orang Perempuan.

            Objek penelitian adalah hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 6 Penyaringan Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token

          Waktu yang digunakan dalam penelitian beserta penyusunan laporan penelitian ini selama 3 bulan dari bulan April-Juni. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan sesuai dengan jadwal pelajaran IPA Kelas V yaitu pada hari senin dan selasa. Berikut ini rincian jadwal penelitiannya.

Prasiklus          : Tanggal 6-11 April 2016

Siklus I            : Pertemuan ke – 1 : Hari Selasa, tanggal 12  April 2016

  Pertemuan ke – 2 : Hari Senin, tanggal 18 April 2016

  Pertemuan Ke- 3  : Hari Selasa, tanggal 19 April 2016

Siklus II          : Pertemuan ke – 1 : Hari Senin,  tanggal 25 April 2016

  Pertemuan ke – 2 : Hari Selasa, tanggal 26 April 2016

                                      Pertemuan Ke- 3  : Hari Senin, tanggal 2 Mei 2016



Untuk menganalisis data yang diperoleh maka digunakan teknik analisis data deskriptif komparatif yang digunakan untuk menganalisis data hasil belajar siswa. Dalam analisis dicari nilai rata-rata kelas, daya serap, dan ketuntasan belajar siswa berdasarkan hasil yang diperoleh siswa dalam setiap siklus. Adapun teknik analisi data tersebut adalah sebagi berikut


            Kriteria keberhasilan penelitian tindakan ini didasarkan pada pedoman kriteria / Indikator keberhasilan prestasi belajar siswa, yaitu apa bila nilai rata-rata kelas (M) minimal 65, dan ketuntasan belajar (KB) minimal 80.



HASIL PENELITIAN

Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada bulan April2016 sampai dengan bulan Mei 2016 pada siswa kelas V semester genap SD Negeri 6 Penyaringan tahun pelajaran 2015/2016 untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token.

            Pembahasan difokuskan pada variabel yang diteliti yaitu hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA setelah penerapan model pmbelajaran kooperatif tipe time token.Hasil analisis data menunjukkan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe time token  dapat meningkatkan hasil belajar IPAsiswa.

            Temuan dalam penelitian ini adalah rerata skor hasil belajarIPA siswa dari prasiklus (sebesar 60.87) ke siklus I (sebesar 69.35), dan ke siklus II (sebesar 74.13),. Dan ketuntasan belajar siswa juga mengalami peningkatan dari prasiklus (sebesar 30.43), siklus I (sebesar 78.26) dan siklus II (sebesar 82.61), ternyata terjadi peningkatan yang signifikan. Untuk lebih jelasnya peneliti sajikan kedalam bentuk tabel dan diagram batang di bawah ini.

Adanya peningkatan rata-rata, daya serap, dan ketuntasan hasil belajar pada pra siklus dan tes akhir baik itu pada siklus I maupun siklus II juga dapat diamati pada grafik histogram berikut ini.

Grafik 4.1. Peningkatan daya serap dan ketuntasan belajar pra siklus dengan tes akhir pada siklus I – II


Dari hasil penelitian ini diketahui beberapa temuan penting, diantaranya: (1) meningkatnya antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA, (2) meningkatnya hasil belajar IPA siswa, dan (3) terjadinya komunikasi yang multi arah, yakni antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa lainnya dalam satu kelompok, dan antara siswa dengan siswa lainnya dalam kelompok yang berbeda dalam proses pembelajaran dan (4) timbulnya pemerataan kesempatan bagi siswa dalam berbicara.

Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa penerapan model pembelajaran koopertif tipe time token dalam pembelajaran IPA memberikan suasana baru dalam kegiatan belajar, kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan, siswa menjadi lebih antusias dalam mengikuti kegiatan belajar IPA, siswa lebih terpacu dalam menyampaikan jawaban/pendapat/ pertanyaan, pelaksanaan diskusi menjadi lebih terarah dan kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan, menyampaikan ide/pendapat/gagasan maupun dalam menanggapi jawaban dari teman menjadi lebih merata, dan dapat menumbuhkan sikap menghargai pendapat orang lain, seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Model pembelajaran kooperatif tipe time token  terbukti menjamin keterlibatan semua siswa. Meski telah terbukti mampu mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan dalam penelitian, namun demikian dalam pelaksanaannya masih ditemukan beberapa kendala sebagai berikut: (1) tingkat pengetahuan siswa berbeda, dan (2) waktu pembelajaran IPA yang relatif singkat (2x 35 menit).  Waktu yang singkat ini membuat peneliti tidak bisa menerapkan pembelajaran model pembelajaran yang dilakukan secara maksimal.

Hasil penelitian terkait hasil belajar mendukung hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitriyastutik, Heni (2012). Hasil penelitian yang berjudul:  upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan metode time token pada mata pelajaran IPA pada kelas IV SD Negeri 02 Pule Kecamatan Jatisrono Kabupaten Wonogiri tahun ajaran 2011/2012 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar IPA siswa pada pokok bahasan bangun ruang kubus dan balok.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar IPA khususnya pokok bahasan Bangun Ruang Kubus dan Balok setelah diterapkan strategi time token dari 38,09 % pada pra siklus; 47, 6 % pada siklus I pertemuan 1; 52,28 % pada siklus I pertemuan 2; 71,42 % pada siklus II; dan 85,71% pada siklus III.  Penelitian lain yang juga sejalan dengan penelitian ini adalah   peneitian Haikal Nurseha yang berjudul: Penerapan model pembelajaran kooperatif time token untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu Kelas VII-SMP N 1 Kuta Baroe. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan menggunakan strategi time token dapat meningkatkan hasil belajar siswa, tidak hanya dalam mata pelajaran IPA melainkan dapat diterapkan pada mata pelajaran selain IPA.

PENUTUP

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dan hasil yang diperoleh setelah pelaksanaan penelitian, diperoleh simpulan sebagai berikut.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time token dapat  meningkatkan hasil belajar IPA tentang Cahaya siswa kelas V SD Negeri 6 Penyaringan Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016. Kesimpulan tersebut didungkung oleh hasil belajar siswa jika dilihat dari Rerata skor hasil belajar IPA siswa dari prasiklus (sebesar 60.87) ke siklus I (sebesar 69.35), dan Siklus II (sebesar 74.13). dan ketuntasan belajar siswa meningkat berturut-turut dari pra siklus 30.43, siklus I 78.26 dan siklus II 82.61. Jika dibandingkan dengan keriteria keberhasilan pada siklus II sudah memenuhi rata-rata kelas melebihi KKM diatas 65 dan kentuntasan belajar juga lebih dari 80. Maka dapat dikatakan penelitian ini telah berhasil.

5 komentar:

Contoh Laporan Hasil Penelitan Tindakan Kelas Lengkap | Pegawai Negeri said...

[…] Contoh Laporan Penbelitian Tindakan Kelas Laporan penelitian tindakan kelas saya susun sebagi bukti telah Melaksanakan Publikasi Ilmiah dalam bentuk karya tulis berupa laporan hasil penelitan pada bidang pendidikan di sekolah, diseminarkan dan disimpan di perpustakaan. Sehinga dapat dihitung angka kereditnya sebagai salah satu syarat untuk mengusulkan naik pangkat. Berikut ini saya bagikan file lengkapnya laporan […] susilofy.com […]

krisdiawan007@gmail.com said...

terima kasih atas refrensinya dalam penyusunan PTK yang baik dan benar semua ini sangat membantu saya mas... mudah2n menajdi amal ibahdahnya sampean mas.... salam kenal

susilofy said...

Trimakasi .... salam kenal jg... semoga bermanfaat

SUTARTI SUDIRGO said...

terima kasih mas susilo atas referensi penyusunan PTKnya ini betul2 sangat membantu saya karena saya sedang butuh contoh cara menyusun laporan PTK. salam kenal

susilofy said...

trimakasi semoga bermanfaat salam kenal jg

Post a Comment