JURNAL PENDIDIKAN SIDIK. Vol.2 , No.4, ISSN 2442-8531

Posted by sangpembelajar On Monday, 6 January 2020 0 komentar

JURNAL PENDIDIKAN SIDIK (Sarana Informasi Penelitian dan Pendidikan)  adalah  sarana informasi dalam pengembangan dunia pendidikan sehingga mampu memotivasi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang lebih inovatif, serta wadah dalam mempublikasikan hasil penelitan tindakan kelas yang sudah di laksanakan. Jurnal SIDIK diterbitkan oleh Kelompok Kerja Guru (KKG) Kabupaten Jembrana yang berfungsi sebagai sarana publikasi hasil penelitian yang dilakukan oleh guru dari tingakt SD, SMP dan SMA. Jurnal SIDIK terbit 2 kali dalam setahun setiap bulan Maret dan September. Kali ini Jurnal SIDIK sudah memasuki terbitan yang ke-6 (vol.2, no. 3 ISSN 2442-8531).

Untuk memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah berkontibusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan jurnal ini. berikut kami paparkan beberapa abstrak/artikel terbaik dalam JURNAL SIDIK Periode vol.2, no. 3.

I.

PENERAPAN METODE MENULIS TERBIMBING (GUIDED WRITING)  UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS DALAM MATERI TEXT DESCIPTION PADA SISWA KELAS VII A SEMESTER II SMP NEGERI 3 NEGARA TAHUN PELAJARAN 2015/2016 

Oleh

Anak Agung Ayu Indra Hanjani

ABSTRAK

 Pendidikan merupakan faktor utama yang mempunyai peranan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) terutama dalam pembangunan. Kemajuan pembangunan selalu diupayakan seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu upaya pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Melalui pendidikan, watak dan kemampuan manusia dibentuk secara utuh untuk menghadapi tantangan perkembangan zaman yang semakin berat. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar bahasa inggris dalam materi text desciption pada siswa kelas VII A semester II SMP Negeri 3 Negara tahun pelajaran 2015/2016 melalui penerapan metode menulis terbimbing (Guided Writing). Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah 35 orang siswa yang terdiri atas 14 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Data hasil belajar Bahasa Inggris siswa diperoleh melalui tes tertulis yang dilakukan pada akhir pembelajaran. Data yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan dianalisis untuk menghitung ketuntasan belajar secara klasikal dan rata-rata kelas.Berdasarkan analisis data hasil belajar siswa, pemberian tindakan pada siklus I dan II cukup berhasil. Hal ini diketahui dari rata-rata hasil belajar siswa meningkat sebesar 13,14 poin yakni dari 53,29 pada prasiklus menjadi 66,43 pada siklus I, sedangkan presentase ketuntasan belajar klasikal meningkat 31,43% yakni pada prasiklus 40% menjadi 71,43% pada akhir siklus I. setelah dilaksanakan siklus II, rata-ra hasil belajar siswa kembali meningkat  10,57 poin yakni dari 66,43 pada siklus I menjadi 77,00 pada siklus II. Sedangkan persentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal meningkat 22,86% yakni dari 71,43% pada siklus I menjadi 94,29% pada siklus II. Dengan demikian, maka dapat diketahui bahwa penerapan metode menulis terbimbing (guided writing) dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris pada materi Text Description Siswa Kelas VII A Semester II SMP Negeri 3 Negara Tahun Pelajaran 2015/2016.

Kata kunci: guided writing, hasil belajar, Bahasa Inggris

II

PENERAPAN MODEL TERTARIK URGENSI KOLABORASI ULANGI LINDUNGI (TUKUL)  UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PKN  MATERI PERUMUSAN PANCASILA PADA SISWA KELAS VI SEMETER GANJIL SD NEGERI 3 TEGALCANGKRING TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh

Anak Agung Putu Agung Adhitya Satria Utama

 ABSTRAK


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan minat belajar PKn materi Perumusan Pancasila melalui penerapan model TUKUL pada siswa kelas VI semester ganjil SD Negeri 3 Tegalcangkring tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 4 tahap, meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi/evaluasi, dan tahap refleksi. Subjek penelitian ini adalah  siswa  kelas VI SD Negeri 3 Tegalcangkring. Objek penelitian yakni penggunaan model TUKUL untuk meningkatkan minat belajar PKn. Hasil penelitian yang diperoleh berupa hasil non tes dari hasil pengisian lembar angket minat belajar siswa. Penelitian ini menggunakan model pembelajaran inovatif yakni model TUKUL yang merupakan singkatan dari tertarik urgensi kolaborasi ulangi lindungi. Berdasarkan analisis data diperoleh peningkatan minat belajar siswa, sebesar 15,82% dari prasiklus ke siklus I, yaitu dari 46,52% menjadi 62,34%. Kemudian meningkat sebesar 15,76% dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 62,34% menjadi 78,10%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model TUKUL dapat meningkatkan minat belajar PKn materi Perumusan Pancasila pada siswa kelas VI semester ganjil SD Negeri 3 Tegalcangkring tahun pelajaran 2015/2016.

Kata kunci : model TUKUL, minat belajar, PKn



III
PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN MEDIA PERMAINAN BOLA GANTUNG UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PERMAINAN BOLA VOLI SISWA KELAS VIIId SEMESTER GANJIL SMP NEGERI 3 MENDOYO TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh

I Ketut Sudarsana

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan permainan bola voli siswa kelas VIIId semester ganjil SMP Negeri 3 Mendoyo Tahun Pelajaran 2015/2016 melalui penerapan pendekatan saintifik dengan media permainan bola gantung. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIId sebanyak 36 siswa, yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui pengamatan dan tes kinerja. Data yang diperoleh peneliti dianalisis menggunakan analisis data deskriptif kuantitatif. Hasil analisis data menunjukkan penerapan pendekatan saintifik dengan media permainan bola gantung dapat meningkatkan keterampilan permainan bola voli siswa. Hal ini ditunjang oleh peningkatan rata-rata dan ketuntasan klasikal keterampilan bola voli siswa dari prasiklus sampai ke siklus II. Rata-rata siswa, meningkat sebesar 8 poin dari prasiklus ke siklus I, yaitu dari 67 menjadi 75. kemudian meningkat sebesar 11 poin dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 75 menjadi 86. Sedangkan ketuntasan klasikal keterampilan bola voli siswa meningkat sebesar 28% dari prasiklus ke siklus I, yaitu dari 44% menjadi 72%. Kemudian meningkat sebesar 14% dari siklus I ke siklus II, yaitu dari 72% menjadi 86%.

Kata Kunci: Pendekatan Saintifik, Media Permainan Bola Gantung, dan Keterampilan Permainan Bola Voli



IV
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERMUATAN NILAI BUDAYA KARAKTER BANGSA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN TENTANG MATERI PERLINDUNGAN DAN PENEGAKKAN HAM PADA SISWA KELAS VIIA SMP NEGERI 3 NEGARA TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh

I Nengah Arta Wijaya

 ABSTRAK



Penelitian ini dilatar belakangi oleh temuan berupa rendahnya kualitas proses pembelajaran yang bermuara pada rendahnya hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Negara tahun pelajaran 2015/2016. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaran siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Negara melalui  Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai Budaya Karakter Bangsa . Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang melibatkan subjek sebanyak 36 orang siswa kelas VIIA SMP Negeri 3 Negara pelajaran 2015/2016. Objek penelitian ini adalah hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan  dalam dua siklus. Data hasil belajar didapatkan dengan menggunakan tes hasil belajar siswa. Hasil Penelitian ini adalah sebagai berikut : Secara umum tindakan penelitian cukup efektif  mengatasi permasalahan pembelajaran. Hasil perbaikan atau penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata secara berkelanjutan sebelum tindakan (PraSiklus), nilai rata-rata : 69,25 terkatagori rendah dengan ketuntasan belajar 36,11%, Siklus l Nilai Rata-rata : 81,94 terkatagori tinggi dengan ketuntasan belajar 83,33%, dan Siklus l nilai Rata-rata 90,27 terkatagori sangatt inggi dengan ketuntasan belajar 97,22%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa, Pembelajaran Dengan  Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai Budaya Karakter Bangsa, dapat memberikan dampak yang positif terhadap hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan yang digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Menengah Pertama atau pembelajaran dengan penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai Budaya Karakter Bangsa lebih unggul dari model pembelajaran Konvensional.

Kata Kunci :Model pembelajaran kontekstual, nilai budaya karakter bangsa, hasil belajar.



 V
PENINGKATAN HASIL BELAJAR   BIOLOGI : MEMAHAMI PRINSIP PRINSIP PENGELOMPOKAN MAKHLUK HIDUP MELALUI  MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KELOMPOK BERBASIS PROJEK ( PROJECT BASED LEARNING) PADA SISWA KELAS X2 SMA NEGERI 2 NEGARA TAHUN 2015/2016

Oleh

I Nyoman Hariawan

 ABSTRAK

         Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan meningkatkan hasil belajar Biologi, siswa kelas X2, SMAN 2 Negara dengan Model Pembelajaran  Berbasis Proyek (Project Based Learning) melalui kerja kelompok. Penelitian ini tergolong penelitian tindakan  kelas dengan subjek penelitian sebanyak 38 siswa . Penelitian dilakukan dalam dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Indikator keberhasilan yang ditetapkan adalah apabila rata-rata kemampuan siswa dalam melaksanakan Pembelajaran  Berbasis Proyek (Project Based Learning) 75,00 atau berkategori B (Baik) dan A (Amat Baik), maka dapat dikatakan tindakan yang dilaksanakan berhasil. Berdasarkan hasil analisis pada masing-masing siklus diperoleh hasil: (1)  Terjadi peningkatkan kemampuan siswa di Kelas X2, dimana untuk  pemahaman konsep menulis Proposal mengaalami kemajuan dari ketuntasan klasikal, 62%, 82% dan 90 %. Sementara, untuk ketrampilan juga mengalami kemajuan, dari, 65 %, 83 % dan 90 %, serta respon pembelajaran berbasis projek sangat antusias. Dengan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa melalui kerja kelompok dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam melaksanakan Pembelajaran Biologi  Berbasis Proyek (Project Based Learning) pada kelas X2 SMAN 2 Negara. . Implikasi dari penelitian ini adalah model kerja kelompok Berbasis Projek dapat dipilih sebagai salah satu cara yang dapat digunakan guru Biologi dalam meningkatkan hasil belajar biologi pada materi Pengelompokan Prinsip Prinsip Mahluk Hidup ) pada kelas X2 SMAN 2 Negara.

Kata kunci: Pembelajaran  Berbasis Proyek (Project Based Learning), kerja kelompok. Prinsi Prinsip Pengelompokkan Mahluk Hidup.



Demikian yang kami dapat paparkan semoga dengan artikel ini bisa bermanfaat. kami tunggu saran, pendapat dan komentarnya. 
READ MORE

MENCORET WAJAH SISWA UNTUK MEMOTIVASI

Posted by sangpembelajar On Sunday, 5 January 2020 2 komentar
MENCORET WAJAH SISWA UNTUK MEMOTIVASI

sudah lama tidak menulis diBlog karena tidak punya ide... baru-baru ini terlintas dalam pikiran ingin berbagi trik-trk mengajar yang saya terapkan di kelas terutama siswa SD jadi kali ini saya akan menuliskannya untuk sekedar berbagi dan bertukar pikiran. lebih lengkapnya sebagai berikut.

BERMAIN MATEMATIKA DENGAN MENCORET WAJAH

awal mulanya perihatin dengan melihat anak didik saya yang sudah klas IV (empat) SD belum terlalu hapal perkalian dan pembagian. Dan ditambah siswa tidak ada motivasi untuk belajar perkalian. Setiap dikasi pertanyaan perkalian siswa menjawannya masi terlalu lama bahkan jawabannya salah.

Sudah berkali-kali siswa di himbau untuk menghapalkan kembali perkalian tapi masi tetap di acuhkan. Padahal perkelian adalah pelajaran yang paling mendasar apa bila siswa tidak bisa perkalian siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap atau menerima pelajaran yang tingkat materinya lebih sulit. Secara sederhana apabila siswa tidak bisa perkalian atau lama dalam perkalian siswa akan merasakan kesulitan dalam materi perkalian susun, pembagian susun, dan materi lainnya. Dan bila siswa tidak bisa memahami materi yang diterangkan guru akan menimbulkan perasaan pada siswa bahwa matematika itu suli dan sangat membosankan. Padahal ini semua disebabkan siswa tidak memegang salah satu kunci dasar pelajaran matematika yaitu PERKALIAN. Apa lagi siswa itu sudah duduk di kelas IV ke atas ma siswa yang tidak bisa perkalian dijamin tidak akan bisa mengerjakan soal matematika karna pada tingkatan kelas ini siswa tidak akan lagi pada menghafal perkalian. Maka dari itu saya punya ide unik dengan cara mengajak siswa bermain (CORET WAJAH) adapun caranya dalah sebagai berikut:



  1. Permainan ini bisa dilakukan pada saat awal jam pelajaran atau akir jam pelajaran. Siswa duduk di bangkunya masing-masing. Siswa akan diberikan pertanyaan secara berurut berdasarkan tempat duduk siswa.

  2. Pada awal guru memberikan pertanyan perkalian kepada siswa yang duduk di bangku paling awal. Aturannya BAGI YANG SALAH MENJAWAB /LAMA DALAM MENJAWAB WAJAHNYA AKAN DICORET.

  3. Apabila siswa benar menjawab siswa yang benar menjawab diberi kesempatan memberi pertanyaan perkalian ke teman se belahnya. Apabiala teman nya salah menjawab maka siswa yang memberi pertanyaan tadi berhak mencoret wajahnya dengan kapu,pupur/tepung,

  4. Setelah siswa yang salah menjawab di coret wajahnya siswa tersebut di persilahkan ke luar kelas untuk bertanya jawabannya pada adik kelas mereka dengan coretan diwajahnya tidak boleh di hapus.

  5. Sambil menunggu siswa yang mencari jawaban keluar siswa yang menjawab benar tadi melanjutkan permainan dengan memberi pertanyaan lagi kepada siswa berikutnya

  6. Dan ini dilakukan berulang2 sapai siswa semua mendapat gilran dan ini bisa dilakukan berkali-kali

Inti permainan ini adalah yang salah menjawab wajahnya dicoret oleh yang memberikan pertanyaan dan dengan coretan diwajah siswa di suruh untuk bertanya kepada adik kelasnya sampai jawabannya ketemu dan coretan diwajah tak boleh hilang.

Yang mendasari pemikiran saya melakukan permainan ini adalah siswa akan merasa malu saat bertanya perkalian kepada adik kelasnya dengan wajah yang penuh coretan sehingga ti tertawai oleh adik kelasnya. Sehingga karna rasa MALU itu siswa akan termotivasi untuk belajar perkalian kembali. Dan bagi yang sudah bisa perkalian akan lebih mengasah perkaliannya dan merasa rasa senang dengan bisa mencoret wajah temannya.

dengan permainan ini pembelajaran akan menyenangkan dan siswa akan lebih terpacu untuk belajar. Demikian lah yang dapat saya bagi di kesempatan ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca.


READ MORE

MedEdu: Jurnal Ilmiah Pedidikan dan Pembelajaran

Posted by susilo On Monday, 9 October 2017 0 komentar

MedEdu: Jurnal Ilmiah Pedidikan dan Pembelajaran



Telah terbir Jurnal Ber ISSN "MedEdu: Jurnal Ilmiah Pedidikan dan Pembelajaran" yang di terbitkan oleh CV. Media Educations. Jurnal Ilmiah Ini sebagai sarana publikasi karya ilmiah khusus dibidan pendidikan dan pembelajaran. dengan tujuan  sebagi sumber pengatuahan untuk mengembangan inovasi di bidang pendidikan dan pembelajaran. 

Cara Mengajukan Artikel untuk masuk kedalam jurnal ini lebih lanjut bisa kontak kami (CV. Media Educations):
Wa. +62 822-3614-1899
FB : web.facebook.com/mediaeducations
Email : educationsmedia@gmail.com


READ MORE

Hidroponik Sistem Wick Mengunakan Botol Bekas

Posted by susilo On Monday, 11 September 2017 0 komentar

Hidroponik Sistem Wick Mengunakan Botol Bekas


Ada 6 tipe dasar sistem hidroponik, system Wick, Water Culture, Ebb dan Flow (Flood & Drain), system Drip ,NFT (Nutrient Film Technique) dan Aeroponik. System dasar ini bisa dimodifikasi sesuia kemauan anda, kreatifitas anda bisa diasah dalam merancang system hidroponik untuk tanaman anda.


Ada ratusan variasi pada tipe-tipe dasar dari sistem, tetapi semua metode hidroponik adalah variasi (atau kombinasi) dari keenam system ini. Silahkan lanjutkan membaca dibawah akan kami jelas dari masing masing system:
READ MORE

Kerajinan Tangan Siswa Kelas VI SD Negeri 6 Penyaringan, Hiasan DindingMengunakan Tanaman Hidroponik

Posted by sangpembelajar On Monday, 6 March 2017 1 komentar
Kerajinan Tangan Siswa Kelas VI SD Negeri 6 Penyaringan, Hiasan Dinding Mengunakan Tanaman Hidroponik

Berikut ini adalah hasil kerajinan tangan yang dibuat oleh siswa kelas VI SD Negeri 6 penyaringan dengan mengunakan tanaman sistem hidroponik. hiasan ini dibuat dengan mengunakan bahan -bahan yang mudah didapat seperti bambu, papan/teriplek, botol bekas, bahkan bisa mengunakan bola lampu bekas.
tujuan membuat kerajinan tangan berupa hiasan dinding mengunakan tanaman sistem hidroponik ini adalah

  1. melatih kerieatifitas siswa dalam memanfaatkan bahan-bahan disekitar yang tidak terpaikai seperti bahan-bahan bekas, sehingga bahan-bahan bekas tersebut bisa dimanfaatkan dan mengurangi pencemaran lingkungan.

  2. siswa dapat memahami bahwa tumbuhan bisa di tanam dengan tehnik hidroponik tanpa mengunakan tanah.

  3. dengan mengunakan hiasan dingiding dari tanaman hidup yang di letakkan didalam ruang kelas akan membantu sirkulasi co2 dengan o2 yang dihasilkan oleh tanaman, sehingga ruang kelas menjadi lebih terasa sejuk dan udara dalam kelas menjadi segar. selain itu juga membantu mengurangi folusi udara.]

  4. membiasakan/membudayakan siswa untuk memanfaatkan barang-barang bekas sebagai bahan kerajinan tangan, dan siswa memahapi pentingnya ,elestarikan lingkungan hidup yang ada disekitarnya.

adapun hasil kerajinan tangan yang dibuat oleh siswa kelas VI SD Negeri 6 penyaringan adalah sebagai berikut:




Hiasan dinding yang terbuat dari papan, teriplek dan botol kaca



Hiasan dinding yang memanfaatkan papan kayu, bambu dan bola lampu bekas


semoga dengan hasil kerajinan tangan siswa kelas VI SD Negeri 6 Penyaringan ini bisa menjadi salah satu contoh tindakan perlestarian lingkungan dan bisa memberikan inspirasi bagi kita semua
READ MORE

Penelitian Tindakan Kolaboratif

Posted by sangpembelajar On Sunday, 29 January 2017 0 komentar
Penelitian Tindakan Kolaboratif
Kolaborasi atau kerja sama perlu dan penting dilakukan dalam PTK karena PTK yang dilakukan secara perorangan bertentangan dengan hakikat PTK itu sendiri (Burns, 1999). Beberapa butir penting tentang PTK kolaboratif , yakni: (1) penelitian tindakan yang sejati adalah penelitian tindakan kolaboratif, yaitu yang dilakukan oleh sekelompok peneliti melalui kerja sama dan kerja bersama; (2) penelitian kelompok tersebut dapat dilaksanakan melalui tindakan anggota kelompok perorangan yang diperiksa secara kritis melalui refleksi demokratik dan dialogis; (3) optimalisasi fungsi PTK kolaboratif dengan mencakup gagasan-gagasan dan harapan-harapan semua orang yang terlibat dalam situasi terkait; (4) pengaruh langsung hasil PTK pada guru dan murid-murid  serta sekaligus pada situasi dan kondisi yang ada.
 Menurut Burns  (dalam Muhajir, N., 1997), butir-butir yang perlu dipertimbangkan dalam PTK Guru antara lain :
1.   Sejauh dapat dilakukan, agenda PTK tindakan hendaknya ditarik dari kebutuhan-kebutuhan, kepedulian dan persyaratan yang diungkapkan oleh semua pihak Guru sendiri, sejawat, kepala sekolah, murid-murid, dan/atau orangtua murid) yang terlibat dalam konteks pembelajaran/kependidikan di kelas/sekolah Guru;
2.   PTK Guru hendaknya benar-benar memanfaatkan keterampilan, minat dan keterlibatan Guru sebagai guru dan sejawat;
3.   PTK Guru hendaknya terpusat pada masalah-masalah pembelajaran kelas Guru, yang ditemukan dalam kenyataan sehari-hari. Namun demikian, hasil PTK Guru daapt juga memberikan masukan untuk pengembangan teori pembelajaran bidang studi Guru;
4.   Metodologi PTK Guru hendaknya ditentukan dengan mempertimbangkan persoalan pembelajaran kelas Guru yang sedang diteliti, sumber daya yang ada dan murid-murid sebagai sasaran penelitian;
5.   PTK Guru hendaknya direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi  secara kolaboratif. Tujuan, metode, pelaksanaan dan strategi evaluasi hendaknya Guru negosiasikan dengan pemangku kepentingan (stakeholders) terutama penelitian Guru, sejawat, murid-murid, dan kepala sekolah (yang mungkin diperlukan dukungan kebijakannya);
6.   PTK Guru hendaknya bersifat antardisipliner, yaitu sedapat mungkin didukung oleh wawasan dan pengalaman orang-orang dari bidang-bidang lain yang relevan, seperti ilmu jiwa, antropologi, dan sosiologi serta budaya. Jadi Guru dapat mencari masukan dari teman-teman guru atau dosen LPTK yang relevan.

Dalam PTK, butir-butir pelaksanaan di bawah  harus dipertimbangkan:
1.   Guru sebagai pelaku PTK hendaknya berupaya memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melaksanakannya.
2.   PTK  selayaknya dilakukan dalam kelas sendiri.
3.   PTK akan berjalan dengan baik jika terkait dengan program peningkatan guru dan pengembangan materi di sekolah atau wilayah sendiri.
4.         PTK hendaknya dipadukan dengan komponen evaluasi
READ MORE

MAKALAH TINJAUAN ILMIAH

Posted by sangpembelajar On Tuesday, 24 January 2017 2 komentar
MAKALAH TINJAUAN ILMIAH




Definisi Tinjauan Ilmiah
Makalah tinjuan ilmiah adalah karya tulis guru  yang  berisi ide/gagasan penulis dalam upaya mengatasi berbagai masalah pendidikan formal dan pembelajaran yang ada di satuan pendidikannya (di sekolah/madrasahnya). (Kemendiknas, 2010:27).Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa makalah tinjauan ilmiah adalah tulisan guru yang berisi ide dan atau pengalaman guru dalam mengatasi berbagai masalah pembelajaran atau pendidikan di satuan pendidikannya. Artinya, lingkup tinjauan ilmiah tetap dibatasi pada masalah-masalah pembelajaran atau bimbingan yang dialami atau dilakukan guru di sekolahnya.Tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dapat ditulis dapat bentuk buku, dimuat/ diterbitkan secara nasional, atau regional, dalam bentuk artikel yang dimuat dalam majalah/ jurnal ilmiah, dan dapat pula dalam bentuk makalah yang disampaikan dalam seminar atau pertemuan ilmiah lainnya, atau ditulis sebagai karya ilmiah popular.
READ MORE

alat peraga bejana berhubungan

Posted by sangpembelajar On Tuesday, 10 January 2017 1 komentar

Bejana Berhubungan

Mata Pelajaran : IPA
Kelas / Semester : IV / II
Setandar Kopetensi : 6. memahami beragam sipat dan perubahan wujud benda satu berbagai cara. Penggunaan benda berdasarkan sifatnnya.
Kometensi Dasar : 6.3 menjelaskan hubungan antara sifat benda dengan kegunaannya

A. Funsi Alat :
Alat ini difungsikan untuk menunjukkan aliran air pada bejana berhubungan

B. Alat dan Bahan :
B.1 Alat
1. Gunting
2. Pisau
3. martil
4. Gergaji
5. Obeng

B.2 Bahan 2
1. Botol pelastik 2 buah ukuran 600 ml
2. selang pelastik trasparan ukuran diameter 0.5 cm panjang 1 m, 2 buah
3. Karet tutup botol terbuat dari karet sandal jepit disesuaikan dengan diameter lubang botol
4. Lem pelastik 1 buah
5. Kawat pengikat botol kira-kira 30cm
6. paku panjang 2.5 cm/ aku teriplek secukupnya
7. triplek atau papan lebar 15 cm tinggi 25 cm tebal 1 cm
8. Cat warna
9. sumba warna

C. Perinsip Kerja Alat Adalah
Alat ini terdiri dari bejana 1 dan bejana 2 perhatikan (gambar 1.6) masing-masing pada bagian ujung yang sempit dari bejana dipasang selang penghubungan. pada kedua bejana . perhatikan bejana 2 pada gambar jika ujung selang s.1 kita tutup, kemudian air dimaksukkan kedalam salah satu botol hingga penuh. Maka pada saat selang dibuka, air dalam botol akan berusaha keluar mengalir melalui selang s.1 . aliran itu terus berlangsung selama selang s.1
diarahkan kebawah tetapi jika mulut selang s.1 diletakkan sampai berada di atas permukaan air dalam bejana, maka aliran akan berhenti sesaat. Sesaat selang s.1 sama dengan permukaan air dalam bejana hal ini menujukkan bahwa hanya air dapat mengalir dengan sendirinya ( tanpa usaha luar ) dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Perinsip yang ke 2 dari alat ini yaitu perinsip aliaran air dalam bejana berhubungan peristiwa ini dapat kita tunjukkan dengan menyambungkan selang s.1 dengan s.2 air akan mengalir dari bejana 1 ke bejana 2 melalui selang penghubung.

D. Cara membuat
Persiapkan alat-alat dan bahan seperti pada gambar diatas
Langkah pembuatan
I. Langlah pertama
Ambil botol pelastik yang telah disediakan 2 buah. potong bagian dasar kedua botol tersebut dengan pisau
Gambar 1.3

I.I Langkah Kedua
buat tutup botol berlubang di tengah dengan diameter lebih besar dari pada botolnya dan tutupnya dilubangi untuk dimasuki selang tutup ini dibuat 2 buah lihat

Gambar 1.4
III. Lagkah ke tiga
Masukkan selang pada lubang tutup botol bila perlu diberi perekat atau lem agar kuat dan tidak bocor. Kemudian pasangkan pada mulu botol

VI. Langkah Ke Empat
Siapkan papan kayu ataupun teriplek dan potong sesuai ukuran

V. Langkah Ke Lima
Susun dan pasangkan alat yang telah dibuat hingga seperti gambar 1.7

F. Cara mengunakan alat.
Setelah alat selesai dirangkai bagian dan demi bagiannya baru dicoba alat tersebut
Siswa bersama guru mendemontrasikan
READ MORE

MAKALAH KEPEMIMPINAN CALON KEPALA SEKOLAH

Posted by susilo On Saturday, 10 December 2016 0 komentar
MAKALAH KEPEMIMPINAN CALON KEPALA SEKOLAH

A. Pemikiran Calon tentang kertampiilan kepemimpinan
            Berikut ini adalah pandanangan /pemikiran tentang keterampilan kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang baik. Ketrampilan ini melitputi ketrampilan Mempengaruhi, Menggerakkan, Mengembangkan dan memberdayakan (4M). untuk lebih jelasnya pandangan/pemikiran calan terhadap ketrampilan 4M tersebut calon jelaskan secara rinci sebagai berikut:




1. Mempengaruhi
Ketrampilan Mempengaruhi adalah Terampilan mempengaruhi dilihat dari kemampuan seorang kepala sekolah mengajak bawahannya untuk melaksanakan kebijakkan yang telah menjadi ketetapan sekolah. Semakin patuh bawahanya melaksanakan garis kebijakkan sekolah dengan penuh kesadaran, mengidentifikasikan ketercapaian keterampilan mempengaruhi pada diri kepala sekolah
Ketrampilan tersebut menurut pandangan calon sangatlah perlu di miliki oleh seorang pemimpin. Dikarenakan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya untuk mencapi tujuan yang di inginkan akan selalu melibatkan rekan-rekan kerjanya untuk melaksanakan program yang sudah di rancang. Untuk memaksimalkan hasil yang di inginkan seorang pemimpin tentu tidak mampu melaksanakan program tersebut tanpa dukukangan dan kerjasama dengan rekan-rekannya. Maka dari itu seorang pemimpin sangat perlu bisa mempengaruhi rekan-rekan kerjanya untuk mempunyai pandangan yang sama untuk mencapai tujuan yang di inginkan. Ketrampilan mempengaruhi disini dapat di lakukan dengan cara berdiskusi dan saling mengemukakan pendapat sehingga tercapi pandang yang sama untuk menca[pai tujuan instansinya.
2 Menggerakkan
Ketrampilan menggerakan adalah Keterampilan menggerakkan merupakan kemampuan kepala sekolah agar sumber daya yang ada dapat bekerja dan bersinergi untuk mencapai tujuan diharapkan. Sumber daya manusia merupakan hal yang unik karena terdapat keanekaragaman harapan dan keinginan. Oleh karena itu keterampilan dalam menggerakkan sumber daya harus mempunyai keahlian yang profesional.
Ketrampilan menggerakan menurut calaon sangat perlu di miliki oleh seorang pemimpin dikarenakan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya untuk mencapai tujuan institusinya, sangat memerlukan rekan-rekan kerja yang mempunyai semangat kerja dan tugas yang sesuai dengan SDM yang di milikinya. disinilah seorang pemimpin harus mempunyai ketrampilan menggerakkan untuk dapat mengelola dan membagi tugas rekan-rekan kerjanya sesuai SDM yang di miliki sehingga dapat bekerja secara maksimal.
3 Mengembangkan
Ketrampilan mengembangkan adalah Pengembangan sekolah sebagai institusi pendidikan menjadi hal yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah. Olah karena itu seorang kepala sekolah harus memiliki “sense of development” karena pengembangan sekolah tidak hanya didasarkan pada teori semata tetapi perlu adanya teknik dan strategi yang sesuai. Pengembangan sekolah meliputi selain pengembangan fisik sekolah juga pengembangan non fisik.
Ketrampilan mengembangkan menurut calon sangat perlu dimiliki oleh seorang pemimpin dikarenakan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas selain untuk mencapai tujuan pokok institusinya perlu juga mengembangkan tujuan yang perlu di capai sebagai nilai lebih dari hasil kerja institusi. Maka dari itu seorang pemimpin perlu punya ketrampilan mengembangkan sehinga institusi yang di pimpinnya mampu berjalan dengan maksimal bahkan mampu mengembangkan tujuan yang lebih dari tujuan pokok awalnya.
4. Memberdayakan
Ketrampilan memberdayakan adalah Memberdayakan berarti memanfaatkan sumber daya yang ada secara maksimal dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Terkait dengan kepemimpinan kepala sekolah dianggap telah berhasil atau memiliki keterampilan memberdayakan jika terdapat indikator sebagai berikut : (1).  Pemberian tugas sesuai kompetensi personil (2). Pemanfaatan sumber non SDM telah maksimal oleh semua warga sekolah (3). Semua personil dibawah naungan pembinaan kepala sekolah sesuai dengan tupoksinya (4). Tidak ada ketidakmanfaatan potensi SDM dan non SDM.  Ketrampilan Memberdayakan sangatlah perlu dimiliki oleh seorang pemimpin untuk mengelola dan memanfaatkan sumber SDM dan Non SDM untuk menjadi lebih bermanfaat sehingga tidak ada sumber SDM dan Non SDM yang tak termanfaatkan.
            Berdasar pandanga tersebut calon dapat berpendapat bahwa. Kepala sekolah sebagai pemimpin memiliki tugas dan kewajiban mengarahkan bawahannya kepada suatu komitmen dalam pelaksanaan tugas. Oleh karena itu seorang kepala sekolah mampu mempengaruhi, menggerakkan, mengembangkan dan memberdayakan sumber pendidikan yang ada

B. Penilaian Diri calon tentang penerapan 4M yang telah calon lakukan di sekolah
Setelah memahami pentingnya  bahwa seorang kepala sekolah harus mampu mempengaruhi, menggerakkan, mengembangkan dan memberdayakan sumber pendidikan yang ada. makan calaon perlu menilai diri sendiri terkait 4 ketrampilan tersebut sudah atau belum dimilik oleh calon. Berikut ini penilaian calon terhadap diri sendiri terkait sesui dengan pengalaman yang di milik.
1. Mempengaruhi
Calon merasa susdah memiliki ketrampilan mempengaruhi berikut ini pengalaman yang mendukung hal tersebut:
·      Sebagai Pemimpin Pembelajaran (Guru), calon berpengalaman mampu mempengaruhi siswa untuk termotivasi mengikuti pembelajaran dengan sungguh -sungguh dengan cara memberikan bimbingan secara umum terkait pentingya ilmu yang mereka pelajari.
·      Sebagai Wali Kelas, calon selalau mempengaruhi siswa untuk mematuhi aturan sekolah, dadn disiplin dalam melaksanakan kegiatan di sekolah. Contohnya mempengaruhi siswa untuk memelihara kebersihan kelas dan lingkungan dengan cara memberikan contoh secara langsung.
·      Sebagai Ketua Panita persiapan lomba Adiwiyata sekolah tingkat Kabupaten, calon mampu menmpengaruhi rekan- rekan kerja untuk saling memberikan ide dalam mengelola kebersihan dan lingkungan hidup sekolah
·      Sebagai Pembimbing siswa berprestasi bidang akademik di sekolah dan di gugus, calon mampu memotivasi siswa untuk selalu meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan diri peserta siswa berprestasi sehingga siswa bersemangat untuk belajar lebih giat lagi

2. Menggerakkan
Calon merasa susdah memiliki ketrampilan menggerakkan berikut ini pengalaman yang mendukung hal tersebut:
·      Sebagai Pemimpin Pembelajaran (Guru), calon mampu mengerakkan dan mengelola siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan PBM sehingga terjadi pembelajaran 2 arah, dalam hal ini guru selalu menggunakan metode yang bervariasi sehingga siswa aktif dalam kegiatan PBM
·      Sebagai Wali Kelas. Calon mampu mengerakkan siswa dalam mengelola kelas sehingga setiap siswa mempunyai tugas dan peran masing2 dalam kelas contohnya membentuh organisasi kelas dan menjelaskan perannya, membgai siswa dalam jadwal piket kebersihan kelas dan lingkungan kelas.
·      Sebagai Ketua Panita persiapan lomba Adiwiyata sekolah tingkat Kabupaten, calon mengerakkan semua komponen sekolah untuk menata dan mengelola sesuai bidang dan kemampuan masing2 komponen sekolah sehingga tercapai tujuan yang di inginkan.
·      Sebagai Oprator sekolah, clon mampu mengerakkan seluruh rekan-rekan tenaga kependidiakn di sekolah untuk peduli dan mampu mengisi dan mengoreksi data mereka masing-masing sehingga mendpat data yang akurat.
·      Sebagai Koordinator sekolah Peduli Lingkungan Hidup. Calon mampu mengerakkan sseluruh komponen sekolah untuk memelihara lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya dan membuat kantin sehat tanpa bahan pengawet dan plastic.
·      Sebagai Pembimbing rekan sejawad dalam prajabatan CPNS. Calon mampu menggerakan rekan CPNS untuk berperan aktif dalam memunculkan ide-ide inovatif dalam mendukung program  sekolah dan memenuhi program prajabatan yang di ikutinya.

3. mengembangkan
Calon merasa susdah memiliki ketrampilan mengembagkan berikut ini pengalaman yang mendukung hal tersebut:
·      Sebagai Pemimpin Pembelajaran (Guru), calon mampu mengembangkan pengethauan, ketrampilan dan sikap siswa dalam PBM. Contohnya guru mengajak siswa belajar melakukan kegiatan penelitian sederhana menemukan rumus bangun datar sehingga siswa paham asal rumus matematika tersebut, 
·      Sebagai Wali Kelas, calon mampu mengembangkan pengelolan kelas yang nyaman untuk belajar dengan cara mengajak siswa membuat hiasan dindig dengan tanaman hidup jadi ruangakan kelas menjadi lebih segar
·      Sebagai Ketua Panita persiapan lomba Adiwiyata sekolah tingkat Kabupaten, calon mampu mengembangkan ide kreatif untuk
·      Sebagai Koordinator Penyusun Soal Siswa Berprestasi. Clalon mampu mengambangkan soal dengan system pensekoran yang lebih baik yaitu dengan menerapkan pensekoran jika jawaban benar nila 3, jika salah -1 dan tidak menjawab 0. Dari pensekoran tersebut didapankan hasil yang lebih akurat untuk menyeleksi siswa berprestasi tingkat kecamatan
·      Sebagai Ketua dewan redaksi Jurnal SIDIK dan JPPG, calon dan rekan-rekan kerja mampu menerbitkan jurnal penelitian ilmiah sebagai wadah publikasi para rekan-rekan guru.


4 memberdayakan
Calon merasa susdah memiliki ketrampilan memberdayakan berikut ini pengalaman yang mendukung hal tersebut:
·      Sebagai Pemimpin Pembelajaran (Guru), guru mampu memberdayakan siswa dengan lingkungan sekolah dengan membuat system belajar kontestual dengan lingkungan sekolah. Contohnya mengajak siswa belajar sambal mengamati lingkuna disekolah
·      Sebagai Wali Kelas. Calon mampu memberdayakan siswa dan lahan sekolah untuk membuat tempat berkebun, calon membuat kebun cabe, toga, dan tempat pembibitan Bersama siswa sebagai ketrampilan tambahan untuk siswa
·      Sebagai Oprator sekolah, calon mampu memberdayakan rekan-rekan guru, TU dan siswa dengan fasilitas computer dan leptop yang ada untuk mempercepat pengisian quisioner PMP sehingga tugas tersebut cepat dan tepat untuk terselesaikan
·      Sebagai Koordinator Peduli Lingkungan Hidup di sekolah, calon mampu memberdayakan siswa guru dan tu untuk dengan lahan di sekolah untuk membuat tanaman hidroponik system wist dengan bahan2 organik yang didapat di lingkuna sekolah.

            Dari penilaian diri tersebut calon merasa sudah mempunyai ke empat ketrampilan tersebut namun calon juga masih sangat perlu meningkatkan kembali kesemua ketrampilan tersebut karena ketrabatasan pengalaman yang calon miliki.

C. Rencana tindakan kepemimpinan calon kepala sekolah

1. Rencana Tindakan Pertama ( Meningkatkan Ketrampilan 4 M )
            Berdasar dari hasil penilaian diri terkait ketrampilan 4 M tersebut di atas, calon merasa kurang dalam keempat ketrampilan tersebut. Maka untuk meningkatkan ketrampilan tersbut maka calon merasa perlu untuk membuat rancang tindakan sebagai berikut :
a. Rencana
·         Untuk meningkatkan ketrampilan mempengaruhi calon berencana lebih banyak belajar berkomunikasi dan mengemukakan pendapat dengan semua komponen sekolah (siswa, kepala sekolah, TU. Dll)
·         Untuk meningkatkan ketrampilan menggerakkan dan mengembangkan calon berencana untuk selalu berusaha dan siap mengajukan diri sebagai koordinatar di setiap kegiatan di lingkungan sekolah.
·         Untuk meningkatkan ketrampilan memberdayakan calon akan berencana untuk memperbanyak refrensi dengan cara membaca, melihat, mendengarkan, dan berdiskusi dari berbagai media untuk menambah wawasan terkait inovasi-inoasi dalam dunia Pendidikan dan sekolah.
b. Alasan pemilihan Program
·         Alasan memilih program belajar berkomunikasi dan mengemukakan pendapat dikarenakan dengan program tersebut calon akan banyak belajar cara untuk berkomunikasi sehingga pendapat yang kita kemukakan mudah diterima dipahami oleh pihak lain.
·         Alasan memilih program mencadi coordinator dalam berbagai kegiatan dikarenakan saat kita menjadi coordinator maka kita akan banyak belajar untuk mengerahkan dan mengelola anggota kita untuk bekerja semaksimal mungkin dan mengembangkan SDM meraka sehingga mencapai tujuan yang diingankan dengan mudah
·         Alasan memilih memperbanyak refrensi dengan cara membaca, melihat, mendengarkan, dan berdiskusi dari berbagai media karena dalam memperdayakan komponen sekolah sangat di b utuhkan wawasan yang sangat luas untuk memunculkan ide-ide inovatim untuk memberdayakan SDM dan Non SDm yang ada di sekolah
c. Langkah-langkah melaksanakan Program
·         Menyiapkan  berbagai hasil pengamatan dan observasi di sekitar kita sebagai bahan untuk berkomunikasi dan mengemukakan pendapat sehingga pendapat/ideyang kita ungkapkan sesuai dengan keperluan untuk mencapai tujuan instansi
·         Selalu siap dan mengajukan diri untuk menjadi coordinator dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan yang di inginkan
·         Memperbanyak informasi terkait inovasi dalam dunia Pendidikan dan sekoalah dari berbagai sumber seperti buku, media cetak, dan media elektronik. Selain itu jg banyak melakukan diskusi dan berbagi pengalaman, pandangan dan pendapat dengan narasumber yang sudah lebih senior.

2. Rencana Tindakan Bagia Kedua (Meningkatkan Kualitas Sekolah)
Jika penulis menjadi kepala sekolah, maka untuk membuat rencana/tindakan yang pertama kali penulis lakukan adalah melihat dan mendeskriksikan kondisi sekolah. Hal-hal yang akan dilaksnakan adalah sebagai berikut:
a.  Rencana program yang akan dibuat
·         Membuat profil sekolah
·         Menyususan visi dan misi sekolah
·         Analisis SWOT
·          Penyusunan program
b. Alasan memilih program
·         Dengan membuat profil sekolah kita bisa mengetahui kondisi sekolah tempat bertugas, sehingga kita bisa mengetahui lokasi, kondisi daerah sekitar, keadaan personil, sarana dan dan prasarana, keadaan siswa dan indikator lainnya yang menerangkan keadaan sekolah.
·         Penyususnan visi dan misi sangat penpin sebagai cita-cita dan harapan sekolah yang kita pimpion mau seperti apa.
·         Tujuan sekolah merupakan kepentingan bersama dalam menjadikan sekolah berakulitan yang kita harapkan Bersama
·         Program-program lain juga haru kita buat untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan bersama
c.  Langkah-langkah pelaksanaan program
·         Mengidentifikasi sumber daya manusia (guru/tu/siswa)
·         Mengidentifikasi sarana dan prasarana yang mendukung.
Menyiapakan rencana program-progran yang akan dikerjakan.




READ MORE

Penemuan Terbimbing

Posted by susilo On Thursday, 1 December 2016 0 komentar

Penemuan Terbimbing



A.    Hakikat IPA
IPA didefiniksan sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta, tetapi juga oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Metode ilmiah dan pengamatan ilmiah menekankan pada hakikat IPA.
READ MORE