> MedEdu

Penyusunan Perangkat Pembelajaran

Posted by susilo On Sunday, 8 December 2019 0 komentar

C.     Penyusunan Perangkat Pembelajaran
Kegiatan penyusunan perangkat pembelajaran berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), instrumen penilaian dan bahan ajar, merupakan bagian dari upaya peningkatan kompetensi calon kepala sekolah dalam mengembangkan perangkat pembelajaran karena sebagai pemimpin pembelajaran, seorang kepala sekolah harus bisa menjadi model/teladan dalam pembelajaran. RPP, instrumen penilaian  dan bahan ajar yang disusun oleh penulis sebagai peserta diklat calon kepala sekolah sesuai dengan tema kelas V semester 1 tahun pelajaran berjalan 2017/2018 yakni tema 5 (Ekosistem), sub tema 2 (Hubungan antara makhluk hidup dalam ekosistem) Sesuai dengan jadwal rencana tindak lanjut (RTL), penyusunan perangkat ini sebanyak 1 kali pertemuan, masing-masing 4x35 menit. Kompetensi yang diambil adalah “ Tema 5 sub tema 2 pembelajaran 1 .  

READ MORE

Contoh Best Practice IPA SMP

Posted by susilo On Tuesday, 3 December 2019 0 komentar

Contoh Best Practice IPA SMP – Bagi bapak dan ibu guru di banyak sekali daerah, ketika ini sedang berlangsung acara PKP (Pengembangan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Salah satu kiprah yang harus dilengkapi salah satunya ialah menciptakan best practice.  


Mungkin ada rekan-rekan guru yang belum mengetahui apa itu best practice?. Best Practice ialah Salah satu jenis karya tulis yang disarankan untuk dibentuk oleh pendidik atau tenaga kependidikan. 

Best Practice adalah sebuah karya tulis yang menceritakan pengalaman terbaik dalam menuntaskan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh pendidik atau tenaga kependidikan sehingga bisa memperbaiki mutu layanan pendidikan dan pembelajaran. 
Best Practice tidak selalu identik dengan hal-hal yang besar dan revolusioner yang dilakukan oleh pendidik atau tenaga kependidikan dalam menuntaskan masalah, tetapi bisa juga melalui sebuah hal kecil, penerapan alternatif-alternatif pemecahan duduk kasus yang sederhana, tetapi efektif dan dampaknya terasa oleh sekolah. 

Sistematika penulisan Best Practice tentu berbeda dengan makalah atau skripsi, berikut sistematika penulisan best practice : 
A. Latar Belakang Masalah, 
B. Identifikasi Masalah, 
C. Tujuan, 
D. Hasil yang Diharapkan, 
E. Pelaksanaan dan Hasil Penyelesaian Masalah, dan 
F. Simpulan dan Saran. 

Berikut ini kami berikan rujukan best practice untuk mata pelajaran IPA jenjang Sekolah Menengah Pertama :


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 tahun 2006 perihal standar isi satuan pendidikan dasar menengah, menjelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu bidang studi yang dipelajari pada pendidikan di Sekolah. IPA bekerjasama dengan cara mencari tahu perihal alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA dibutuhkan sanggup menjadi wahana bagi penerima didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pelaksanaan pembelajarannya, IPA harus dirancang sesuai dengan kebutuhan, karakter,dan kemampuan siswa. Tidak bisa hanya dilakukan dengan sekedar transfer ilmu (transfer knowledge) dari guru ke siswa. Tetapi harus mengarahkan penerima didik untuk berfikir kritis dan sanggup menuntaskan masalahnya sendiri atau problem solving yang disebut dengan pembelajaran higher order thinking skill. Selain itu, berdasarkan hasil temuan Depdiknas proses pembelajaran IPA selama ini masih berorientasi pada penguasaan teori dan hafalan. Metode pembelajaran yang terlalu berorientasi kepada guru cenderung mengabaikan hak-hak dan kebutuhan siswa, sehingga proses pembelajaran yang menyenangkan dan mencerdaskan kurang optimal.

Pembelajaran kala 21 telah mengalami banyak pergeseran, diantaranya dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada penerima didik. Tidak dipungkiri pada pembelajaran konvensional, tahun-tahun sebelumnya lebih berpusat pada guru. Gurulah yang aktif dalam pembelajaran, sehingga penerima didik hanya menyimak dan mendengarkan saja. Kalau di dalam bahasa jawa istilahnya “ anteng sedheku “. Peserta didik harus duduk hening , tangan dilipat di atas meja. Metode yang dipakai gurupun cenderung untuk metode ceramah. Mengajar IPA pun seperti menjadi pelajaran sejarah IPA. Hal ini tentu banyak kelemahannya, sebab kemampuan penerima didik untuk mendengar dan menyimak tentu berbeda-beda.

Salah satu model pembelajaran yang berorientasi HOTS ialah discovery learning, Model pembelajaran inovasi (discovery learning) diartikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan warta secara pribadi tetapi siswa dituntut untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai warta tersebut secara mandiri. Siswa dilatih untuk terbiasa menjadi seorang yang saintis (ilmuan). Mereka tidak hanya sebagai konsumen, tetapi dibutuhkan pula bisa berperan aktif, bahkan sebagai pelaku dari pencipta ilmu pengetahuan. Selan itu penulis juga menyebarkan metode Windows Shopping, Pembelajaran ini lebih menekankan pada ketrampilan sosial penerima didik, dan dibutuhkan penerima didik menjadi lebih aktif dan terlibat pribadi dalam proses melalui “shopping “ atau belanja antar kelompok. Di tamat pembelajaran dibutuhkan penerima didik mendapat belanjaan komplit , tentunya dengan konfirmasi dan penguatan dari guru selaku fasilitator.

Oleh sebab penulis dalam proram Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) akan memperbaiki pembelajaran yang di tuangkan dalam Best Practice dengan judul Penggunaan Metode Windows Shopping materi Gangguan Pencernaan pada Manusia dengan berorientasi pada pembelajaran HOTS. 

B. Jenis Kegiatan
Kegiatan yang dilaporkan dalam laporan best practice ini ialah acara pembelajaran IPA Kelas VIII semester ganjil dalam pokok bahasan perubahan zat dan dengan judul Penggunaan Metode Windows Shopping pada Materi Gangguan Sistem Pencernaan dengan berorientasi pada pembelajaran HOTS “ . 

C. Manfaat Kegiatan
Manfaat penulisan Best Practice ialah meningkatkan kompetensi penerima didik dalam Kompetensi Dasar Menganalisis sistem pencernaan pada insan dan memahami gangguan yang bekerjasama dengan sistem pencernaan, serta upaya menjaga kesehatan sistem pencernaan.





READ MORE

Contoh Best Practice PKP Bahasa Indonesia SMP

Posted by susilo On 0 komentar

Contoh Best Practice Bahasa Indonesia SMP – Bagi bapak dan ibu guru di aneka macam daerah, dikala ini sedang berlangsung kegiatan PKP (Pengembangan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Salah satu kiprah yang harus dilengkapi salah satunya ialah menciptakan best practice.


Mungkin ada rekan-rekan guru yang belum mengetahui apa itu best practice?. Best Practice ialah Salah satu jenis karya tulis yang disarankan untuk dibentuk oleh pendidik atau tenaga kependidikan.

Best Practice ialah sebuah karya tulis yang menceritakan pengalaman terbaik dalam menuntaskan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh pendidik atau tenaga kependidikan sehingga bisa memperbaiki mutu layanan pendidikan dan pembelajaran.


Best Practice tidak selalu identik dengan hal-hal yang besar dan revolusioner yang dilakukan oleh pendidik atau tenaga kependidikan dalam menuntaskan masalah, tetapi bisa juga melalui sebuah hal kecil, penerapan alternatif-alternatif pemecahan problem yang sederhana, tetapi efektif dan dampaknya terasa oleh sekolah.

Sistematika penulisan Best Practice tentu berbeda dengan makalah atau skripsi, berikut sistematika penulisan best practice : 
A. Latar Belakang Masalah, 
B. Identifikasi Masalah, 
C. Tujuan, 
D. Hasil yang Diharapkan, 
E. Pelaksanaan dan Hasil Penyelesaian Masalah, dan 
F. Simpulan dan Saran. 

Berikut ini kami berikan contoh best practice PKP untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia jenjang SMP :

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 perihal Sistem Pendidikan Nasional pasal 57 menyatakan bahwa penilaian dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Evaluasi dilakukan terhadap penerima didik, lembaga, dan kegiatan pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.

Dalam praktik pembelajaran Kurikulum 2013 yang penulis lakukan selama ini, penulis memakai buku siswa dan buku guru. Penulis meyakini bahwa buku tersebut sudah sesuai dan baik dipakai di kelas alasannya ialah diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata, dalam praktiknya, penulis mengalami beberapa kesulitan menyerupai bahan dan kiprah tidak sesuai dengan latar belakang siswa. Selain itu, penulis masih berfokus pada penguasaan pengetahuan kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi. Dengan demikian proses berpikir siswa masih dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Guru hampir tidak pernah melakukan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS).  Penulis juga jarang memakai media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas kaku dan belum dewasa tampak tidak ceria. 

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa diperoleh informasi bahwa (a) siswa malas mengikuti pembelajaran yang banyak dilakukan guru dengan cara ceramah, (b) selain ceramah, metode yang selalu dilakukan guru ialah penugasan. Sebagian siswa mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat teoritis, dan hanya menyalin dari buku teks. 

Untuk menghadapi masa Revolusi Industri 4.0, siswa harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).  Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 ialah model pembelajaran berbasis problem (problem based learning) PBL. PBL merupakan model pembelajaran yang mengedepankan taktik pembelajaran dengan memakai problem dari dunia aktual sebagai konteks siswa untuk mencar ilmu perihal cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari bahan yang dipelajarinya. 

Salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas siswa ialah menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP).

Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan, maka pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan istilah zonasi. Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan Guru (PKG) TK, kelompok kerja guru (KKG) SD, atau musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) SMP/SMA/SMK, dan musyawarah guru bimbingan dan konseling (MGBK), yang selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon, sanggup terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan pemberdayaan guru. Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, menyerupai status pengakuan sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.

Pedoman ini disusun untuk menunjukkan arah dalam implementasi Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi dalam penggunaan aspek HOTS, 5M, 4 Dimensi Pengetahuan dan Kecapakan Abad 21 di dalam RPP.

B. Jenis Kegiatan
Kegiatan yang dilaporkan dalam laporan praktik ini ialah kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia unit 1 Teks Cerita Pendek kelas IX dan unit 2 Teks Laporan Hasil Observasi Kelas VII.

C. Manfaat Kegiatan
Manfaat Program PKP Berbasis Zonasi ialah sebagai berikut:
1). Membiasakan guru untuk menciptakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai penilaiannya;
2). Membiasakan siswa untuk berpikir tingkat tinggi sehingga sanggup meningkatkan kompetensinya;
3). Memberikan teladan kepada kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik;
4). Memberikan teladan kepada pengawas sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik dan manajerial.

Bagi Anda yang membutuhkan contoh Best Practice PKP Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama silakan 


READ MORE

Contoh Best Practice Bimbingan Dan Konseling Smp

Posted by susilo On 0 komentar

Contoh Best Practice Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Pertama – Bagi bapak dan ibu guru di banyak sekali daerah, dikala ini sedang berlangsung acara PKP (Pengembangan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Salah satu kiprah yang harus dilengkapi salah satunya ialah membuat best practice.
Mungkin ada rekan-rekan guru yang belum mengetahui apa itu best practice?. Best Practice ialah Salah satu jenis karya tulis yang disarankan untuk dibentuk oleh pendidik atau tenaga kependidikan.



Best Practice ialah sebuah karya tulis yang menceritakan pengalaman terbaik dalam menuntaskan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh pendidik atau tenaga kependidikan sehingga bisa memperbaiki mutu layanan pendidikan dan pembelajaran.

Best Practice tidak selalu identik dengan hal-hal yang besar dan revolusioner yang dilakukan oleh pendidik atau tenaga kependidikan dalam menuntaskan masalah, tetapi bisa juga melalui sebuah hal kecil, penerapan alternatif-alternatif pemecahan duduk masalah yang sederhana, tetapi efektif dan dampaknya terasa oleh sekolah.

Sistematika penulisan Best Practice tentu berbeda dengan makalah atau skripsi, berikut sistematika penulisan best practice : 
A. Latar Belakang Masalah, 
B. Identifikasi Masalah, 
C. Tujuan, 
D. Hasil yang Diharapkan, 
E. Pelaksanaan dan Hasil Penyelesaian Masalah, dan 
F. Simpulan dan Saran.

Berikut ini kami berikan pola best practice untuk guru Bimbingan dan Konseling jenjang Sekolah Menengah Pertama :

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran Bimbingan dan Konseling merupakan proses yang dirancang dengan tujuan untuk membuat suasana lingkungan yang memungkinkan akseptor didik melakukan acara penyesuaian berguru di lingkungan sekolah yang baru, sehingga pemahaman Pembiasaan belajaratau sanggup dilakukan dengan baik dan hasil berguru yang optimal  oleh akseptor didik.

Dalam praktik pembelajaran Kurikulum 2013 yang penulis lakukan selama ini, penulis memakai pedoman POP bimbingan dan konseling . Penulis meyakini bahwa buku tersebut sudah sesuai dan baik dipakai di kelas sebab diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata, dalam praktiknya, penulis mengalami beberapa kesulitan ibarat bahan dan kiprah tidak sesuai dengan latar belakang akseptor didik. Selain itu, penulis masih berfokus pada penguasaan pengetahuan kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi. Dengan demikian proses berpikir siswa masih dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Guru hampir tidak pernah melakukan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS).  Penulis juga jarang memakai media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas kaku dan belum dewasa tampak tidak ceria. 

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa akseptor didik diperoleh isu bahwa (a) siswa malas mengikuti pembelajaran yang banyak dilakukan guru dengan cara ceramah (b) selain ceramah, metode yang selalu dilakukan guru ialah penugasan atau Pekerjaan Ruamh (PR). Sebagian akseptor didik mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat teoritis. Tinggal menyalin dari buku teks atau mencontoh temanya. 

Untuk menghadapi kala Revolusi Industri 4.0, akseptor didik harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 ialah model pembelajaran berbasis duduk masalah (problem based learning/PBL. PBL merupakan model pembelajaran yang mengedepankan taktik pembelajaran dengan memakai duduk masalah dari dunia kasatmata sebagai konteks siswa untuk berguru wacana cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari bahan yang dipelajarinya. Dalam PBL siswa dituntut untuk bisa memecahkan permasalahan kasatmata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual). Dengan kata lain, PBL membelajarkan akseptor didik untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mencari dan memakai sumber pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan duduk masalah yang dihadapi.  

Setelah melakukan pembelajaran Bimbingan dan Konseling  dengan model PBL, penulis menemukan bahwa proses dan hasil berguru akseptor didik meningkat. Lebih cantik dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Ketika model PBL ini diterapkan pada kelas VIIyang lain ternyata proses dan hasil belalajar peserta  didik  sama baiknya. Praktik pembelajaran PBL yang berhasil baik ini penulis simpulkan sebagai sebuah best practice (praktik baik) pembelajaran berorientasi HOTS dengan model PBL.

B. Jenis Kegiatan
Kegiatan yang dilaporkan dalam laporan best practiceini ialah acara pembelajaran Bimbingan dan Konseling Kelas VIII Kompetensi Dasar Belajar kelompok yang efektif.

C. Manfaat Kegiatan
Manfaat penulisan best practiceini ialah meningkatkan kompetensi akseptor didik dalam pembelajaran Bimbingan dan Konseling Kelas VIII B pada Kompetensi Dasar Belajar kelompok yang efektif. secara optimal yang berorientasi HOTS.

Bagi bapak dan ibu guru bimbingan dan konseling yang ingin mengunduh pola best practice bimbingan dan konseling Sekolah Menengah Pertama silakan 


Sumber : Taufik Arif Mardianto, S.Pd Guru SMPN 1 Gabuswetan

Bagi yang ingin mendapat Best Practice Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Pertama per-bab silakan unduh di bawah ini :

Cover Laporan 

Bab 1, Bab 2, Bab 3 dan Bab 4 
Foto Bimbingan Klasikal
Daftar Pustaka


Sumber : H. Ery Setyawan, S.Psi, M.Si Guru SMPN 1 Losarang



READ MORE

Contoh Best Practice Seni Budaya Smp

Posted by susilo On 0 komentar
Contoh Best Practice Seni Budaya SMP – Bagi bapak dan ibu guru di banyak sekali daerah, dikala ini sedang berlangsung aktivitas PKP (Pengembangan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Salah satu kiprah yang harus dilengkapi salah satunya yakni menciptakan best practice. 

Mungkin ada rekan-rekan guru yang belum mengetahui apa itu best practice?. Best Practice adalah Salah satu jenis karya tulis yang disarankan untuk dibentuk oleh pendidik atau tenaga kependidikan. 


Best Practice yakni sebuah karya tulis yang menceritakan pengalaman terbaik dalam menuntaskan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh pendidik atau tenaga kependidikan sehingga bisa memperbaiki mutu layanan pendidikan dan pembelajaran. 

Best Practice tidak selalu identik dengan hal-hal yang besar dan revolusioner yang dilakukan oleh pendidik atau tenaga kependidikan dalam menuntaskan masalah, tetapi bisa juga melalui sebuah hal kecil, penerapan alternatif-alternatif pemecahan persoalan yang sederhana, tetapi efektif dan dampaknya terasa oleh sekolah. 

Sistematika penulisan Best Practice tentu berbeda dengan makalah atau skripsi, berikut sistematika penulisan best practice : 
A. Latar Belakang Masalah, 
B. Identifikasi Masalah, 
C. Tujuan, 
D. Hasil yang Diharapkan, 
E. Pelaksanaan dan Hasil Penyelesaian Masalah, dan 
F. Simpulan dan Saran. 

Berikut ini kami berikan pola best practice untuk guru seni dan budaya Sekolah Menengah Pertama : 

BAB I 
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang 
Masalah Pendidikan hendaknya bisa menghasilkan individu yang sanggup menghadapi tantangan era ke-21. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 ditegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi berbagi kemampuan dan membentuk tabiat serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi penerima didik biar menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Menurut Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 mengamanatkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi penerima didik untuk berpartisipasi aktif, serta memperlihatkan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis penerima didik. Pentingnya mengajarkan dan berbagi motivasi penerima didik untuk berkreativitas dipandang sebagai sesuatu yang penting dalam proses pembelajaran. 

Pada dikala inilah keahlian guru sebagai pangkal suksesnya proses pendidikan, dituntut mempunyai keahlian dan kreativitas yang tinggi sehingga bisa menciptakan proses pembelajaran sesuai dengan yang diamanatkan. Keberhasilan dalam pembelajaran Seni Budaya salah satunya terletak pada masih kurangnya motivasi penerima didik untuk mengeluarkan kreativitas dalam bidang Seni Rupa yaitu mengekspresikan diri dalam karya mengambar. Akibatnya, proses pembelajaran dan hasil berguru siswa dalam berekspresi berkarya seni lukis belum maksimal. Selama proses pembelajaran banyak siswa yang terlihat dan mengaku mengalami kesulitan belajar. Kesulitan ini antara lain disebabkan siswa masih resah dalam menuangkan dan memilih imajinasi dalam objek menggambar dan merasa tidak mempunyai talenta dalam menciptakan karya seni lukis. 

Akibat dari permasalahan tersebut minat siswa rendah untuk berkarya seni lukis dan risikonya hasil belajarnya pun masih rendah. 

Mengingat rendahnya minat dan hasil berguru siswa serta kenyataan bahwa kesulitan siswa dalam berekspresi berkarya seni lukis, penulis tetapkan untuk melaksanakan perbaikan proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil berguru siswa. Perbaikan pembelajaran dilakukan dengan memakai dan memanfaatkan keunikan alam sekitar sebagai wawasan siswa untuk mencurahkan dan memilih objek gambar dalam berkarya seni lukis, serta dalam meningkatkan kemampuan berekspresi berkarya seni lukis. 

Bertolak dari uraian di atas, penulis bermaksud melaporkan hasil pembelajaran ini dalam laporan best practice dengan meningkatkan kreativitas siswa melalui pemanfaatan keunikan alam sekitar sebagai wawasan siswa telah berhasil meningkatkan minat dan hasil berguru siswa secara signifikan. Bahkan, penulis berkeyakinan pembelajaran yang dilakukan penulis merupakan pembelajaran yang telah meningkatkatkan kreativitas siswa terbaik yang pernah penulis lakukan baik dari segi proses dan hasil belajar. Oleh lantaran itu penulis melaporkan perbaikan pembelajaran tersebut sebagai aktivitas best practice berjudul “Peningkatan Kreativitas Menggambar Melalui Pemanfaatan Keunikan Objek Alam Sekitar Pada Siswa Kelas VII Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Terisi.” 

B. Jenis Kegiatan 
Kegiatan yang dilaporkan dalam best pracitice ini yakni aktivitas pembelajaran yang telah meningkatkan kreativitas menggambar siswa melalui pemanfaatan keunikan objek alam sekitar yang telah terbukti menciptakan proses dan hasil berguru dalam meningkatkan kreativitas menggambar siswa menjadi baik. 

C. Manfaat Kegiatan 
Adapun manfaat dari aktivitas perbaikan pelaksanaan pembelajaran ini antara lain : 
1. Bagi Diri Sendiri 
• Mampu menjadi guru yang kompeten dan bekerja secara profesional sesuai dengan kiprah dan fungsinya. 

2. Bagi Siswa 
• Mampu menigkatkan kemampuan dan Kreativitasdalam pembelajaran Seni Budaya 
• Mampu mengahadapi tantangan era ke-21 

Bagi bapak dan ibu guru yang membutuhkan Best Practice Mata Pelajaran Seni Budaya SMP silakan 


Rekomendasi Bacaan :
READ MORE

Contoh Best Practice Bahasa Inggris Smp

Posted by susilo On 0 komentar

Contoh Best Practice Bahasa Inggris SMP – Bagi bapak dan ibu guru di banyak sekali daerah, ketika ini sedang berlangsung kegiatan PKP (Pengembangan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Salah satu kiprah yang harus dilengkapi salah satunya yaitu menciptakan best practice. 


Mungkin ada rekan-rekan guru yang belum mengetahui apa itu best practice?. Best Practice yaitu Salah satu jenis karya tulis yang disarankan untuk dibentuk oleh pendidik atau tenaga kependidikan. 


Best Practice yaitu sebuah karya tulis yang menceritakan pengalaman terbaik dalam menuntaskan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh pendidik atau tenaga kependidikan sehingga bisa memperbaiki mutu layanan pendidikan dan pembelajaran. 

Berikut contoh Best Practice Bahasa Inggris SMP

BAB I 
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang Masalah 
Proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di dalam kelas kadang kala menciptakan guru kaku terutama dalam menentukan satu atau metode pembelajaran, dan mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran. Pada kenyataannya pendidikan telah dilaksanakan sejak adanya manusia, hakikatnya pendidikan merupakan serangkaian insiden yang kompleks yang melibatkan beberapa komponen antara lain: tujuan, murid , pendidik, isi/bahan, cara/metode dan situasi/lingkungan. Hubungan keenam faktor tersebut berkait satu sama lain dan saling bekerjasama dalam suatu aktifitas satu pendidikan. 

Keadaan siwa Sekolah Menengah Pertama dengan sistem menerapakan K13 dan menuntut siswa untuk lebih aktif dalam hal ini yang berkaitan dengan mata pelajaran Bahasa Inggris, lebih tepatnya dalam materi teks khusus yaitu notice, short message, announcement, dan report text, tidak menutup kemungkinan banyak guru yang mengalami kesulitan dalam memakai model pembelajaran yang sempurna untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal. Karena guru dituntut untuk mengejar sasaran materi yang cukup banyak dan harus diselesaikan pada setiap semester. 

Keberhasilan pengajaran juga tergantung pada keberhasilan murid dalam proses mencar ilmu mengajar, sedangkan keberhasilan murid tidak hanya tergantung pada sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum maupun metode. Akan tetapi guru memiliki posisi yang sangat seni administrasi dalam meningkatkan prestasi murid dalam penggunaan seni administrasi pembelajaran yang tepat. 

Banyaknya persiapan yang ingin dilakukan dalam metode pembelajaran Kurikulum 13 sehingga guru sasaran merasa terbebani dalam menunjukkan pembelajaran, dan guru sasaran lebih cenderung untuk memakai pembelajaran langsung. 

Oleh alasannya yaitu itu model pembelajaran Kurikulum 13 tersebut perlu disosialisasikan lebih optimal pada guru sasaran untuk sanggup diaplikasikannya dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dimaksudkan semoga guru sasaran tidak tertinggal dengan penemuan pendidik dengan penerapan model pembelajaran inovatif. 

B. Jenis Kegiatan 
Dari klarifikasi perihal latar belakang problem di atas, diketahui bahwa ruang lingkup penelitian ini mencakup kajian pembelajaran, khususnya pada Pembelajaran Kurikulum 13 dalam pembelajaran Bahasa Inggris pada aspek teks khusus, short message, announcement, notice, dan report text. 

Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran, merupakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa melalui training guru dalam merencanakan, melaksanakan, hingga dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Program ini merupakan bab dari kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 perihal Guru dan Dosen serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 perihal Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. 

C. Manfaat Kegiatan 
• Membiasakan guru untuk menciptakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga penilaiannya 
• Membiasakan siswa untuk berpikir tingkat tinggi sehingga sanggup meningkatkan kompetensinya 
• Memberikan contoh kepada kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik 
• Memberikan contoh kepada pengawas sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik dan manajerial.

Bagi bapak dan ibu guru yang membutuhkan contoh Best Practice Bahasa Inggris Sekolah Menengah Pertama silakan 
Cover Best Practice
Isi best practice Bahasa Inggris SMP



READ MORE

Contoh Best Practice Penjaskes Smp

Posted by susilo On 0 komentar
Contoh Best Practice Penjaskes SMP

Contoh Best Practice Penjaskes SMP – Bagi bapak dan ibu guru di banyak sekali daerah, ketika ini sedang berlangsung acara PKP (Pengembangan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Salah satu kiprah yang harus dilengkapi salah satunya yaitu menciptakan best practice.



Mungkin ada rekan-rekan guru yang belum mengetahui apa itu best practice?. Best Practice yaitu Salah satu jenis karya tulis yang disarankan untuk dibentuk oleh pendidik atau tenaga kependidikan.


Best Practice yaitu sebuah karya tulis yang menceritakan pengalaman terbaik dalam menuntaskan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh pendidik atau tenaga kependidikan sehingga bisa memperbaiki mutu layanan pendidikan dan pembelajaran.


Best Practice tidak selalu identik dengan hal-hal yang besar dan revolusioner yang dilakukan oleh pendidik atau tenaga kependidikan dalam menuntaskan masalah, tetapi bisa juga melalui sebuah hal kecil, penerapan alternatif-alternatif pemecahan problem yang sederhana, tetapi efektif dan dampaknya terasa oleh sekolah.

Sistematika penulisan Best Practice tentu berbeda dengan makalah atau skripsi, berikut sistematika penulisan best practice : A. Latar Belakang Masalah, B. Identifikasi Masalah, C. Tujuan, D. Hasil yang Diharapkan, E. Pelaksanaan dan Hasil Penyelesaian Masalah, dan F. Simpulan dan Saran.

Berikut ini kami berikan pola best practice untuk mata pelajaran Penjaskes jenjang Sekolah Menengah Pertama :





Rekomendasi Bacaan :
READ MORE

Lembar Kerja (Lk) Pkp Mata Pelajaran IPS SMP

Posted by susilo On 0 komentar

LK PKP IPS SMP - Bagi bapak dan ibu guru di banyak sekali daerah, dikala ini sedang berlangsung acara PKP (Pengembangan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Sebenarnya sasaran PKP itu sangat sederhana, hanya ada 2 yakni guru sasaran dapat mendesain pembelajaran HOTS, dan mendesain evaluasi HOTS.

Dalam acara PKP ada banyak kiprah yang harus dilengkapi oleh guru sasaran untuk diinput secara online melalui LMS (Learning Management System). Salah satu kiprah yang harus dilengkapi yaitu mengerjakan LK (Lembar Kerja).

Berikut ini kami berikan beberapa contoh LK PKP Mata Pelajaran IPS SMP :

LK 1 Kajian Konsep Hots

LK 2 Analisis Unit Pembelajaran

LK 3 Format Desain Pembelajaran Berdasarkan Model Pembelajaran

LK 4 Penilaian Berorientasi HOTS

LK 4A Kisi-kisi Penulisan Soal

LK 4D Unit 1 Format Telaah Soal

LK 5 Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ON-1

Jurnal Belajar On The Job Learning On 1

LK 5 Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ON-2

Jurnal Belajar On The Job Learning On 2

LK 6 Reviu RPP

LK 7 Praktik Mengajar

LK 8 Format Catatan Refleksi

READ MORE