MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR  PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA  MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL  (CONTEXTUAL TEACHING LEARNING (CTL)) , 

Contoh PTK Lengkap

File Bisa Di download di bagian Akhir Postingan



xssBAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bahasa memiliki peran penting dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dalam mempelajari semua bidang studi (BSNP, 2006). Untuk berbahasa dengan baik dan benar, maka diperlukan pendidikan dan pembelajaran bahasa Indonesia. Pendidikan dan pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada siswa di sekolah. Oleh karena itu pemerintah membuat kurikulum bahasa Indonesia yang wajib untuk diajarkan kepada siswa pada setiap jenjang pendidikan, yakni dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT).
Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan suatu tantangan tersendiri bagi seorang guru, mengingat bahasa ini merupakan bahasa pengantar yang dipakai untuk menyampaikan materi pelajaran. Pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi membantu peserta didik untuk mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif (Depdiknas, 2006).
Sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada saat ini, mata pelajaran bahasa Indonesia sering diremehkan oleh sebagian besar siswa, bahkan dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan, khususnya dalam aspek menulis. Menurut Johana Pantow dkk (2002) yang tersedia dalam situs http://digilib.itb.ac.id yang diakses pada tanggal 26 Januari 2008, menyatakan bahwa dalam dunia pendidikan, menulis merupakan suatu tuntutan keterampilan yang harus dikuasai oleh manusia sebagai bahasa tulis. Oleh karena itu, sejak dini pengajaran bahasa selalu harus didasarkan pada keterampilan bahasa dan salah satunya adalah menulis.
Di SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan kesulitan siswa dalam menulis biasanya terlihat ketika siswa diminta untuk menulis sebuah karangan sederhana, mendeskripsikan suatu benda ataupun ketika menulis puisi, mereka sering mengeluh dan terlihat bingung dengan apa yang ingin mereka tulis. Kebosanan, kejenuhan, serta kebingungan siswa dalam hal menulis yang mengakibatkan rendahnya prestasi belajar siswa dalam pembelajaran menulis dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
1.      Kurangnya minat siswa terhadap kegiatan menulis.
2.      Kurangnya motivasi siswa, baik dari dalam diri mereka maupun dari lingkungan belajar.
3.      Pengembangan strategi pembelajaran yang kurang membangkitkan daya imajinasi siswa dan kreativitas siswa dalam berbahasa maupun bersastra.
4.      Media yang digunakan dalam pembelajaran yang kurang sesuai sehingga siswa kurang bersemangat dalam belajar.
Masalah yang terjadi pada siswa kelas II SDN 02 Pedawang Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan adalah kurangnya pemahaman siswa terhadap cara mendeskripsikan suatu benda. Hal itu dapat diketahui dari hasil tes pada mata pelajaran Bahasa Indonesia aspek menulis pada tanggal 15 Januari 2008, dengan tujuan pembelajaran mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis yang dilaksanakan pada siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan, yang dirasakan masih kurang. Dari tes tersebut diperoleh hasil tulisan siswa belum sempurna, karena penggunaan katanya belum tepat dan kalimatnya cenderung diulang-ulang sehingga tidak mudah untuk dipahami. Perolehan nilai rata-rata kelas yang seharusnya mencapai nilai di atas nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan mata pelajaran Bahasa  Indonesia aspek menulis, yakni 70 dan pada kenyataannya hanya mencapai angka 65, sehingga hanya 27% siswa yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) bahasa Indonesia dalam aspek menulis untuk kelas II semester II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan. Dengan adanya permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka guru harus mengambil tindakan, yakni dengan mencari dan menggunakan suatu pendekatan atau model pembelajaran yang efektif, inovatif, dan berpotensi memperbaiki pembelajaran menulis, sehingga meningkatkan minat, motivasi, dan sikap siswa terhadap pembelajaran menulis yang berakibat pada meningkatnya prestasi belajar siswa. Untuk itulah guru (peneliti) merancang suatu bentuk pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan melalui pendekatan kontekstual dengan media gambar sebagai media alternatif untuk memperbaiki pembelajaran menulis.
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata  siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Dikdasmen Diknas, 2002:1). Media gambar dimaksudkan untuk memudahkan siswa dalam mendeskripsikan seekor binatang dengan bahasa tulis. Media gambar digunakan dalam penelitian ini karena pola berpikir siswa kelas II yang masih memerlukan media pembelajaran yang konkrit. Dengan kedua hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas II SDN 02 Pedawang Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan dalam mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraiakn di atas, maka penelitian ini akan berfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan upaya medayagunakan media gambar binatang sebagai sarana pembelajaran berbasis kontekstual sehingga dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan dalam mendeskripsi secara tertulis.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah pokok dalam penelitian ini adalah :
a.       Apakah pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan cara me-manfaatkan media gambar binatang dapat meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis siswa kelas II SDN 02 Pedawang  Karanganyar Kabupaten Pekalongan?
b.      Apakah melalui pendekatan kontekstual dengan memanfaatkan media gambar binatang dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan dalam pembelajaran?
c.       Bagaimana keterampilan guru menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran?

C.    Tujuan Penelitian
            Sejalan dengan fokus penelitian di atas yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah dapat dirumuskan tujuan sebagai berikut:
a.       Mengetahui peningkatkan keterampilan siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan melalui pendekatan kontekstual dengan memanfaatkan media gambar binatang dalam mendeskripsi secara secara tertulis.
b.      Mengetahui peningkatkan aktivitas siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan dalam pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan mendayagunakan media gambar binatang.
c.       Mendeskripsi keterampilan guru dalam menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dalam pembelajaran.



D.    Manfaat Penelitian
            Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a.      Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat meningkatkan dan memperbaiki mutu pembelajaran menulis dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas II semester II dengan me-manfaatkan media gambar binatang melalui pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
b.      Manfaat Praktis
1)      Bagi Siswa
Penelitan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman bagi siswa dalam pembelajaran, sehingga siswa lebih termotivasi dalam      belajar bahasa Indonesia, khususnya dalam aspek menulis. Dengan demikian, siswa dapat menyukai kegiatan menulis dan dapat mengembangkan kreativitas siswa dalam menuangkan berbagai          ide, gagasan, serta pengalamannya dalam sebuah tulisan imajinatif   yang dapat dinikmati oleh orang lain.
2)      Bagi Guru
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi guru, yakni dapat memberikan pengalaman dan wawasan bagi guru bahwa dalam membelajarkan bahasa Indonesia pada aspek menulis, khususnya bagi siswa kelas rendah yang membutuhkan suatu pendekatan dalam pembelajaran sehingga dapat memberikan rasa nyaman dan rasa senang pada siswa pada saat pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat termotivasi dalam belajar dan akan berakibat pada pencapaian prestasi belajar yang maksimal dan sesuai dengan harapan.
3)      Bagi Sekolah
      Penelitian tindakan ini dilakukan sebagai tolok ukur dalam peningkatan dan perbaikan mutu pembelajaran menulis di sekolah.

E.     Batasan atau Penegasan Istilah
               Untuk menghindari terjadinya penafsiran istilah dalam memahami inti masalah dalam penelitian ini, ditegaskan dari beberapa istilah yang digunakan. Adapun istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:
a.             Penerapan ialah proses atau cara untuk menerapkan dan mempraktikkan suatu teori dalam bentuk perbuatan.
b.            Pendekatan  Kontekstual ialah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Dikdasmen Diknas, 2002:1).
c.             Peningkatan ialah proses upaya-upaya kegiatan yang dilakukan supaya    terjadi suatu perubahan kearah yang lebih baik dan atau bartambahnya    sesuatu perubahan dari segi jumlah/kuantitas (Suseno Edy, 2003:5).
d.            Keterampilan ialah kecakapan atau kemampuan untuk melakukan            suatu tugas pada siswa.
e.             Mendeskripsi ialah memaparkan atau menggambarkan dengan kata-        kata secara jelas dan terperinci (KBBI : 258).
f.              Media gambar ialah media dalam bentuk gambar yang membantu guru    dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga lebih mudah diterima oleh siswa.
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Teori Belajar
Belajar secara umum adalah terjadinya perubahan pada diri orang belajar karena pengalaman (Prof. Dr. Max Darsono, dkk, 2000:4). Sedangkan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (Prof. Dr. Max Darsono, dkk, 2000:24).
Nina Wiyana (2007) dalam http://www.duniaguru.com, menyampaikan tentang teori Gestalt yang mengungkapkan bahwa belajar adalah perubahan perilaku individu yang terjadi melalui pengalaman. Pembelajaran menurut Gestalt adalah usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna).
Proses pembelajaran dipengaruhi oleh pemahaman guru terhadap aliran atau teori belajar. M. Saekhan Muchith (2008), dalam Pembelajaran Kontekstual mengatakan bahwa ada beberapa jenis aliran atau paham yang dapat dijadikan inspirasi untuk melakukan proses pembelajaran, yakni :
1.      Teori belajar Behavioristik
               Keberhasilan belajar menurut teori behavioristik ditentukan oleh adanya interaksi antara stimulus dan respon yang diterima oleh manusia. Mengajar atau mendidik perlu dilakukan dengan cara memperbanyak stimulus dan respon yang diberikan kepada siswa.  Salah satu indikasi keberhsilan belajar menurut teori ini adalah adanya perubahan tingkah laku yang nyata dalam kehidupan masyarakat (M.    Saekhan Muchith (2008: 56).
               M.  Saekhan Muchith (2008: 57), dalam Pembelajaran Kontekstual mengungkapkan bahwa tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada proses memperluas dan penambahan pengetahuan siswa, sedangkan proses belajar sebagai “mimetic”, yang menuntut siswa agar memiliki kemampuan mengungkapkan kembali pengetahuan dan pemahaman yang sudah dipelajari baik dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang, yang diperoleh melalui berbagai cara dalam pembelajaran.
2.      Teori belajar Kognitif
               Pada hakekatnya teori kognitif adalah sebuah teori pembelajaran yang cenderung melakukan praktek yang mengarah pada kualitas intelektual peserta didik (M. Saekhan Muchith, 2008: 69).
               M. Saekhan Muchith (2008), dalam Pembelajaran Kontekstual juga mengungkapkan bahwa konsekuensi proses pembelajaran harus lebih memberi ruang yang luas agar siswa mengembangkan kualitas intelektualnya. Secara umum proses pembelajaran harus didasarkan atas asumsi umum
a).    Proses pembelajaran adalah suatu realitas sistem. Artinya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh satu aspek/faktor saja, tetapi lebih ditentukan secara simultan dan komprehensif dari berbagai faktor yang ada.
b).    Proses pembelajaran adalah realitas kultural/natural. Artinya dalam proses pembelajaran tidak diperlukan adanya berbagai paksaan dengan dalil membentuk kedisiplinan.
c).    Pengembangan materi harus benar-benar dilakukan secara kontekstual dan relevan dengan realitas kehidupan peserta didik.
d).    Metode pembelajaran tidak dilakukan secara monoton, metode yang bervariasi merupakan tuntutan mutlak dalam proses pembelajaran.
e).    Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, sehingga proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
f).     Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada menghafal.
g).    Pembelajaran harus memperhatikan perbedaan individual siswa, karena sangat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar.
3.      Teori belajar Humanistik
               Pada hakekatnya teori humanistik lebih menekankan pada proses untuk memanusiakan manusia atau peserta didik, yaitu suatu pemahaman atau kesadaran untuk memahami potensi, perbedaan, kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh setiap peserta didik  (M. Saekhan, 2008: 94).
4.      Teori belajar Konstrktivisme
               M. Saekhan Muchith (2008), dalam buku Pembelajaran Kontekstual bahwa pembelajaran harus mampu memberikan pengalaman nyata bagi siswa, sehingga model pembelajarannya dilakukan secara natural. Penekanan teori konstruktivisme bukan pada membangun kulaitas kognitif, tetapi lebih pada proses untuk menemukan teori yang dibangun dari realitas lapangan.
               M. Saekhan Muchith juga mengatakan belajar bukanlah proses teknologi (robot) bagi siswa, melainkan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Sehingga proses pembelajaran tidak hanya menyampaikan materi yang bersifat normatif (tekstual) tetapi juga menyampaikan materi yang bersifat kontekstual.
5.      Aliran Filsafat Pendidikan Pragmatisme
                     Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli, namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang ber-pendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami (Uyoh Sadulloh, 2003:118). Tokoh sentral dalam filsisafat ini adalah John Dewey (1859-1952).
                     Dewey mengatakan dalam Pengantar Filsafat Pendidikan (Uyoh Sadulloh, 2003:122) bahwa pengalaman merupakan suatu interaksi antara lingkungan dengan organisme biologis. Selain itu Dewey juga menegaskan bahwa berpikir, khususnya berpikir ilmiah merupakan alat untuk memecahkan masalah.
                     Implikasi filsafat pendidikan pragmatisme yang dikemukakan oleh Power (1982) dalam Pengantar Filsafat Pendidikan (Uyoh Sadulloh, 2003:133) terhadap pelaksanaan pendidikan sebagai berikut:
1)      Tujuan Pendidikan
      Memberi pengalaman untuk penemuan hal-hal baru dalam hidup sosial dan pribadi.
2)      Kedudukan siswa
      Suatu organisme yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan kompleks untuk tumbuh.
3)      Kurikulum
      Berisi pengalaman yang teruji yang dapat diubah. Minat dan kebutuhan siswa yang dibawa ke sekolah dapat menentukan kurikulum. Menghilangkan perbedaan antara pendidikan liberal dengan pendidikan praktis atau pendidikan jabatan.
4)      Metode
      Metode aktif, yaitu learning by doing (belajar sambil bekerja)
5)      Peran guru
      Mengawasi dan membimbing pengalaman belajar siswa, tanpa menganggu minat dan kebutuhannya.


6.      Aliran Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
                     Filsafat eksistensialisme merupakan filsafat memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subjektivitas pengalaman manusia, dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas (Uyoh Sadulloh, 2003:133).
                     Impilikasi filsafat pendidikan eksistensialisme yang dikemukakan oleh Power (1982) dalam Pengantar Filsafat Pendidikan (Uyoh Sadulloh, 2003:140) sebagai berikut:
1)      Tujuan Pendidikan
      Memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehdupan.
2)      Status siswa
      Makhluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atas pilihannya. Suatu komitmen terhadap pemenuhan kebutuhan pribadi.
3)      Kurikulum
      Yang diutamakan adalah kurikulum liberal. Kurikulum liberal merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Oleh karena itu, di sekolah diajarkan pendidikan sosial untuk mengajar “respek” (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua.


4)      Peranan guru
      Melindungi dan memelihara kebabasan akademik, di mana mungkin pada hari ini, besok atau lusa menjadi siswa.
5)      Metode
      Tidak ada pemikiran yang mendalam tentang metode, tetapi metode apapun yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan dari karakter yang baik.

B.     Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata  siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Dikdasmen Diknas, 2002:1).
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari suatu permasalahan ke permasalahan lain, dari suatu konteks ke konteks lain. Pengalaman awal siswa merupakan material yang sangat berharga. Pengalaman awal ini dapat tumbuh dan berkembang dari lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar. Dengan layanan guru yang memadai melalui berbagai bentuk penugasan, siswa belajar bekerja sama untuk menyelesaikan masalah (problem-based learning) dan saling menghargai sehingga hubungan antarsiswa akan lebih harmonis. Siswa yang merasa "kurang" dapat belajar bersama-sama siswa yang pandai mengerjakan dan mempertanggung-jawabkan proyek yang ditugaskan (Zaenuri Mastur, 2004) dalam http://www.suaramerdeka.com.
John Dewey dalam Pengantar Filsafat Pendidikan (Uyoh Sadulloh, 2003: 122) mengatakan bahwa pengalaman merupakan suatu interaksi antara lingkungan dengan organisme bioligis. Pengalaman manusia membentuk aktivitas untuk memperoleh pengetahuan. Kegiatan berpikir timbul disebabkan karena adanya gangguan terhadap situasi (pengalaman) yang menimbulkan masalah bagi manusia. Untuk memecahkan masalah tersebut disusun hipotesis sebagai bimbingan bagi tindakan berikutnya. Dalam hal ini Dewey juga menegaskan bahwa berpikir, khususnya berpikir ilmiah merupakan alat untuk memecahkan masalah.
Dr. Zolazlan Hamidi (2001) dalam http://www.tutor.com.my, mengatakan bahwa kaidah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah proses pembelajaran yang merangkumkan contoh yang diterbitkan daripada pengalaman harian dalam kehidupan pribadi masyarakat serta profesi dan menyajikan aplikasi hands-on yang konkrit (nyata) tentang bahan yang akan dipelajari.
Dikdasmen Diknas (2002:10-19), menyebutkan bahwa ada 7 (tujuh) unsur yang harus ada dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :
1)            Constructivisme, artinya bahwa dalam pembelajaran kontekstual harus dapat membangun dan membentuk konsep atau pengetahuan baru.
2)            Inquiry, artinya bahwa dalam pembelajaran kontekstual harus ada penemuan suatu konsep atau pengetahuan baru dari proses yang dilakukan sendiri oleh siswa.
3)            Questioning, dalam pembelajaran harus muncul banyak pertanyaan untuk menggiring siswa dalam menentukan konsep baru.
4)            Modeling, dalam pembelajaran kontekstual harus ada contoh atau model yang dijadikan media dalam pembelajaran tersebut, khususnya bidang keterampilan.
5)            Community Learning, dalam pembelajaran kontekstual harus dapat diciptakan masyarakat belajar. Dalam hal ini siswa belajar dalam bentuk kelompok untuk melakukan kerja sama.
6)            Reflection, artinya bahwa konsep pengetahuan yang telah ditemukan dapat direfleksikan agar memiliki makna dalam kehidupan siswa.
7)            Authentic Assessment, pembelajaran kontekstual harus dinilai berdasarkan kenyataan yang ada (proses dan hasil) melalui berbagai macam alat dan jenis penilaian.
Elaine B. Johnson, Ph.D, dalam Contextual Teaching & Learning (2008: 88) bahwa pembelajaran kontekstual membantu para siswa menemukan makna dalam pembelajaran mereka dengan cara menghubungkan materi akademik dengan konteks kehidupan keseharian mereka. Mereka membuat hubungan-hubungan penting yang menghasilkan makna dengan melaksanakan pembelajaran yang diatur sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, menghargai orang lain, mencapai standar tinggi, dan berperan serta dalam tugas-tugas penilaian autentik.
Dalam pendekatan pembelajaran berbasis kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan pada siswa untuk belajar mandiri dengan cara bekerja sama. Keuntungan bekerja sama dalam kelompok kecil pada saat pembelajaran, yakni kerja sama dapat menghilangkan hambatan mental akibat terbatasnya pengalaman dan cara pandang yang sempit. Jadi akan lebih mungkin untuk menemukan kekuatan dan kelemahan diri, belajar untuk menghargai pendapat orang lain, mendengar dengan pikiran terbuka, dan membangun persetujuan bersama. Dengan bekerja sama, para anggota kelompok kecil akan mampu mengatasi berbagai rintangan, bertindak mandiri dan dengan penuh tanggung jawab mengandalkan bakat setiap anggota kelompoknya, mempercayai orang lain, mengeluarkan pendapat, dan mengambil keputusan (Elaine B. Johnson, 2008: 164).
Pembelajaran berbasis kontekstual juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis dan bertindak kreatif (Elaine B. Johnson, 2008: 223). Dalam hal ini guru memberikan dorongan kepada siswa untuk berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi sesuai kemampuannya. Dengan demikian memunculkan pemikiran baru yang pada akhirnya akan memunculkan penemuan-penemuan yang menakjubkan.
C.    Pembelajaran Bahasa Indonesia
Menurut M. Ngalim Purwanto (1997:4) bahasa memungkinkan manusia untuk saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari orang lain, memahami orang lain, menyatakan diri, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, mempertinggi kemampuan berbahasa, dan menumbuhkan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia.
Achmad Alfianto (2006) yang tersedia dalam http://re-researcengines.com, menyebutkan bahwa pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Indonesia diibaratkan seperti ulat yang hendak bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.
M. Ngalim Purwanto (1997:4) juga menyebutkan ruang lingkup pembelajaran bahasa Indonesia meliputi :
1.      penguasaan bahasa Indonesia;
2.      kemampuan memahami;
3.      keterampilan berbahasa/menggunakan bahasa untuk segala macam keperluan;
4.      apresiasi sastra.
Menurut M. Ngalim Purwanto (1997:5) pembelajaran bahasa Indonesia memiliki tujuan, antara lain :
1)      Tujuan umum
a.       Siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara.
b.      Siswa memahami bahasa dari segi bentuk, makna, dan fungsi, untuk bermacam tujuan/keperluan dan keadaan.
c.       Siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual (berpikir kreatif, menggunakan akal sehat, menerapkan pengetahuan yang berguna; memecahkan masalah, kematangan emosional, dan sosial).
d.      Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluan wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
2)      Tujuan khusus
a.       Tujuan khusus dalam lingkup kebahasaan
1.      Siswa memahami cara penulisan kata-kata berimbuhan, kata ulang, dan tanda baca dalam kalimat.
2.      Siswa memahami bentuk dan makna imbuhan.
3.      Siswa memahami ciri-ciri kalimat berita dan kalimat perintah.
4.      Siswa memahami ucapan kalimat langsung dan tidak langsung.
5.      Siswa memahami dan dapat mengaplikasikan makna kata umum dan kata khusus.
6.      Siswa memahami dan dapat menggunakan makna ungkapan dan peribahasa.
7.      Siswa memahami perbedaan dan dapat menggunakan sinonim dan antonim.
8.      Siswa mampu membedakan bentuk puisi, prosa, dan drama secara sederhana dan dapat menikmatinya.



b.      Tujuan khusus dalam lingkup pemahaman bahasa
1.      Siswa mampu memperoleh informasi dan memberi tanggapan dengan tepat dalam berbagai hal kegiatan (mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, dan menulis).
2.      Siswa mampu menyerap pengungkapan perasaan orang lain secara lisan dan memberi tanggapan yang cepat dan tepat.
3.      Siswa mampu menyerap pesan, gagasan, dan pendapat orang lain dari berbagai sumber, baik tertulis maupun lisan.
4.      Siswa memperoleh kenikmatan dan manfaat dari mendengarkan.
5.      Memahami dan dapat mengevaluasi isi bacaan dengan tepat.
6.      Siswa mampu mencari sumber, mengumpulkkan, dan menyerap informasi yang diperlukannya.
7.      Siswa mampu menyerap isi dan pengungkapan perasaan melalui bacaan dan menanggapinya secara tepat.
8.      Siswa memiliki kegemaran membaca untuk meningkatkan pengetahuan dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari dan membaca karya-karya sastra.
c.       Tujuan khusus dalam lingkup penggunaan
1.      Siswa mampu memberikan berbagai informasi secara lisan.
2.      Siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, pengalaman dan pesan secara lisan.
3.      Siswa mampu mnegungkapkan perasaan secara lisan.
4.      Siswa mampu berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang lain secara lisan.
5.      Siswa memiliki kepuasan dan kesenangan berbicara.
6.      Siswa mampu menuangkan pengalaman dan gagasannya secara tertulis dengan jelas.
7.      Siswa mampu mengungkapkan perasaan secara tertulis dengan jelas.
8.      Siswa mampu menuliskan informasi sesuai dengan konteks keadaan.

D.    Menulis
Menulis merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam seluruh proses belajar yang dialami siswa selama menuntut ilmu di sekolah. Menulis merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara (Wikipedia Indonesia, 2006) yang tersedia dalam http://id.wikipedia.org. Menulis memerlukan keterampilan karena diperlukan latihan-latihan yang berkelanjutan dan terus-menerus (Dawson, dkk, dalam Nurchasanah 1997:68). Secara garis besar, menulis adalah bentuk dari komunikasi yang membutuhkan keterampilan agar menghasilkn tulisan yang baik.
Menurut Johana Pantow, dkk (2002) yang tersedia dalam http://digilib.itb.ac.id mengatakan bahwa menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh orang yang menggunakan bahasa atau yang mempelajari suatu bahasa. Dengan menulis seorang anak dapat membenamkan diri ke dalam proses kreatif, yakni anak dapat menciptakan sesuatu yang juga berarti melontarkan pertanyaan-pertanyaan, mengalami keraguan dan kebingungan , sampai akhirnya menemukan pe-mecahan (Puji Arya Yanti, 2007) yang tersedia dalam http://www.sabda.org.
Tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran menulis adalah agar siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, pengetahuan secara tertulis serta memiliki kegamaran menulis (Depdikbud, 1997).
Puji Arya Yanti (2007) http://www.sabda.org, menyebutkan bahwa dengan kegiatan menulis anak dapat memperoleh manfaat, antara lain :
1)      Anak dapat menyatakan perasaannya tentang apa yang dialami dalam bentuk tulisan.
2)      Anak dapat menyatukan pikiran ketika menuangkan ide dengan kata-kata.
3)      Anak dapat menunjukkn kasih kepada sesama, misalnya dengan menulis surat ucapan terimakasih atau ulang tahun kepada orang tua, teman, bahkan guru.
4)      Anak dapat meningkatkan daya ingat dengan cara membuat dan menulis informasi tentang sesuatu.

E.     Menulis Deskripsi
Menulis deskripsi dapat dilakukan dengan cara menuliskan kalimat-kalimat deskripsi dari gambar-gambar yang mereka miliki. Kegiatan menulis deskripsi ini dapat merangsang anak untuk mengungkapkan suatu bentuk/benda yang dipahami anak melalui tulisan (Puji Arya yanti, 2007) http://www.sabda.org.
Anak-anak dapat diminta untuk menulis kalimat-kalimat deskripsi dari gambar-gambar (sesuai dengan materi pelajaran yang disampaikan) yang dipasang di kelas. Untuk me-review, anak-anak dapat diminta untuk memasangkan kalimat-kalimat itu sesuai dengan gambar-gambar tersebut. Sebagai kreasi dalam pelajaran, anak-anak dapat menulis deskripsi tentang binatang-binatang dan memasangkannya dengan foto binatang yang tersedia (PEPAK SABDA, 2002) yang teredia dalam http://pepak.sabda.org.

F.     Media Gambar
Purwanti dan Eldarni (2004: 4) dalam Wijaya Kusumah (2007) yang tersedia dalam http://wijayalabs.blogspot.com, mengungkapkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim pesan ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses pembelajaran.
Penggolongan media pembelajaran menurut Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Rohani (1997:16) dalam Wijaya Kusumah (2007) yang tersedia dalam http://wijayalabs.blogspot.com, yaitu:
1)      Gambar diam, baik dalam teks, bulletin, papan display, slide, film strip, atau overhead proyector.
2)      Gambar gerak, baik hitam putih maupun berwana, baik bersuara maupun yang tidak bersuara.
3)      Rekaman bersuara baik dalam kaset maupun dalam piringan hitam.
4)      Televisi.
5)      Benda-benda hidup simulasi maupun model.
6)      Instrisional berprogram ataupun CAI (Computer Assisten Instruction).
D. Syahrudin (2007) dalam penelitiannya yang tersedia pada http://ind.sps.upi.edu mengungkapkan bahwa :
a.   Media gambar dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan.
b.   Penggunaan media gambar dalam pembelajaran lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkembangkan motivasi belajar, dan dapat mengatasi keterbatasan pengalaman siswa dalam berimajinasi dan berekespresi.
c.   Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan media gambar adalah keterbatasan waktu, karena pada umumnya guru Sekolah Dasar mengajarkan beberapa bidang studi dalam satu kelas.

g.      Hasil Penelitian Terdahulu
D. Syarifudin (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “Penggunaan Media Gambar untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Prosa”  yang tersedia dalam http://ind.sps.upi.edu mengungkapkan tentang keberhasilan media gambar dalam meningkatkan keterampilan menulis, sebagai berikut:
a.   Media gambar dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan di Sekolah Dasar.
b.   Penggunaan media gambar dalam pembelajaran lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkembangkan motivasi belajar, dan dapat mengatasi keterbatasan pengalaman siswa dalam berimajinasi dan berekespresi.
c.   Kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan media gambar adalah keterbatasan waktu, karena pada umumnya guru Sekolah Dasar mengajarkan beberapa bidang studi dalam satu kelas.
Dalam http://flahchintya23.wordpress.com yang diakses 10 Maret 2008, menyatakan bahwa untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis deskripsi dapat dilakukan dengan menggunakan strategi menulis terbimbing. Strategi tersebut menekankan pada aktivitas pembelajaran menulis secara berkolaborasi atau kerja sama di mana semua siswa mendapat bagian (Farris, 1993). Penelitian Jubaidah (2004) menemukan fakta bahwa dengan strategi kelompok dinyatakan dapat meningkatkan keterampilan menulis deskripsi.
Sri Purwaningtyas (2007) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Pendekatan Kontekstual (CTL) Terhadap Keterampilan Menulis Deskripsi” yang tersedia dalam http://pasca.uns.ac.id,  mengungkapkan tentang keberhasilan penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran. Dalam penelitian tersebut dinyatakan bahwa pembelajaran menulis deskripsi dengan pendekatan kontekstual menghasilkan keterampilan menulis deskripsi siswa yang lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran menulis deskripsi dengan pendekatan konvensional.


















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Rancangan Penelitian
                           Penelitian tindakan kelas adalah jenis penelitian yang mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran di kelas dengan melihat berbagai indikator keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa (Suseno Edy, 2003: 61). Dalam penelitian tindakan kelas guru dapat meneliti sendiri atau dengan cara berkolaborasi dengan teman sejawat terhadap praktik pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Dengan penelitian tindakan kelas peneliti atau guru dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari aspek interaksinya terhadap proses atau produk pembelajaran secara reflektif di kelas. Jadi dengan melakukan penelitian tindakan kelas guru dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran menjadi lebih efektif.
                        Penelitian tindakan kelas ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena peneliti akan mengefektifkan pembelajaran mendeskripsi secara tertulis serta mengungkap kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan tugas mendeskripsi secara tertulis. Penelitian ini memiliki karakteristik sebagai berikut : (1) latar alamiah untuk mengungkap hubungan alami antara peneliti dengan subyek penelitian, (2) peneliti sebagai instrument utama karena peneliti berperan sebagai perencana tindakan, pengumpul data, penganalisa data, dan pengamat, (3) hasil penelitian bersifat deskriptif, (4) analisis data dilakukan secara induktif, (5) kebermaknaan data menurut tafsiran peneliti.
                        Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan analisis kualitatif yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan. Proses pelaksanaannya bersifat kolaboratif dengan tim yaitu guru kelas IV dan guru kelas I. adapun langkah-langkah penelitian ini mengikuti prinsip-prinsip dasar dalam penelitian tindakan seperti yang digambarkan oleh Kurt Lewin (dalam Zainal Aqib, 2006:22) sebagai langkah spiral atau daur ulang perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan refleksi yang mungkin diikuti dengan perencanaan tindakan berikutnya.
                        Dalam penelitian ini peneliti (guru) melaksanakan tindakan hingga tiga siklus. Adapun langkah-langkah dari tiap siklusnya adalah sebagai berikut:
1.      Siklus I
                  Tindakan pada siklus I dilakukan melalui pendekatan kontekstual dengan memanfaatkan media gambar binatang sebagai media pembelajaran.
a.             Perencanaan Tindakan I
         Tujuan pembelajaran adalah:
1)            Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan seekor binatang
2)            Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan binatang secara tertulis
3)            Siswa diharapkan dapat menuliskan deskripsinya terhadap seekor binatang dengan kalimat yang tepat dalam penggunaan katanya.
Guru sebagai peneliti menyusun:
                                                      a)            Rencana Pembelajaran
                                                      b)            Media gambar binatang
                                                      c)            Membuat soal tes kemampuan
                                                      d)            Melaksanakan evaluasi tindakan I
b.            Pelaksanaan Tindakan I
                     Tindakan I dilaksanakan oleh peneliti (guru) dibantu oleh guru lain yang telah ditunjuk sebagai tim penelitian. Pada akhir pembelajaran dilaksanakan tes untuk mengevaluasi tindakan I ini. Hasil pekerjaan siswa dievaluasi dan membuat catatan lapangan tentang kesulitan atau kesalahan-kesalahan siswa dalam mendeskripsi binatang secara tertulis, serta memikirkan cara mengatasinya.
c.             Observasi Tindakan I
                     Selama pembelajaran berlangsung aktivitas siswa diamati oleh guru sebagai peneliti, sedangkan aktivitas guru diamati oleh guru lain yang termasuk dalam tim penelitian dengan menggunakan lembar observasi.
d.            Refleksi Tindakan I
                        Semua data yang diperoleh akan dideskripsikan, baik data hasil evaluasi maupun hasil observasi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut diambil kesimpulan apakah siswa sudah terampil dalam mendeskripsi secara tertulis atau belum. Berdasarkan hasil analisis data tersebut kemudian disimpulkan apakah pemberian tindakan perlu diulangi atau tidak. Jika tindakan perlu diulangi, maka peneliti bersama tim merancang kembali tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya. Jika tujuan masih belum tercapai maka perlu diberikan tindakan lanjutan, sehingga pada siklus ini subyek penelitian benar-benar mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

2.      Siklus II
                  Tindakan pada siklus II dilakukan dengan pembelajaran kontekstual melalui bantuan  potongan gambar binatang (puzzle) sebagai sebagai media pembelajaran.
a.       Perencanaan Tindakan II
         Tujuan pembelajaran adalah:
1)            Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan seekor binatang
2)            Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan binatang secara tertulis
3)            Siswa diharapkan dapat menuliskan deskripsinya terhadap seekor binatang dengan kalimat yang tepat dalam penggunaan katanya.
   Guru sebagai peneliti menyusun:
a).          Rencana Pembelajaran
b).          Media potongan gambar binatang (puzzle)
c).          Membuat soal tes kemampuan
d).          Membentuk kelompok belajar
e).          Melaksanakan evaluasi tindakan II
b.      Pelaksanaan Tindakan II
                  Pada pelaksanaan tindakan II peneltiti bersama tim melaksanakan pembelajaran kontekstual melalui media potongan gambar binatang untuk meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis. Pada akhir pembelajaran diadakan tes menulis untuk mendeskripsikan binatang yang telah tersusun dalam puzzle. Hasil pekerjaan siswa dievaluasi dan membuat catatan lapangan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan yang dialami siswa dalam hal mendeskripsi secara tertulis.
c.       Observasi Tindakan II
                  Selama pembelajaran berlangsung aktivitas siswa diamati oleh guru sebagai peneliti, sedangkan aktivitas guru diamati oleh guru lain yang termasuk dalam tim penelitian menggunakan lembar observasi.
d.      Refleksi Tindakan II
                  Semua data yang diperoleh akan dideskripsikan, baik data hasil evaluasi maupun hasil observasi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut diambil kesimpulan apakah siswa mengalami peningkatan dalam keterampilan mendeskripsi secara tertulis. Berdasarkan hasil analisis data tersebut kemudian disimpulkan apakah pemberian tindakan perlu diulangi atau tidak. Jika tindakan perlu diulangi, maka peneliti bersama tim merancang kembali tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya. Jika tujuan masih belum tercapai maka perlu diberikan tindakan lanjutan, sehingga pada siklus ini subyek penelitian benar-benar mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

3.      Siklus III
               Tindakan pada siklus III dilakukan dengan pembelajaran kontekstual melalui bantuan  urutan gambar tentang hal-hal yang berhubungan dengan seekor binatang sebagai media pembelajaran.
a.       Perencanaan Tindakan III
      Tujuan pembelajaran adalah:
1)      Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan seekor binatang
2)      Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan binatang secara tertulis
3)      Siswa diharapkan dapat menuliskan deskripsinya terhadap seekor binatang dengan kalimat yang tepat dalam penggunaan katanya.
Guru sebagai peneliti menyusun:
                                          a)            Rencana Pembelajaran
                                          b)            Media urutan gambar tentang seekor binatang
                                          c)            Membuat soal tes kemampuan
                                          d)            Membentuk kelompok belajar
                                          e)            Melaksanakan evaluasi tindakan III
b.      Pelaksanaan Tindakan III
                     Pada pelaksanaan tindakan III peneltiti bersama tim melaksanakan pembelajaran kontekstual melalui media urutan  gambar tentang hal-hal yang berhubungan dengan seekor binatang untuk memudahkan siswa dalam meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis. Pada akhir pembelajaran diadakan tes menulis untuk mendeskripsikan binatang yang telah tersusun dalam puzzle. Hasil pekerjaan siswa dievaluasi dan membuat catatan lapangan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan yang dialami siswa dalam hal mendeskripsi secara tertulis.
c.       Observasi Tindakan III
                     Selama pembelajaran berlangsung aktivitas siswa diamati oleh guru sebagai peneliti, sedangkan aktivitas guru diamati oleh guru lain yang termasuk dalam tim penelitian menggunakan lembar observasi.


d.      Refleksi Tindakan III
                     Semua data yang diperoleh akan dideskripsikan, baik data hasil evaluasi maupun hasil observasi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut diambil kesimpulan apakah siswa mengalami peningkatan dalam keterampilan mendeskripsi secara tertulis. Siklus III ini dianggap sebagai siklus terakhir dalam penelitian, sehingga hasil dari pelaksanaan tindakan pada siklus III ini diharapkan sudah mencapai tujuan yang diharapkan.

B.     Lokasi Penelitian
                        Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 02 Pedawang Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan. Lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian didasarkan hasil studi awal/pendahuluan. Alasan pemilihan tempat adalah 1) lokasi Sekolah Dasar merupakan tempat dinas atau tempat kerja peneliti, 2) diantara 22 siswa kelas II semester II tahun pelajaran 2007/2008 SDN 02 Pedawang Karanganyar Pekalongan hanya terdapat 6 siswa yang dapat mendeskripsi secara tertulis dengan baik dan mencapai di atas KKM (70) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, 3) rata-rata guru dalam pembelajaran tidak pernah atau jarang menggunakan media/alat peraga, 4) Peneliti sudah menjalin hubungan yang akrab dengan Kepala Sekolah dan para guru sehingga diharapkan suasana akan lebih familier, hal ini akan mendukung jalannya diskusi penelitian dan mempermudah kolaborasi dengan anggota tim.
C.    Subjek Penelitian
                        Dalam penelitian ini yang dijadikan subyek penelitian adalah siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan yang berjumlah 22 orang, yakni 7 siswa putra dan 15 siswa putri.

D.    Teknik atau Prosedur Pengumpulan Data
                        Prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Tes
               Teknik tes ini digunakan untuk mengumpulkan data hasil tes pada setiap akhir tindakan, untuk memperoleh data tentang pemahaman siswa terhadap materi pelajran yang telah dipelajari. Tes ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang telah diikutinya. Hasil tes tersebut dipakai sebagai acuan untuk (1) melihat kemajuan siswa dalam mengikuti program pembelajaran, (2) analisis dan refleksi untuk tidakan berikutnya. Hasil pekerjaan siswa diperiksa dan dianalisis untuk menentukan letak kesalahan atau kekurangan siswa dalam menyelesaikan tugas dalam mendeskripsi secara tertulis.
2.      Observasi
               Teknik observasi digunakan untuk mengamati aktivitas guru dan murid. Obesrvasi ini bertujuan untuk (1) mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan perencanaan tindakan, (2) mengetahui seberapa jauh pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung dapat menghasilkan perubahan yang dikehenndaki. Dalam pelaksanaan observasi digunakan lembar onservasi. Observasi dilakukan oleh tiga orang observer termasuk guru pada saat pembelajaran berlangsung. Aspek yang diamati adalah aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung yang diamati oleh guru sebagai peneliti dan keterampilan mengajar guru yang diamati oleh guru lain sebagai anggota tim.

E.     Analisis Data
                        Analisis data dilakukan selama dan sesudah pengumpulan data. Berdasarkan dari lembar jawaban dan lembar observasi aktivitas siswa dan keterampilan guru dalam pembelajaran kemudian diadakan analisis.
                        Semua data dikaji dan dibahas bersama antara peneliti dengan teman sejawat, selanjutnya ditindaklanjuti dengan mengadakan refleksi yang merupakan kegiatan analisis, sintesis, dan interpretsi terhadap semua informasi yang diperoleh dari penelitian tindakan untuk ditarik suatu kesimpulan. Penarikan kesimpulan/verivikasi data berfungsi untuk me-yakinkan bahwa data yang diperoleh telah memenuhi syarat data yang baik. Untuk data yang berupa ungkapan-ungkapan/pernyataan-pernyataan menggunakan analisis logik, sedangkan data tes menggunakan analisis deskriptif.
                        Kriteria penilaian yang digunakan untuk menunjukkan penguasaan kemampuan yang tarafnya dapat diklasifikasikan dalam tabel berikut:

         Tabel 3.  Taraf Penguasaan Kemampuan
NO
TARAF PENGUASAAN KEMAMPUAN (%)
KATEGORI
1.
2.
3.
4.
5.
85 % ………………… 100 %
70 % …………………   84 %
55 % …………………   69 %
40 % …………………   54 %
  0 % …………………   39 %
Sangat baik
Baik
Sedang
Kurang
Sangat kurang

                        Untuk menganalisis data hasil observasi terhadap partisipasi aktif siswa dapat dilakukan dengan cara:
1.      Aktivitas siswa dalam kelompok
               Selama pelaksanaan tindakan, 22 siswa dibagi menjadi 6 kelompok. Guru, dalam hal ini sebagai peneliti melaksanakan pem-belajaran dibantu oleh teman sejawat sebagai observer yang mengobservasi 6 kelompok siswa tersebut.
               Adapun cara pengamatannya menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan yang terdapat pada lampiran. Sedangkan kategori untuk aktivitas siswa taraf penguasaan kemampuan mengacu pada tabel 3.
               Aspek aktivitas siswa dalam kelompok yang diamati dalam penelitian tindakan ini adalah (1) keterlibatan siswa dalam pembelajaran, (2) keaktifan siswa dalam kelompoknya, (3) keaktifan siswa dalam melaksanakan tugas dari guru, (4) keberanian siswa dalam membacakan hasil karyanya, (5) kerjasama siswa dalam kelompok, (6) sikap bersahabat siswa terhadap dengan anggota kelompok, (7) respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasme.

      Contoh:
      Dari empat siswa dari kelompok tersebut yang ikut aktif mengerjakan tugas dari guru ada tiga siswa, ini berarti ¾ x 100 % = 75 %.
      Jadi, hanya 75 % dari anggota kelompok tersebut yang ikut aktif mengerjakan tugas dari guru, sehingga termasuk kategori baik.

2.      Aktivitas siswa dalam kelas
               Penilaian terhadap aktivitas siswa di dalam kelas hampir sama dengan penilaian terhadap aktivitas siswa dalam kelompok. kategori dan prosentase yang digunakan sama. Adapun aspek yang diamati adalah (1) keterlibatan siswa dalam pembelajaran (bertanya dan menjawab pertanyaan), (2) keaktifan siswa dalam melaksanakan tugas dari guru, (3) keberanian siswa dalam menyampaikan hasil karyanya, (4) menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya, (5) respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.
                       
F.     Tahap-Tahap Penelitian
1.      Kegiatan Pendahuluan
               Pada kegiatan pendahuluan diawali dengan ide awal yang merupakan harapan yang ingin dicapai dalam penelitian, dilanjutkan dengan temuan dan analisis fakta. Pada tahap ini diadakan tes awal untuk menentukan subjek penelitian dan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah mampu menguasai materi yang disampaikan guru terutama pada aspek kemampuan mendeskripsi secara tertulis.
               Tes awal dilaksanakan pada Selasa, 15 januari 2008. Pada saat tes awal, siswa membayangkan seekor binatang yang mereka sukai. Kemudian mereka harus mendeskripsikan binatang tersebut dalam bentuk tulisan. Saat itu sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menuliskannya, karena dalam tulisan siswa masih banyak kalimat-kalimat yang belum tepat dalam penggunaan katanya. Selain itu, penyajiannya pun masih belum rapi. Oleh karena itu perlu diadakan terapi atau perbaikan dalam tiga siklus tindakan untuk meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada siswa kelas II.
2.      Siklus I
               Tindakan pada siklus I dilakukan dengan pembelajaran kontekstual melalui bantuan gambar binatang sebagai sebagai media pembelajaran.
a.       Perencanaan Tindakan I
      Tujuan pembelajaran adalah:
1)      Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan seekor binatang
2)      Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan binatang secara tertulis
3)      Siswa diharapkan dapat menuliskan deskripsinya terhadap seekor binatang dengan kalimat yang tepat dalam penggunaan katanya.
Guru sebagai peneliti menyusun:
a).    Rencana Pembelajaran
b).    Media gambar binatang
c).    Membuat soal tes kemampuan
d).    Melaksanakan evaluasi tindakan I

b.      Pelaksanaan Tindakan I
                     Tindakan I dilaksanakan peneliti (guru) dibantu oleh guru lain yang telah ditunjuk sebagai tim penelitian. Pada akhir pembelajaran dilaksanakan tes untuk mengevaluasi tindakan I ini. Hasil pekerjaan siswa dievaluasi dan membuat catatan lapangan tentang kesulitan atau kesalahan-kesalahan siswa dalam mendeskripsi binatang secara tertulis, serta memikirkan cara mengatasinya.
c.       Observasi Tindakan I
                     Selama pembelajaran berlangsung aktivitas siswa diamati oleh guru sebagai peneliti, sedangkan aktivitas guru diamati oleh guru lain yang termasuk dalam tim penelitian menggunakan lembar observasi.
                     Pada siklus I aktivitas siswa masih belum maksimal, karena keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran termasuk dalam kategori sangat kurang dengan prosentase 27,2%; akan tetapi aktivitas siswa dalam mengerjakan tugas dari guru dapat dikatakan sangat baik karena dari 22 siswa hanya 1 siswa yang tidak mengerjakan tugas; keberanian siswa untuk membacakan karyanya di depan kelas dapat dikatakan baik karena 82% siswa berani membacakannya; untuk interaksi antar siswa masih sangat kurang karena hanya 14% dari keseluruhan siswa yang dapat menunjukkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya; dan respon siswa dalam pembelajaran masih sangat kurang karena dari 22 siswa hanya 9 siswa yang dapat menunjukkan ketertarikannya dalam pembelajaran.
                     Dari hasil observasi dari siklus I ini, guru mengembangkan tujuan pembelajaran cukup baik dengan memberikan materi pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak; guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas; guru menguasai materi pelajaran dengan baik; bimbingan guru terhadap siswa yang berkemampuan kurang dalam belajar cukup baik; akan tetapi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual belum jelas terlihat; interaksi guru dengan siswa masih sangat kurang.
d.      Refleksi Tindakan I
                     Semua data yang diperoleh akan dideskripsikan, baik data hasil evaluasi maupun hasil observasi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut diambil kesimpulan apakah siswa sudah terampil dalam mendeskripsi secara tertulis atau belum. Berdasarkan hasil analisis data tersebut kemudian disimpulkan apakah pemberian tindakan perlu diulangi atau tidak. Jika tindakan perlu diulangi, maka peneliti bersama tim merancang kembali tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya. Jika tujuan masih belum tercapai maka perlu diberikan tindakan lanjutan, sehingga pada siklus ini subyek peneliti benar-benar mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

3.      Siklus II
               Tindakan pada siklus II dilakukan dengan pembelajaran kontekstual melalui bantuan  potongan gambar binatang (puzzle) sebagai sebagai media pembelajaran.
a.       Perencanaan Tindakan II
      Tujuan pembelajaran adalah:
1).          Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan seekor binatang
2).          Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan binatang secara tertulis
3).          Siswa diharapkan dapat menuliskan deskripsinya terhadap seekor binatang dengan kalimat yang tepat dalam penggunaan katanya.
Guru sebagai peneliti menyusun:
a)            Rencana Pembelajaran
b)            Media potongan gambar binatang (puzzle)
c)            Membuat soal tes kemampuan
d)            Membentuk kelompok belajar
e)            Melaksanakan evaluasi tindakan II


b.      Pelaksanaan Tindakan II
                  Pada pelaksanaan tindakan II peneltiti bersama tim melaksanakan pembelajaran kontekstual melalui media potongan gambar binatang untuk meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis. Pada akhir pembelajaran diadakan tes menulis untuk mendeskripsikan binatang yang telah tersusun dalam puzzle. Hasil pekerjaan siswa dievaluasi dan membuat catatan lapangan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan yang dialami siswa dalam hal mendeskripsi secara tertulis.

c.       Observasi Tindakan II
                  Selama pembelajaran berlangsung aktivitas siswa diamati oleh guru sebagai peneliti, sedangkan aktivitas guru diamati oleh guru lain yang termasuk dalam tim penelitian menggunakan lembar observasi.
                  Keaktifan siswa dalam kelompok belum maksimal karena masih ada siswa yang tidak peduli dengan apa yang dilakukan teman dalam satu kelompok dan pengunggapan hasil kerja kelompok belum semua anggota berani untuk melaporkannya, karena masih dimonopoli oleh siswa yang sama. Untuk keaktifan siswa di kelas sudah mengalami peningkatan dari pada pelaksanaan tindakan pada siklus I, tetapi masih perlu ditingkatkan lagi terutama dalam membangkitkan rasa sosialisme siswa serta respon siswa saat pembelajaran.
                  Pada siklus II ini guru sudah merumuskan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa, guru menguasai materi dengan baik, interaksi guru dengan kelompok belajar cukup aktif dalam membimbing siswa dalam kelompok belajar, interkasi guru dengan masing-masing siswa masih belum merata akan tetapi pemberian umpan balik kepada siswa sudah cukup baik.
                 
d.      Refleksi Tindakan II
                     Semua data yang diperoleh akan dideskripsikan, baik data hasil evaluasi maupun hasil observasi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut diambil kesimpulan apakah siswa mengalami peningkatan dalam keterampilan mendeskripsi secara tertulis. Berdasarkan hasil analisis data tersebut kemudian disimpulkan apakah pemberian tindakan perlu diulangi atau tidak. Jika tindakan perlu diulangi, maka peneliti bersama tim merancang kembali tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya. Jika tujuan masih belum tercapai maka perlu diberikan tindakan lanjutan, sehingga pada siklus ini subyek peneliti benar-benar mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.


4.      Siklus III
               Tindakan pada siklus III dilakukan dengan pembelajaran kontekstual melalui bantuan  urutan gambar tentang hal-hal yang berhubungan dengan seekor binatang sebagai media pembelajaran.
a.       Perencanaan Tindakan III
      Tujuan pembelajaran adalah:
1)      Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan seekor binatang
2)      Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan binatang secara tertulis
3)      Siswa diharapkan dapat menuliskan deskripsinya terhadap seekor binatang dengan kalimat yang tepat dalam penggunaan katanya.
Guru sebagai peneliti menyusun:
                                          a)      Rencana Pembelajaran
                                          b)      Media urutan gambar tentang seekor binatang
                                          c)      Membuat soal tes kemampuan
                                          d)      Membentuk kelompok belajar
                                          e)      Melaksanakan evaluasi tindakan III

b.      Pelaksanaan Tindakan III
                     Pada pelaksanaan tindakan III peneltiti bersama tim melaksanakan pembelajaran kontekstual melalui media urutan  gambar tentang hal-hal yang berhubungan dengan seekor binatang untuk memudahkan siswa dalam meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis. Pada akhir pembelajaran diadakan tes menulis untuk mendeskripsikan binatang yang telah tersusun dalam puzzle. Hasil pekerjaan siswa dievaluasi dan membuat catatan lapangan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan yang dialami siswa dalam hal mendeskripsi secara tertulis.

c.       Observasi Tindakan III
                     Selama pembelajaran berlangsung aktivitas siswa diamati oleh guru sebagai peneliti, sedangkan aktivitas guru diamati oleh guru lain yang termasuk dalam tim penelitian menggunakan lembar observasi.
                     Aktivitas siswa dalam kelompok belajar sudah dapat dikatakan maksimal karena siswa menunjukkan kesungguhannya dalam mengikuti pembelajaran, hampir semua siswa aktif dalam kelompoknya, semua siswa aktif dalam melaksanakan tugas yang diberikan guru, keberanian siswa dalam menyampaikan kerja kelompoknya sudah mencapai 100%, semua siswa sudah menunjukkan antusiasmenya dalam pembelajaran.
                     Aktivitas siswa di kelas juga menunjukkan hasil yang baik karena siswa sudah ikut aktif terlibat dalam pembelajaran, semua siswa melaksanakan tugas mendeskripsnya dengan baik, semua siswa mempunyai keberanian untuk melaporkan hasil pekerjaannya, interaksi antar siswa sudah terjalin dengan baik, antusiasme dan keceriaan siswa saat pembelajaran sudah terlihat sebagai bukti adanya respon siswa terhadap pembelajaran.
                     Pada siklus III ini, keterampilan guru dalam menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran mangalami peningkatan dari siklus sebelumnya, yakni guru sudah merumuskan tujuan pembelajaran dengan baik, guru menggunakan waktu pembelajaran seefektif mungkin, guru sangat menguasai materi yang diajrkan dengan penjabarannya dilakukan secara komunikatif sehingga siswa mudah menerima pelajaran, interaksi guru dengan siswa terjalin dengan baik ditunjukkan dengan adanya kreativitas guru saat pembelajaran melalui permainan dan kerjasama yang baik dengan siswa.

d.      Refleksi Tindakan III
                     Semua data yang diperoleh akan dideskripsikan, baik data hasil evaluasi maupun hasil observasi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut diambil kesimpulan apakah siswa mengalami peningkatan dalam keterampilan mendeskripsi secara tertulis. Siklus III ini dianggap sebagai siklus terakhir dalam penelitian, sehingga hasil dari pelaksanaan tindakan pada siklus III ini diharapkan sudah mencapai tujuan yang diharapkan.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.          Deskripsi Data sebelum Tindakan
                        Peneliti melakukan penelitian di tempat kerja peneliti, yakni di SD Negeri 02 Pedawang Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan. Peneliti melakukan penelitian di kelas II, karena kebetulan peneliti adalah guru kelas II di sekolah tersebut yang menemui suatu kendala ketika mengajak siswa untuk melakukan pembelajaran menulis, dalam hal ini menulis deskripsi sederhana dari seekor binatang.
                        Peneliti melakukan penelitian awal pada hari selasa, 15 Januari 2008 dengan mengadakan tes awal terhadap 22 anak. Materi tes awal disesuaikan dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) kelas II dengan Kompetensi Dasar mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis. Pada tes awal ini peneliti tidak menggunakan media atau alat peraga, melainkan hanya menggunakan daya imajinasi siswa terhadap seekor binatang yang disukainya. Tujuan diadakan tes awal ini adalah untuk menjaring jenis kekurangan-kekurangan siswa dalam mendeskripsi secara tertulis.
                        Dalam penelitian ini data/tes dinyatakan dalam bentuk skor. Hasil tes awal dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampu-an/keterampilan siswa dalam mendeskripsi secara tertulis. Dari hasil karya siswa, maka dapat diprosentasekan sesuai dengan kategori taraf serap kemampuan pada tabel 3 dengan ketentuan sebagai berikut:
        
P =
 R
X 100%
 T
        
         Keterangan :
         P : Prosentase banyaknya siswa yang mendapatkan skor di atas 70
         R : Banyaknya siswa yang mendapat skor di atas 70
         T : Banyaknya siswa yang mengerjakan tugas dari guru

         Prosentase taraf penguasaan kemampuan/keterampilan mendeskripsi secara tertulis dari 22 siswa sebesar 27 % termasuk dalam kategori sangat kurang. Hal ini berarti siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan dalam penguasaan keterampilan mendeskripsi secara tertulis masih terhitung sangat kurang.
                        Pada tanggal 20 Mei 2008, peneliti menetapkan jadwal pelaksanaan tindakan bersama tim peneliti. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, diputuskan untuk mengimplementasikan pembelajaran kontekstual sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada siswa kelas II dengan bantuan gambar seekor binatang sebagai media pembelajaran. Pelaksanaan tindakan tersebut dilakukan dalam tiga siklus pelaksanaan tindakan, yang meliputi siklus I, siklus II, dan siklus III sebagai akhir dari pelaksnaan tindakan.



B.           Deskripsi Hasil Penelitian Siklus I
1.      Perencanaan Tindakan I
               Perencanaan tindakan pembelajaran dikembangkan berdasarkan hasil studi pendahuluan. Peneliti menyusun rencana pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis. Rencana pembelajaran ini digunakan sebagai petunjuk dan pegangan guru mengenai langkah yang harus dilakukan agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan efektif dan efisien.  Dalam rencana pembelajaran tertuliskan mengenai kompetensi dasar yang harus dicapai, indikator pembelajaran, materi/tema masalah, alokasi waktu dan jenis evaluasi untuk memperoleh umpan balik.
               Pada siklus I ini kegiatan yang direncanakan untuk dilaksanakan adalah :
a.       Pembelajaran menulis untuk mendeskripsikan sebuah objek dengan tema “Binatang di sekitarku”.
b.      Pembelajaran menggunakan media gambar binatang “Sapi” yang dibuat besar untuk ditempel di papan tulis sebagai media untuk mendeskripsi.
c.       Menerapkan konsep penggunaan kata yang benar, tepat dan sesuai proporsi dalam setiap kalimat deskripsi.
d.      Mengadakan evaluasi pada akhir tahapan tindakan I.


2.      Pelaksanaan Tindakan I
               Tindakan I dilaksanakan pada hari Selasa 27 Mei 2008.
a.       Kompetensi Dasar
1)      Bahasa Indonesia
               Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar secara sederhana dengan bahasa tulis.
2)      Matematika
      Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka.
3)      IPA
      Mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah melalui pengamatan.
b.      Indikator
1)      Bahasa Indonesia
      Menyebutkan ciri-ciri binatang yang ada pada gambar dengan bahasa sederhana.
2)      Matematika
               Menyelesaikan soal cerita tentang operasi hitung perkalian yang hasilnya bilangan dua angka.
3)      IPA
               Mengidentifikasi binatang yang ada pada gambar dengan menyebutkan ciri-cirinya.
c.       Tujuan Pembelajaran
      Melalui pembelajaran kontekstual dengan media gambar binatang “Sapi” diharapkan:
1)      Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri Sapi secara sederhana.
2)      Siswa dapat menggambarkan/mendeskripsikan Sapi secara tertulis.
3)      Siswa dapat mendeskripsikan Sapi secara tertulis dengan pemilihan kata yang tepat dan sesuai proporsi.
4)      Siswa dapat menuliskan deskripsinya dengan tulisan yang rapi  dan mudah dibaca.
5)      Siswa dapat melakukan operasi hitung perkalian dari soal cerita dengan jawaban yang tepat.
6)      Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri Sapi sesuai dengan gambar yang diamati.
d.      Alokasi waktu 1 x pertemuan pembelajaran tematik.
e.       Tempat pembelajaran di ruang kelas II
f.        Uraian tindakan
1)      Pra pembelajaran
(1)   Guru mengkondisikan ruang kelas sebelum mulai pembelajaran.
(2)   Guru mengkondisikan siswa untuk dapat menerima pelajaran.
(3)   Guru bersama siswa mempersiapkan media yang akan digunakan dalam pembelajaran.



2)      Kegiatan Awal
      Apersepsi
      Bertanya jawab dengan siswa tentang binatang yang ada di rumahnya, misalnya binatang peliharaan siswa.
3)      Kegiatan Inti
               Dalam kegiatan inti ini guru mulai melakukan pembelajaran secara tematik yang diawali dengan pelajaran Bahasa Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan Matematika dan terakhir IPA dengan tema sama, yakni “Binatang di sekitarku”.
      Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut:
(1)         Guru menayangkan gambar yang telah dipersiapkan, siswa mengamati gambar.
(2)         Guru bertanya kepada siswa tentang binatang apa yang tampak pada gambar
(3)         Siswa dan guru saling memberikan umpan balik
(4)         Siswa mendeskripsikan binatang yang tampak pada gambar secara lisan terlebih dahulu
(5)         Guru memberi tugas kepada siswa untuk mendeskripsikan binatang yang tampak pada gambar secara tertulis.
(6)         Guru membimbing siswa ketika siswa mengerjakan tugasnya.
(7)         Siswa membacakan tulisannya di depan kelas
(8)         Siswa memberikan penghargaan kepada temannya yang telah membacakan tulisannya dengan cara bertepuk tangan.
(9)         Setelah siswa belajar bahasa Indonesi tentang mendeskripsi secara tertulis, kemudian siswa diberikan beberapa soal cerita tentang operasi hitung perkalian.
         Soal :
1)      Seekor ayam memiliki 2 kaki. Jika ada 6 ayam, berapa banyak kaki dari 6 ayam tersebut?
2)      Dalam sebuah kandang terdapat 5 ekor sapi. Setiap sapi berdaun telingan 2. Berapa banyak daun telinga seluruhnya dari 5 sapi?
(10)     Guru membimbing siswa dalam menjawab pertanyaan di atas
(11)     Siswa yang telah selesai mengerjakan soal, diberikan kesempatan untuk menjawabnya di papan tulis.
(12)     Setelah belajar matematika, kemudian siswa belajar IPA dengan tema yang sama.
(13)     Dari pengamatannya terhadap gambar tadi, siswa diminta untuk menuliskan ciri-ciri binatang tersebut ke dalam tabel.





Isilah kolom dibawah ini berdasarkan binatang yang kamu amati!
Tabel 4.1.Ciri-ciri Binatang      
No
Nama Binatang
Jumlah
Mata
Daun Telinga
Kaki
Warna
Makanan
Tempat
hidup
suara
1.


Sapi













(14)     Guru membimbing siswa dalam mengerjakan tugas
(15)     Siswa membacakan tugasnya di depan kelas.
(16)     Guru memberikan penghargaan berupa skor kepada siswa yang mengisi kolom dengan tepat.
4)      Kegiatan Akhir
      Guru memberikan motivasi kepada siswa agar esok belajar lebih baik lagi.

3.      Observasi dan Hasil Pelaksanaan Tindakan I
               Pada tahap observasi tindakan I ini, peneliti (guru) bersama tim peneliti melakukan observasi terhadap aktivitas pembelajaran di kelas II dengan lembar observasi yang telah disediakan. Dalam melakukan observasi, hal pokok yang diamati adalah aktivitas siswa dan keterampilan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan dalam proses pembelajaran dilihat dari rencana pembelajaran maupun kegiatan pembelajaran di kelas, meliputi:
a.      Proses Pembelajaran
1)      Tujuan Pembelajaran
a)      Pernyataan tujuan pembelajaran dinilai oleh teman sejawat (guru lain) sebagai tim penelitian jelas dengan kriteria yaitu rumusannya jelas, spesifik dapat diukur, dan menunujukkan adanya perubahan pada tingkat kemampuan siswa.
b)      Materi yang diajarkan sesuai dengan kemampuan dan usia siswa.
c)      Berkaitan langsung dengan pengalaman anak.

2)      Pengembangan Pelajaran
a)      Kelogisan kemajuan pembelajaran dinilai rasional karena waktu yang digunakan sesuai alokasinya yaitu pem-belajaran sehari yang disesuaikan dengan pembelajaran tematik.
b)      Kemajuan belajar yang dicapai oleh siswa belum begitu tampak.
c)      Kesempatan siswa untuk berpartisipasi kurang baik.
d)      Guru memberikan kekuasaan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas, akan tetapi siswa masih kurang tanggap terhadap kesempatan yang diberikan.
e)      Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran belum begitu jelas terlihat, yakni belum adanya kelompok belajar sebagai pencerminan dari learning community.
3)      Penguasaan guru terhadap materi pelajaran
a)      Berdasarkan catatan yang diberikan oleh temansejawat sebagai anggota tim penelitian, guru sudah menguasai materi dan mampu mengemasnya dengan baik.
b)      Materi dapat lebih jelas diterima oleh siswa karena dengan penerapan pembelajaran berbasis kontekstual dengan memanfaatkan media gambar binatang.
c)      Menjawab pertanyaan siswa dengan baik dan sabar.

4)      Pengelolaan Belajar
a)      Pengelolaan waktu belajar sudah efektif karena lebih dari 80% waktu dimanfaatkan dengan baik.
b)      Pengaturan kelas dan penciptaan suasana kelas cukup kondusif.
c)      Bimbingan terhadap siswa yang dirasa berkemampuan kurang dan mengalami kesulitan dalam mendeskripsi binatang secara tertulis cukup baik.
d)      Tingakat pengawasan disiplin terhadap kedisiplinan siswa masih kurang, karena masih ada beberapa siswa yang berlaku kurang tertib dan saling mengganggu temannya.



5)      Interaksi guru dengan masing-masing siswa
               Menurut catatan dari guru lain sebagai observer mengenai aktivitas peneliti (guru), sebagai berikut:
a)      Perhatian guru terhadap siswa masih belum merata
b)      Guru kurang aktif memberikan umpan balik yang sifatnya segera dan kurang bervariasi
c)      Guru kurang responsif terhadap kondisi siswa (siswa gaduh)
d)      Guru cukup baik dalam membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran.

6)      Interaksi antar siswa
a)      Interaksi siswa yang ditunjukkan oleh adanya keaktifan siswa dalam pembelajaran masih kurang baik, karena masih banyak siswa yang diam dan kurang respon.
b)      Guru melakukan pengawasan berkeliling sambil memberikan pengawasan dan bimbingan.







b.      Keaktifan Siswa di Kelas
                     Aktivitas siswa di dalam kelas dibedakan menjadi 5 aspek, terlihat pada tabel berikut:
         Tabel 4.2. Keaktifan Siswa Dalam Kelas Siklus I



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.



2.


3.

4.



5.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran (bertanya jawab).
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil karyanya di depan kelas.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya.
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.





























Sangat kurang



Sangat baik


Baik


Sangat kurang



Sangat kurang





     


      Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang



      Dari daftar tabel di atas dapat disimpulkan bahwa:
1)      Keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran (bertanya jawab) sangat kurang, karena hanya 27,2% siswa yang aktif dalam pembelajaran.
2)      Aktivitas siswa dalam mengerjakan tugas dari guru sangat baik, hal itu terlihat dari data hasil observasi yang menyatakan bahwa dari 22 siswa hanya 1 siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran.
3)      Kemauan dan keberanian siswa untuk membacakan karyanya di depan kelas dapat dikatakan baik, karena 82 % siswa berani dan mau membacakan karyannya di depan kelas.
4)      Interaksi siswa dengan siswa lain masih sangat kurang, karena hanya 14 % siswa yang mampu menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya.
5)      Respon siswa dalam pembelajaran masih sangat kurang, karena menurut data yang diperoleh dari 22 siswa hanya ada 9 siswa yang respon terhadap pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya saat pembelajaran.

c.       Hasil Belajar Siswa
                     Hasil kemampuan/keterampilan mendeskripsi secara tertulis tentang seekor binatang “sapi” pada tindakan siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3.     Kemampuan/Keterampilan Mendeskripsi Secara Tertulis                             Siklus I



No.
KATEGORI
INTERVAL NILAI
FREK.
%
KETERANGAN
1.
2.
3.
4.
5.
Sangat baik
Baik
Sedang
Kurang
Sangat kurang
85-100
70-  84
55-  69
40-  54
  0-  39
  1
 9
10
  2
  0
  4
41
45
  9
  0


Prosentase

P =
R
X 100%
T
P =
 10
X 100%
22
     =  45,5 %

Jumlah

22
100
Kurang




         Dari daftar tabel hasil kemampuan atau keterampilan mendeskripsi secara tertulis dapat disimpulkan :
1)      Secara prosentase keterampilan mendeskripsi secara tertulis siswa kelas II pada tindakan siklus I masih kurang yaitu 45,5%
2)      Dari 22 siswa yang meiliki keterampilan mendeskripsi secara tertulis dengan sangat baik ada 1 siswa (4%), memiliki keterampilan baik ada 9 siswa (41%), berketerampilan sedang ada 10 siswa (45%), berketerampilan mendeskripsi secara tertulis kurang ada 2 siswa (9%).
3)      Secara umum hampir sebagian siswa belum terampil dalam mendeskripsi secara tertulis.
4)      Hampir sebagian siswa belum terampil dalam menulis dengan menggunakan pemilihan kata yang tepat dan tulisan yang rapi.
4.      Analisis dan Refleksi Tindakan I
               Berdasarkan hasil observasi dan data yang diperoleh pada pelaksanaan tindakan siklus I dapat diuraikan analisis sebagai berikut:
a.      Proses Pembelajaran
                     Dilihat dari proses pembelajaran mulai dari penyusunan rencana pembelajaran sampai pelaksanaan evaluasi ada beberapa hal yang belum tepat dan perlu perbaikan pada tindakan berikutnya. Hal tersebut antara lain :
1)      Dalam pengembangan pembelajaran, pembagian waktu masih kurang tepat pada akhir pelajaran agak tergesa-gesa, karena kehabisan waktu. Oleh karena itu untuk pertemuan berikutnya perlu direncanakan kembali dengan tepat dan cermat sehingga tidak ada perlambatan ataupun percepatan waktu.
2)      Dalam pembelajaran, pendekatan yang digunakan sebagai alternatif pembelajaran belum jelas terlihat karena belum adanya kelompok belajar. Oleh karena itu dalam siklus berikutnya guru harus membuat rencana pembelajaran yang menonjolkan aktivitas pembelajaran kontekstual, khususnya dengan adanya kelompok belajar dalam pembelajaran.
3)      Interaksi guru dengan siswa masih perlu diperbaiki karena perhatian yang diberikan oleh guru belum merata, pemberian umpan balik belum bervariasi dan motivasi guru kepada siswa masih perlu ditingkatkan.
4)      Selama pembelajaran berlangsung masih jarang siswa yang respon terhadap pembelajaran, hal itu ditunjukkan dari beberapa sikap siswa yang acuh ketika pembelajaran berlangsung.
5)      Dalam proses pembelajaran mendeskripsi secara tertulis yang baik dan benar, guru (peneliti) sudah berusaha optimal dengan memanfaatkan gambar binatang yang menarik sehingga imajinasi siswa dalam mendeskripsi seekor binatang dapat tertuang secara nyata.

b.      Hasil Pembelajaran
                     Setelah pembelajaran mendeskripsi secara tertulis melalui pembelajaran kontekstual dengan menggunakan gambar binatang pada siswa siswa kelas II berlangsung, dari hasil pembelajaran khusunya keterampilan mendeskripsi secara tertulis mengalami peningkatan hampir dua kali lipat dengan studi pendahuluan atau sebelum diadakan tidakan I. secara prosentase keterampilan mendeskripsi secara tertulis siswa kelas II sebesar 27%, dan setelah dilaksanakan pembelajaran atau tindakan I prosentasenya naik atau meningkat menjadi 45,4%. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa atau keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada siswa kelas II sangat diperlukan kesabaran, keuletan, kecermatan dan kebersamaan jiwa seorang guru dengan berbagai metode, strategi, dan media pembelajaran serta pemberian informasi yang benar secara komunikatif dan kondusif.
     
C.    Deskripsi Hasil Penelitian Siklus II
1.            Perencanaan Tindakan II
               Pada siklus II ini guru (peneliti) merencanakan kegiatn pembelajaran yang akan dilaksanakan, dengan menyusun :
a).          Rencana Pembelajaran
b).          Media pembelajaran berupa potongan gambar (puzzle) seekor sapi.
c).          Lembar Kerja Siswa (LKS)
d).          Melaksanakan evaluasi mendeskripsi secara tertulis.
         Tindakan II ini merupakan perbaikan dari tindakan I. perbaikan ini didasarkan pada hasil analisis dan refleksi yang terjadi pada tindakan sebelumnya dan bertujuan untuk menyempurnakan agar tujuan pembelajaran yang dirumuskan dapat tercapai secara optimal.
         Perencanaan tindakan ini disusun tiga kegiatan pokok, yaitu:
1.            Peneliti memperbaiki Rencana Pembelajaran dengan penekanan-penekanan pada kekurangan yang terjadi pada tindakan I.
2.            Peneliti menyususn LKS
3.            Membuat dan mempersiapkan potongan gambar (puzzle).
         Perencanaan ini dilaksanakan dengan melihat kembali persiapan mengajar, pembentukan kelompok sebagai motivator diri siswa dalam pembelajaran dan merencanakan kegiatan pembelajaran yang lebih efektif.

2.      Pelaksanaan Tindakan II
               Tindakan II ini dilaksanaakan pada hari Kamis, 29 Mei 2008 yang diikuti oleh 22 siswa, dengan ketentun sebagai berikut:
a.       Kompetensi Dasar
1).          Bahasa Indonesia
         Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang secara sederhana dengan bahasa tulis.
2).          Matematika
         Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka.
3).          IPA
         Mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah melalui pengamatan.
b.      Indikator
1).          Bahasa Indonesia
         Mendeskripsikan binatang yang ada pada gambar secara tertulis dengan bahasa yang sederhana.
2).          Matematika
         Menyelesaikan soal cerita tentang operasi hitung perkalian yang hasilnya bilangan dua angka.
3).          IPA
         Mengidentifikasi binatang pada gambar dengan menyebutkan ciri-cirinya secara lengkap.
c.       Tujuan Pembelajaran
      Melalui pembelajaran kontekstual dengan media gambar binatang “Sapi” diharapkan:
1).          Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri sapi.
2).          Siswa dapat menggambarkan/mendeskripsikan sapi secara ter-tulis.
3).          Siswa dapat mendeskripsikan sapi secara tertulis dengan pemilihan kata yang tepat dan sesuai proporsi.
4).          Siswa dapat menuliskan deskripsinya dengan tulisan yang rapi dan mudah dibaca.
5).          Siswa dapat melakukan operasi hitung perkalian dari soal cerita dengan jawaban yang tepat.
6).          Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri sapi sesuai dengan gambar yang diamati.
d.      Alokasi waktu pembelajaran tematik 1X pertemuan.
e.       Tempat pembelajaran adalah ruang kelas II
f.        Uraian Tindakan
1)            Pra Pembelajaran
a).          Guru menata ruang kelas siswa
b).          Guru mempersiapkan media pembelajaran berupa beberapa paket puzzle (potongan gambar seekor binatang)
c).          Siswa dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok yang dengan anggota empat siswa.
d).          Siswa memberikan nama pada kelompoknya dengan nama hewan.
e).          Siswa memberikan alasan tentang pemilihan nama kelompoknya.
f).           Setiap kelompok menyuarakan yel-yel yang telah dibuat.
2)            Kegiatan Awal
               Guru melakukan apersepsi dengan bertanya-jawab tentang hal-hal yang berhubungan dengan sapi.
3)            Kegiatan Inti
                           Dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang telah dipersiapkan guru membimbing siswa untuk terampil dalam mendeskripsi secara tertulis.
         Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:
a).          Guru membagikan puzzle kepada setiap kelompok.
b).          Siswa dalam kelompok menyusun puzzle masing-masing dan setelah selesai siswa langsung mengamati gambar yang telah tersusun.
c).          Siswa saling berdiskusi dalam kelompoknya dan diperkenankan untuk bertanya jawab dengan kelompok lain atau dengan guru.
d).          Siswa mulai menuliskan deskripsi binatang yang ada pada gambar dalam LKS yang telah disediakan.
e).          Siswa secara berkelompok menyebutkan banyaknya anggota tubuh bintang dalam puzzle.
f).           Siswa secara berkelompok menyebutkan kegunaan setiap anggota tubuh yang dimiliki binatang tersebut.
g).          Siswa menyelesaikan soal cerita perkalian bilangan secara berkelompok.
h).          Guru memberikan motivasi dan semangat kepada kelompok yang belum berhasil untuk mau menerima keberhasilan kelompok lain dan berusaha agar bisa berhasil pada pertemuan berikutnya.
4)            Kegiatan Akhir
a).          Guru bersama siswa menentukan beberapa kelompok yang berhak mendapatkan penghargaan sebagai kelompok Top 1, kelompok Top 2, dan kelompok Top 3.
b).          Sebagai akhir dari pembelajaran siswa menyanyikan lagu “Burung Kutilang”.

3.      Observasi dan Hasil Pelaksanaan Tindakan II
               Observasi tindakan II dilaksanakan sebagaimana pada pelaksanaan observasi pada tindakan I, peneliti dan teman sejawat sebagai anggota tim penelitian mengamati proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti selaku guru kelas II dengan menggunakan panduan observasi, namun lebih menitikberatkan pada kekurangan yang terjadi pada siklus I, yaitu :
a.      Proses Pembelajaran
1)            Tujuan Pembelajaran
         Tujuan pembelajaran yang dirumuskan sudah spesifik sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan siswa serta sesuai dengan materi pembelajaran.

2)            Pengembangan Pelajaran
         Pengembangan pelajaran logis, pembagian waktu lebih cermat dan guru banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, berlatih, dan berpartisipasi aktif.
3)            Penguasaan guru terhadap materi pelajaran
         Guru menguasai materi dan tingkat kemudahan menyampaikan materi cukup memadai karena lebih dari 55% siswa sudah terampil dalam mendeskripsi secara tertulis.
4)            Pengelolaan Belajar
         Pengunaan waktu sudah efektif, pengelolaan kelas lancar dan tingkat kedisiplinan siswa cukup memadai tetapi masih ada beberapa siswa yang perhatiannya tidak tertuju pada pembelajaran yang sedang berlangsung.
5)            Interaksi guru dengan kelompok belajar
         Guru cukup aktif dalam membimbing siswa dan memberikan motivasi-motivasi kepada siswa dalam kelompok, sehingga kegiatan dalam kelompok tidak pasif atau macet.
6)            Interaksi guru dengan masing-masing siswa
         Perhatian guru selalu tertuju pada siswa namun masih belum merata, pemberian umpan balik cukup baik dan bervariasi yaitu berupa ucapan (sanjungan), anggukan dan senyuman..


7)            Interaksi antar siswa
a)      Pembelajaran secara berkelompok sudah menunujukkan aktifitas masing-masing kelompoknya, namun ada beberapa siswa dalam kelompok yang belum begitu respon dengan apa yang harus dikerjakan bersama kelompoknya.
b)      Guru sering tampak berkeliling secara merata kepada setiap kelompok dengan sesekali memberikan pengarahan, sehingga antar siswa selalu terjadi komunikasi.
b.      Keaktifan Siswa dalam Kelompok
                     Pada dasarnya sebagian besar siswa telah aktif dalam kelompok, tetapi masih ada beberapa kekurangan yang dilakukan siswa yaitu:
1)            Masih ada siswa yang tidak peduli dengan apa dilakukan teman satu kelompoknya.
2)            Pengungkapan hasil kerja kelompok belum semua anggota berani maju, sehingga masih dimonopoli oleh siswa yang sama.







Tabel 4.4. Keaktifan Kelompok Rajawali Siklus II



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.




























Sangat baik
Kurang


Baik

Sangat baik
Baik

Kurang


Kurang
     


Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang














Tabel 4.5. Keaktifan Kelompok Kelinci Siklus II



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.






































Sangat baik
Kurang


Sangat baik
Kurang

Sangat baik
Sangat baik

Baik
     


Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang














Tabel 4.6. Keaktifan Kelompok Ikan Mas Siklus II



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.





















































Sangat baik
Kurang


Cukup

Cukup 

Cukup

Cukup


Cukup
     


Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang







Tabel 4.7. Keaktifan Kelompok Kucing Siklus II



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.











































































Sangat baik
Sangat kurang

Sangat baik
Baik 

Baik 

Sangat kurang

Sangat kurang



Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang







Tabel 4.8. Keaktifan Kelompok Kuda Siklus II



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.

















































































Sangat baik
Sangat baik

Sangat baik
Sangat baik 
Sangat baik 
 Sangat baik

Baik  



Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang





Tabel 4.9. Keaktifan Kelompok Merak Siklus II
No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.




Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.





















































































Sangat baik
Baik


Sangat baik
Sangat baik 
Sangat baik 
Baik


Sangat baik 






Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang


c.       Keaktifan Siswa di Kelas
                     Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran lebih meningkat dari pada pelaksanaan tindakan I, tetapi masih perlu ditingkatkan lagi terutama dalam membangkitkan rasa sosialisme siswa serta respon siswa saat pembelajaran. Untuk lebih jelasnya dapat dilhat dari tabel berikut ini.
      Tabel 4.10. Keaktifan Siswa Dalam Kelas Siklus II



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.



2.


3.


4.



5.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran (bertanya jawab).
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil karyanya di depan kelas.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya.
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.











































Sangat baik



Sangat baik


Baik


Cukup



Cukup





     


      Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang

d.      Hasil Belajar Siswa
                           Hasil belajar kemampuan/keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada tindakan siklus II dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.11.   Kemampuan/Keterampilan Mendeskripsi Secara Tertulis                             Siklus II



No.
KATEGORI
INTERVAL NILAI
FREK.
%
KETERANGAN
1.
2.
3.
4.
5.
Sangat baik
Baik
Sedang
Kurang
Sangat kurang
85-100
70-  84
55-  69
40-  54
  0-  39
  1
 12
  9
  0
  0
  4
55
41
  0
  0


Prosentase

P =
R
X 100%
T
P =
 13
X 100%
22
     =  59 %

Jumlah

22
100
Sedang




Dari daftar tabel hasil kemampuan atau keterampilan mendeskripsi secara tertulis dapat disimpulkan :
1)            Secara prosentase keterampilan mendeskripsi secara tertulis siswa kelas II pada tindakan siklus II mengalami peningkatan yaitu 59%.
2)            Dari 22 siswa yang memiliki keterampilan mendeskripsi secara tertulis dengan sangat baik ada 1 siswa (4%), memiliki keterampilan baik ada 12 siswa (55%), berketerampilan sedang ada 9 siswa (41%).
3)            Secara umum hampir sebagian siswa sudah mulai terlihat terampil dalam mendeskripsi secara tertulis.
4)            Hampir sebagian siswa sudah mulai terampil dalam menulis dengan menggunakan pemilihan kata yang tepat dan tulisan yang rapi.
Melalui pembelajaran kontekstual dengan mendayagunakan puzzle (potongan gambar) binatang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam mendeskripsi secara tertulis, semangat siswa, daya imajinasi siswa dan partisipasi aktif siswa dalam kelompok dan antar siswa di dalam proses pembelajaran.

4.      Analisis dan Refleksi Tindakan II
               Dari hasil observasi yang dilaksanakan pada tindakan II maka dapat dianalisis sebagai berikut:
a.      Proses Pembelajaran
                     Proses pembelajaran pada siklus II ini sudah lebih baik dari pada pembelajaran pada siklus I. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan aktivitas proses pembelajaran baik oleh guru ataupun oleh siswa.
      Ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki antara lain:
1)            Penggunaan media pembelajaran harus lebih variatif lagi untuk meningkatkan daya imajinasi siswa sehingga siswa dapat mendeskripsi binatang dengan baik.
2)            Pemberian motivasi atau rangsangan harus lebih ditingkatkan lagi, supaya siswa lebih terlihat antusiasmenya dengan menunjukkan keceriaannya saat pembelajaran berlangsung.
b.      Hasil Pembelajaran
                     Prosentase hasil kemampuan atau keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada siklus II sebesar 59% sedang pada siklus I sebesar 45,4% menunjukkan adanya peningkatan sebesar 13,5%, yakni dari kategori kurang menjadi kategori sedang. Maka siklus II perlu ditindaklanjuti pada siklus III untuk dapat mencapai hasil dengan kategori baik serta dengan tingkat keterampilan mendeskripsi secara tertulis yang lebih tinggi.

D.    Deskripsi Hasil Penelitian Siklus III
1.            Perencanaan Tindakan III
               Pada siklus III ini guru (peneliti) merencanakan kegiatn pembelajaran yang akan dilaksanakan, dengan menyusun:
a)            Rencana Pembelajaran
b)            Media pembelajaran berupa gambar seri tentang hal yang berhubungan dengan sapi.
c)            Lembar Kerja Siswa (LKS)
d)            Melaksanakan evaluasi mendeskripsi secara tertulis.
         Tindakan III ini merupakan perbaikan dari tindakan II. perbaikan ini didasarkan pada hasil analisis dan refleksi yang terjadi pada tindakan sebelumnya dan bertujuan untuk menyempurnakan agar tujuan pembelajaran yang dirumuskan dapat tercapai secara optimal.
         Perencanaan tindakan ini disusun tiga kegiatan pokok, yaitu:
1.      Peneliti memperbaiki Rencana Pembelajaran dengan penekanan-penekanan pada kekurangan yang terjadi pada tindakan II
2.      Peneliti menyusun LKS
3.      Membuat dan mempersiapkan gambar seri tentang hal yang berhubungan dengan sapi.
         Perencanaan ini dilaksanakan dengan melihat kembali persiapan mengajar, pembentukan kelompok sebagai motivator diri siswa dalam pembelajaran dan merencanakan kegiatan pembelajaran yang lebih efektif.

2.      Pelaksanaan Tindakan III
               Tindakan III ini dilaksanaakan pada hari Selasa, 3 Juni 2008 yang diikuti oleh 22 siswa, dengan ketentun sebagai berikut:
a.       Kompetensi Dasar
a)            Bahasa Indonesia
         Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang secara sederhana dengan bahasa tulis.
b)            Matematika
         Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka.
c)            IPA
                  Mengenal bagian-bagian utama hewan dan tumbuhan di sekitar rumah dan sekolah melalui pengamatan.
b.      Indikator
a)            Bahasa Indonesia
         Mendeskripsikan binatang yang ada pada gambar secara tertulis dengan bahasa yang sederhana.
b)            Matematika
         Menyelesaikan soal cerita tentang operasi hitung perkalian yang hasilnya bilangan dua angka.
c)            IPA
         Mengidentifikasi binatang pada gambar dengan menyebutkan ciri-cirinya secara lengkap.
c.       Tujuan Pembelajaran
      Melalui pembelajaran kontekstual dengan media gambar binatang “Sapi” diharapkan:
                                          1)            Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri sapi.
                                          2)            Siswa dapat menggambarkan/mendeskripsikan sapi secara tertulis.
                                          3)            Siswa dapat mendeskripsikan sapi secara tertulis dengan pemilihan kata yang tepat dan sesuai proporsi.
                                          4)            Siswa dapat menuliskan deskripsinya dengan tulisan yang rapi dan mudah dibaca.
                                          5)            Siswa dapat membuat kalimat tebak-tebakan dengan penggunaan kata tepat dan bervariasi.
                                          6)            Siswa dapat melakukan operasi hitung perkalian dari soal cerita dengan jawaban yang tepat.
                                          7)            Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri sapi sesuai dengan gambar yang diamati.
d.      Alokasi waktu pembelajaran tematik 1X pertemuan.
e.       Tempat pembelajaran adalah ruang kelas II
f.        Uraian Tindakan
a)            Pra Pembelajaran
1.      Guru menata ruang kelas siswa
2.      Guru mempersiapkan media pembelajaran berupa gambar seri tentang hal-hal yang berhubungan dengan sapi.
3.      Siswa dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok yang dengan anggota empat siswa.
4.      Siswa memberikan nama pada kelompoknya dengan nama hewan.
5.      Siswa memberikan alasan tentang pemilihan nama kelompoknya
b)            Kegiatan Awal
         Apersepsi dengan bertanya-jawab mengenai hal-hal yang siswa ketahui yang berhubungan dengan sapi.
c)            Kegiatan Inti
1.      Guru membagikan gambar seri tentang sapi kepada masing-masing kelompok.
2.      Siswa mengamati gambar seri yang telah diberikan guru.
3.      Siswa mulai mendeskripsikan gambar tersebut secara tertulis.
4.      Siswa mendeskripsikan gambar dengan kalimat tebak-tebakan.
5.      Bagi kelompok yang menghasilkan kalimat tebak-tebakan terbaik dengan pengolahan kata dan bahasanya akan mendapatkan poin.
6.      Siswa mengerjakan soal cerita operasi hitung perkalian.
      Soal :
1).          Ada 7 ayam di dalam setiap kandang. Berapa ayam seluruhnya di dalam 6 kandang?
2).          Seekor kelinci mempunyai 4 kaki. Berapa banyak kaki seluruhnya dari 9 kelinci?
7.      Siswa menyebutkan manfaat sapi bagi kehidupan
Tabel 4. 12 Manfaat Binatang bagi Kehidupan



No.
Nama binatang
Manfaat/kegunaannya bagi kehidupan sehari-hari
1.



Sapi



Tenaganya untuk menarik gerobak
Dagingnya untuk dimakan
……………………………..




d).          Kegiatan Akhir
1.      Guru bersama siswa menentukan beberapa kelompok yang berhak mendapatkan penghargaan sebagai kelompok Good, kelompok Better, dan kelompok Best.
2.      Guru memberikan penghargaan berupa simbol matahari yang telah dikumpulkan dan piagam.
3.      Sebagai akhir dari pembelajaran siswa menyanyikan lagu “Burung Kutilang”.
     
3.      Observasi dan Hasil Pelaksanaan Tindakan III
               Observasi tindakan III dilaksanakan sebagaimana pada pelaksanaan observasi pada tindakan II, peneliti dan teman sejawat sebagai anggota tim penelitian mengamati proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti selaku guru kelas II dengan menggunakan panduan observasi, namun lebih menitikberatkan pada kekurangan yang terjadi pada siklus II.
               Hasil tindakan pada siklus III ini adalah sebagai berikut :
a.      Proses Pembelajaran
1)            Tujuan Pembelajaran
         Tujuan yang dirumuskan sudah jelas sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan siswa serta berkaitan langsung dengan materi pelajaran dan kemampuan anak.



2)            Pengembangan Pelajaran
         Pengembangan pelajaran logis, kemajuan terhadap konsisten pembagian waktu tepatdan memberikan banyak kesempatan pada siswa untuk berpartisipasi aktif secara langsung.
3)            Penguasaan Guru terhadap Materi Pelajaran
         Guru sangat menguasai materi yang diajarkan dan penjabarannya memadai dan komunikatif sehingga sangat mudah dimengerti oleh siswa.
4)            Pengelolaan Belajar
         Penggunaan waktu dalam pengelolaan belajar sudah dapat dikatakan efektif, kreatif, dan bervariasi sehingga siswa terlihat sangat antusias dalam kegiatan mendeskripsi secara tertulis.
5)            Interaksi Guru dengan kelompok Belajar
         Guru lebih aktif mengembangkan tingkat kemampuan dan pemahaman siswa melalui permainan dan kerjasama dalam kelompok belajar. Selain itu guru juga sering berkeliling atau sangat responsif untuk selalu berusaha memberi motivasi kepada siswa untuk aktif dan kreatif sehingga kerja kelompok benar-benar lebih hidup.
6)            Interaksi Guru dengan Masing-masing Siswa
         Guru selalu berusaha memberi perhatian kepada setiap siswa secara merata, memberikan umpan balik yang sifatnya “segera” terhadap jawaban ataupun pertanyaan siswa. Umpan balik dilakukan dengan cara yang bervariasi yaitu melalui ucapan/kata-kata verbal, sanjungan, anggukan, dan acungan jempol.
7)            Interarksi antar Siswa
         Dalam pembelajaran siklus III ini tampak adanya interaksi antar kelompok dalam mengerjakan tugas. Hampir semua siswa aktif, perhatian guru terhadap siswa merata, guru juga sering berkeliling kelas untuk memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga secara tidak langsung siswa lebih berpikir kritis, aktif, konstruktif, dan tertib sampai waktu pembelajaran berakhir.

b.      Keaktifan Siswa dalam Kelompok
                  Hasil observasi terhadap enam kelompok belajar yang dilaksanakan hasilnya adalah seperti terlihat pada tabel berikut:







Tabel 4.13. Keaktifan Kelompok Rajawali Siklus III



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.













































































Sangat baik
Baik


Sangat baik
Sangat baik 
Sangat baik 
Sangat baik

Sangat baik



Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang







Tabel 4.14. Keaktifan Kelompok Kelinci Siklus III



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.














































































Sangat baik
kurang 


Sangat baik
Sangat baik 
Sangat baik 
Sangat baik

Sangat baik



Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang

                    





Tabel 4.15. Keaktifan Kelompok Ikan Mas Siklus III



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.















































































Sangat baik
Sangat baik 

Sangat baik
Sangat baik 
Sangat baik 
Sangat baik

Baik



Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang







Tabel 4.16. Keaktifan Kelompok Kucing Siklus III



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.















































































Sangat baik
Baik


Sangat baik
Sangat baik 
Sangat baik 
Baik


Baik



Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang







Tabel 4.17. Keaktifan Kelompok Kuda Siklus III



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.


3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa melibatkan diri dalam pembelajaran Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.
















































































Sangat baik
Baik


Sangat baik
Sangat baik 
Sangat baik 
Sangat baik

Sangat baik



Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang






Tabel 4.18. Keaktifan Kelompok Merak Siklus III



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.

2.
3.

4.

5.

6.


7.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran
Siswa aktif dalam kelompok.
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil kerja kelompoknya di depan kelas.
Kerja sama dalam kelompok terjalin dengan baik.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.

















































































Sangat baik
Sangat baik


Sangat baik
Sangat baik 
Sangat baik 
Sangat baik

Sangat baik
     


Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang











      Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa :
1).          Semua siswa terlibat dalam pembelajaran, yakni dengan menunjukkan kesungguhannya dalam belajar.
2).          Hampir semua siswa aktif dalam kelompoknya.
3).          Semua siswa aktif dalam melaksanakan tugas yang diberikan guru bersama teman-teman dalam kelompoknya.
4).          Keberanian setiap siswa dalam menyampaikan hasil tugas kelompoknya sudah mencapai 100%, adanya monopoli pun sudah tidak terlihat lagi.
5).          Kerjasama dalam kelompok terjalin dengan baik terlihat dengan adanya kekompakan dalam kerja kelompok.
6).          Semua siswa sudah menunjukkan antusiasmenya dalam pembelajaran.

c.       Keaktifan Siswa di Kelas
                  Hasil observasi keaktifan siswa di kelas selama        pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut:






      Tabel 4.19. Keaktifan Siswa Dalam Kelas Siklus III



No.
Apek yang diamati
Hasil pengamatan
Rata-rata
1
2
3
4
5
1.



2.


3.


4.



5.
Siswa melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran (bertanya jawab).
Siswa melaksanakan tugas yang diberikan guru.
Siswa membacakan hasil karyanya di depan kelas.
Siswa menampilkan sikap bersahabat terhadap teman-temannya.
Respon siswa dalam pembelajaran dengan menunjukkan keceriaan dan antusiasmenya selama pembelajaran.





















































Sangat baik



Sangat baik


Sangat baik


Sangat baik



Sangat baik





     


      Keterangan:
      5 = sangat baik               3 = cukup                    1 = sangat kurang
      4 = baik                          2 = kurang


      Berdasarkan hasil observasi tersebut dapat diketahui bahwa:
1)            Semua siswa terlihat ikut berpastisipasi aktif dalam pembelajaran, hal itu terlihat dengan adanya perhatian siswa yang ditujukan pada materi yang diajarkan.
2)            Semua siswa melaksanakan tugas mendeskripsi secara tertulis dengan baik.
3)            Semua siswa sudah mempunyai keberanian dalam menyampaikan hasil pekerjaannya di depan kelas, hal itu terlihat dari setiap siswa yang antusias dalam membacakan hasil karyanya.
4)            Interaksi antar siswa dalam aktivitas pembelajaran tergambar dengan adanya siswa yang mulai peduli dengan teman-temannya.
5)            Respon siswa saat pembelajaran ditunjukkan dengan adanya antusiasme dan keceriaan siswa saat pembelajaran berlangsung.

d.      Hasil Pembelajaran
                  Hasil kemampuan atau keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada tindakan III dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.20.   Kemampuan/Keterampilan Mendeskripsi Secara Tertulis                             Siklus III


No.
KATEGORI
INTERVAL NILAI
FREK.
%
KETERANGAN
1.
2.
3.
4.
5.
Sangat baik
Baik
Sedang
Kurang
Sangat kurang
85-100
70-  84
55-  69
40-  54
  0-  39
  7
 12
  3
  0
  0
 32
 54
 14
  0
  0


Prosentase

P =
R
X 100%
T
P =
19
X 100%
22
     =  86,3 %

Jumlah

22
100
Sedang
Dari daftar tabel hasil kemampuan atau keterampilan mendeskripsi secara tertulis dapat disimpulkan :
1)            Secara prosentase keterampilan mendeskripsi secara tertulis siswa kelas II pada tindakan siklus III mengalami peningkatan yaitu 86,3 %.
2)            Dari 22 siswa yang memiliki keterampilan mendeskripsi secara tertulis dengan sangat baik ada 2 siswa (32%), memiliki keterampilan baik ada 12 siswa (54%), berketerampilan sedang ada 9 siswa (14%).
3)            Secara umum hampir semua siswa sudah terampil dalam mendeskripsi secara tertulis.
4)            Hampir semua siswa terampil dalam menulis dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan tulisan yang rapi.
Melalui pembelajaran kontekstual dengan mendayagunakan gambar seri yang berhubungan dengan binatang yang dijadikan sebagai objek dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam mendeskripsi secara tertulis, semangat siswa, daya imajinasi siswa dan partisipasi aktif siswa dalam kelompok dan antar siswa di dalam proses pembelajaran.

4.      Analisis dan Refleksi Tindakan III
               Dengan melihat hasil observasi jalannya tindakan siklus III maka dapat dianalisis dan direfleksi sebagai berikut:
a.      Proses Pembelajaran
                     Jalannya pelaksanaan siklus III ini mulai dari perencanaan sampai pemberian tindakan dan evaluasi akhir telah lancar dan lebih baik dari siklus I dan siklus II. Hal ini disebabkan karena adanya perbaikan-perbaikan berdasarkan kekurangan ataupun kelemahan pada siklus sebelumnya.
                     Aktivitas guru mupun aktivitas siswa sedikit demi sedikit mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari hasil observasi terhadap kegiatan siswa oleh guru dan kegiatan guru oleh observer yang menunjukkan kecenderungan meningkat.
                     Keberanian siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan serta mengungkapkan pendapat ataupun mengungkapkan hasil kerja kelompok semakin baik pula. Hal ini dapat dilihat dari siswa yang biasanya diam atau pasif, sekarang berani bertanya bahkan berani menyampaikan hasil kerja kelompoknya.
                     Semangat atau antusias, perhatian, dan partisipasi aktif  siswa dalam pembelajaran keterampilan mendeskripsi secara tertulis terlihat jelas yang berpengaruh pada meningkatnya keterampilan siswa dalam mendeskripsi binatang secara tertulis.

b.      Hasil Pembelajaran
                  Prosentase hasil kemampuan mandeskripsi secara tertulis pada siklus III adalah sebesar 86,3%, sedangkan prosentase hasil pembelajaran pada siklus II adalah sebesar 59%. Hal ini berarti ada peningkatan hasil keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada siklus III sebesar 27,3% yakni dari kategori sedang menjadi kategori sangat baik.
  
E.           Pembahasan
                        Hasil studi pendahuluan dalam penelitian tindakan ini dari 22 jumlah siswa kelas II tahun pelajaran 2007/2008 SDN 02 Pedawang Karanganyar kabupaten Pekalongan yang mampu mendeskripsi secara tertulis dengan baik dan memperoleh nilai di atas 70 (nilai KKM menulis) ada 6 siswa atau hanya 27%. Dari hasil prosentase yang sangat kurng inilah maka diadakan atau ditindaklanjuti dengan usaha-usaha perbaikan pembelajaran yaitu dengan melaksanakan tindakan atau siklus I, melalui pembelajaran kontekstual dengan mendayagunakan gambar binatang sebagai media utama dalam pelaksanaan siklus.
                        Dari hasil pelaksanaan pembelajaran pada siklus I secara prosentase kemampuan/keterampilan mendeskripsi secara tertulis terjadi peningkatan  yang cukup signifikan yakni sebesar 18,4%, atau tepatnya sebelum dilaksanakan tindakan prosentase yang dicapai sebesar 27% meningkat menjadi 45,4% setelah dilaksanakan siklus I.
                        Berdasarkan hasil observasi dan analisis, meskipun siklus I ini terjadi peningkatan hasil keterampilan mendeskripsi secara tertulis namun masih dalam kategori kurang. Hal ini dapat dilihat karena dari sebagian besar siswa masih belum bisa menulis dengan baik, karena pilihan kata yang digunakan belum tepat. Selain itu tulisan yang disajikan juga belum terlihat rapi dan cenderung acak-acakan sehingga sukar dibaca. Adapun cara mengatasi masalah ini, guru menggunakan pembelajaran kontekstual dengan mendayagunakan media gambar binatang dalam hal ini sapi sebagai alternatif pembelajaran. Gambar sapi dipilih sebagai media karena binatang tersebut sudah dikenal baik oleh siswa sehingga tidak terlalu sulit bagi siswa untuk mendeskripsikannya.
                        Tindakan II atau siklus II lebih berhasil dibanding dengan tindakan/siklus I dengan hasil prosentase 59% dalam kategori sedang, sedangkan hasil prosentase tindakan I adalah 45,4%. Hal ini berarti ada peningkatan hasil sebesar 13,6%. Peningkatan hasil pada siklus II ini disebabkan karena guru lebih kreatif dan imajinatif yakni dengan menggunakan puzzle (potongan gambar). Dampak ataupun hasil dari penggunaan media tersebut sangat positif, sebab siswa jadi tertarik dan responsif serta gembira dalam belajar. Dengan perasaan yang senang maka bukan tidak mungkin jika hasil pembelajaran pun akan meningkat karena dengan rasa senang maka siswa akan lebih mudah berpikir dan menuliskan apa yang dipikirkannya sesuai dengan gambar yang telah tersusun dengan baik.
                        Selain dengan media pembelajaran yang lebih variatif, dengan metode kelompok belajar juga memudahkan siswa untuk mendeskripsi dengan baik. Hal itu karena dengan berkelompok, siswa lebih mudah untuk bertukar pikiran dan menambah pengetahuan tentang objek yang akan dideskripsikan, sehingga siswa dapat menulis dengan baik. Dengan kelompok belajar dapat meningkatkan sikap bersahabat dan kepedulian siswa terhadap teman-temannya.
                        Keberhasilan tindakan pada siklus II ini belum bisa dikatakan berhasil dengan baik karena hasil pembelajarannya baru mencapai kategori sedang dengan prosentase sebesar 59%. Oleh karena itu peneliti (guru) masih harus melaksanakan tindakan pada siklus berikutnya untuk mencapai hasil yang maksimal dan optimal.
                        Pada pelaksanaan tindakan III atau siklus III kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan adalah mendeskripsi binatang secara tertulis dan membuat kalimat tebak-tebakan tentang seekor binatang melalui urutan gambar seri. Dengan bantuan gambar seri tersebut, siswa dapat mendeskripsi binatang dengan baik yakni dengan meyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan binatang tersebut. Selain itu siswa dapat membuat kalimat tebak-tebakan dengan pilihan kata yang tepat. Sehingga pada siklus III pembelajaran dianggap berhasil dan tujuan pembelajaran tercapai.
                        Dengan strategi pembelajaran dan penggunaan media pembelajaran yang lebih kompleks dan menarik pada pelaksanaan proses pembelajaran siklus III ini seluruh sswa berpartisipasi aktif dan antusiasme siswa pada kegiatan tersebut dan kerjasama antar siswa siswa juga meningkat. Oleh karena itu dampak yang ditimbulkan terhadap pembelajaran yang berbasis kontekstual dengan mendayagunakan media gambar, dalam hal ini gambar seri sangat positif. Hal itu berpengaruh pada penacapaian hasil belajar siswa pada keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada siklus III ini mengalami peningkatan. Secara prosentase hasil kemampuan siswa pada siklus III ini adalah 86,3% atau dalam kategori sangat baik, sedang prosentase hasil siklus sebelumnya atau siklus II adalah 59% sehingga ada peningkatan sebesar 27,3%.
                        Dengan demikian penelitian tindakan kelas dengan mengambil mata pelajaran Bahasa Indonesia pada pembelajaran mendeskripsi secara tertulis melalui penerapan pembelajaran kontekstual dengan memanfaatkan gambar binatang sebagai media utama dalam pembelajaran berhasil sesuai dengan harapan yaitu dapat meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan.










BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
                  Berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis pada siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Kegiatan pembelajaran mendeskripsi secara tertulis pada sisiwa kelas II SD dilaksanakan berdasarkan aspek-aspek kemampuan/keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa sesuai indikator-indikator berikut:
a).          Siswa dapat mendeskripsi secara tertulis dengan pilihan kata yang tepat.
b).          Siswa dapat menyajikan tulisan dengan bentuk tulisan yang rapi.
c).          Siswa dapat mendeskripsi binatang dalam bentuk kalimat tebak-tabakan.
2.      Proses pelaksanaan pembelajaran mendeskripsi secara tertulis melalui penerapan pembelajaran kontekstual dengan memanfaatkan media gambar binatang dapat meningkatkan keterampilan mendeskripsi secara tertulis siswa kelas II SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan. Peningkatan keterampilan mendeskripsi secara tertulis ini dapat dilihat dari hasil pelaksanaan penelitian yaitu prosentase pada studi pendahuluan sebesar 27%, atau hanya 6 siswa dari 22 siswa yang mampu menulis dengan baik yakni dapat mencapai nilai di atas nilai 70 atau nilai KKM pada aspek menulis. Hasil siklus I meningkat menjadi 45,4% (kurang) karena dari 22 siswa 10 siswa yang berhasil memperoleh nilai di ats nilai KKM, hasil pelaksanaan siklus II meningkat sebesar 59%(sedang) yakni dari 22 siswa 13 siswa berhasil memperoleh nilai di atas nilai KKM, dan pada siklus III mengalami peningkatan sebesar 86,3%(sangat baik), dari 22 siswa yang dijadikan sampel ada 7 siswa dalam kategori sangat baik dan 12 siswa dalam kategori baik.
3.      Proses pembelajaran mendeskripsi secara tertulis melalui penerapan pembelajaran kontekstual dengan memnfaatkan media gambar binatang yang cukup bervariasi dapat meningkatkan motivasi belajar, dan partisipasi aktif siswa. Hal ini dapat dilihat dari kerja sama antar siswa yang semakin meningkat, antusiasme siswa dalam belajar, kesungguhan siswa dalam mengerjakan tugas sekaligus mempresentasikan hasil kerjanya juga meningkat, siswa terlihat tertib dan gembira untuk selalu mengikuti pembelajaran dari awal sampai akhir pembelajaran.
4.      Penggunaan pendekatan kontekstual oleh guru dalam pembelajaran juga meningkatkan keterampilan guru dalam pembelajaran. Dengan meng-gunakan pendekatan kontekstual guru jadi lebih responsif terhadap siswa, karena dengan adanya kelompok belajar mau tidak mau guru harus memberikan bimbingan terhadap setiap kelompok sehingga diskusi dalam kelompok lebih hidup dan tidak pasif. Selain itu, guru juga lebih aktif dan kreatif dalam memotivasi siswa dalam belajar, sehingga siswa lebih respon terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung.
5.      Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan siswa dalam mendeskripsi secara tertulis adalah meliputi kesalahan penggunaan atau pemilihan kata yang tepat dalam menggambarkan seekor binatang dengan baik sehingga cenderung berulang-ulang. Akan tetapi kesalahan-kesalahan tersebut dapat di atasi dengan pembelajaran berbasis kontekstual yang memanfaatkan media gambar binatang sebagai media alternatif dalam pembelajaran mendeskripsi secara tertulis siswa kelas II.

B.     Saran
                  Setelah dilakukan penelitian di SDN 02 Pedawang Karanganyar Kabupaten Pekalongan dan berdasarkan hasil yang diperoleh di lapangan, maka diajukan saran kepada pihak yang berkaitan dengan masalah ini dalam hal ini pembaca, adalah sebagai berikut:
1.      Bagi guru, dalam pembelajaran menulis khususnya menulis deskripsi diupayakan untuk menggunakan media baik berupa gambar ataupun model nyata sehingga memperpudah siswa untuk mendeskripsi objek dengan baik.
2.      Bagi pihak-pihak lain yang ingin meneliti lebih lanjut, disarankan untuk mengembangkan penerapan pembelajaran kontekstual dengan mendayagunakan media gambar dalam hal ini gambar binatang yang lebih kreatif dan bervariasi, sehingga lebih menarik minat siswa dalam kegiatan pembelajaran.
3.      Bagi Pengawas TK-SD, Kepala Sekolah, Instansi atau praktisi pendidikan perlu mendiskusikan, mengimplementasikan dan menindaklanjuti strategi pembelajaran kontekstual dengan media gambar yang bervariasi pada setiap pembelajaran menulis khususnya dalam mendeksripsi secara tertulis pada siswa kelas III, IV, V, dan VI SD.


















DAFTAR PUSTAKA
Alfianto, Achmad. 2006. Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah, Metamorfosis Ulat menjadi Kepompong. Artikel Pendidikan Network. Online http://re-researchengines.com, [accessed 24/10/07].

Anagram. 2007. Pentingnya Bahasa dalam Kehidupan. Online http://reinemarie.wordpress.com [accessed 27/04/08].

Ani, Diah. 2007. Pembelajaran Pakem. Sebuah Perjalanan Menuju Perubahan. Online http://mbeproject.net [accessed 15/01/08].

Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Bandung: Yrama Widya.

Arya Yanti, P. 2007. Menumbuhkan Budaya Menulis pada Anak. Online http://www.sabda.org [accessed 24/02/08].

BSNP, 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SD/MI. Jakarta : Badan Standar Nasional Pendidikan.

Darsono, Max, 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.

Depdikbud, 1994. Kurikulum SD GBPP Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Depdiknas, 2007. Pembelajaran Aktif Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Online http://farhanzen.wordpress.com [accessed 15/01/08].

Dikdasmen Diknas, 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)). Jakarta: Depdiknas.

Edy, S. 2003. Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Melalui Pendayagunaan Media Kartu Bahasa Pada Siswa Kelas II SDN 02 Wonosari Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal. (Skripsi Universitas Negeri Semarang).

Hamidi, Z. 2001. P&P Kontekstual Sains dan Tematik, Online http://www.tutor.com.my [accessed 22/11/07].

Johnson, Elaine B, 2008. Contextual Teching & Learning. Bandung: Mizan Learning Center (MLC)

Kusumah, W. 2007. Media Pembelajaran. Online http://wijayalabs.blogspot.com [accessed 10/03/08].

Mastur, Zaenuri. 2004. Model Pembelajaran Lingkungan. Online http://www.suaramerdeka.com [accessed 06/11/07]
.
Muchith, M. Saekhan, 2008. Pembelajaran Kontekstual. Semarang: RaSAIL Media Group.

Pantow, Johana, dkk. 2002. Analisa kemampuan menulis Bahasa Inggris Mahasiswa FKIP-UT. Online http://digilib.itb.ac.id [accessed 26/01/08].

PTK, 2008. Salah Satu Contoh PTK dalam Bidang Bahasa. Online http://aflahchintya23.wordpress.com [accessed 10/03/08].

Purwaningtyas, Sri. 2007. Pengaruh Pendekatan Kontekstual (CTL) Terhadap Keterampilan Menulis Deskripsi. Online http://pasca.uns.ac.id, [accssed  10/03/08].

Purwanto, M. Ngalim. 1997. Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta: Rosda Jayaputra.

Pustaka, Pepak. 2002. Aktivitas Menulis. Online http://pepak.sabda.org, [accessed 10/03/08].

Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sriwilujeng, Dyah, dkk. 2007. Pembelajaran Terpadu dengan Pendekatan Tematik. Malang: Erlangga.

Sukmana. 2004. Dinamika Proses Belajar. Online http://www.pikiran-rakyat.com, [accessed 15/01/08].

Syahrudin, D. 2007. Penggunaan Media Gambar untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Prosa. Online http://ind.sps.upi.edu, [accessed 10/03/08].

Wibowo, M.E. 2006. Panduan Menulis Karya Ilmiah. Semarang. Universitas Negeri Semarang.

Wijayanti, Ari. 2007. Pengajaran Bahasa Indonesia yang Efektif. Portal Dunia Guru. Online http://lubisgrafura.wordpress.com [accessed 24/10/07].

Wikipedia Indonesia. 2006. Menulis. Online http://id.wikipedia.org, [accessed 15/01/08].


File Lengkap Download DISINI
Contoh PTK LAINNYA

0 komentar:

Post a Comment