Pembelajaran Berdiferensiasi

Table of Contents

Murid di kelas karakteristik berbeda-beda setiap anak, murid memiliki kekuatan, gaya belajar, minat, ketrampilan, suka berkelompok, suka individu, suka membaca dan lain-lainnya. tanpa disadari guru dihadapkan pada keberegaman yang banyak sekali bentuknya, maka guru perlu memiliki kemampuan untuk multitasking, dengan tujuan untuk memastikan setiap murid dikelasnya sukses dalam peroses pembelajaran.

Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (commonsense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

  1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga murid-muridnya.
  2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana guru akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  3. Bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Bagaimana guru memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang proses belajar mereka.
  4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun murid melakukan kegiatan yang mungkin berbeda-beda, namun kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
  5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan, dankemudian menyesuaikan rencana dan proses pembelajaran.

Mengetahui Kebutuhan Belajar Murid


Mixed Ability Classrom menyampaikan bahwa pendidik dapat melihat kebutuhan belajar murid berdasarkan 3 aspek yaitu
  1. Kesiapan belajar murid (readiness)
  2. Minat Murid
  3. Profil belajar murid
murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar/ readiness), dengan tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), atau jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar)

A. Kesiapan Belajar (Readines)

    Tomlinson mengatakan bahwa merancang pembelajaran mirip dengan mengunakan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. untuk mendapatkan kombinasi suara terbaik, saat guru mengajar menyesuaikan tindakan yang tepat untuk berbagai kebutuhan murid akan menyamakan peluang murid untuk mendapatkan materi, jenis kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat dikelas. ada 6 perspektif yang dapat guru gunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid
    Dalam konteks pendidikan, diferensiasi pembelajaran adalah pendekatan yang mempertimbangkan perbedaan individual antara murid dalam kelas. Diferensiasi membantu guru merespons kebutuhan belajar yang beragam dari murid-muridnya. Berikut adalah beberapa aspek diferensiasi pembelajaran yang dapat dijelaskan dengan lebih sederhana:

1. Bersifat Mendasar - Bersifat Transformatif:

Bersifat Mendasar: Ini berarti memberikan penjelasan dasar dan latihan awal saat murid baru terpapar pada ide baru. Informasi diberikan dengan cara yang jelas dan sederhana.
Bersifat Transformatif: Ini berarti memberikan materi yang lebih mendalam dan kompleks ketika murid telah memahami konsep dasar. Mendorong mereka untuk menghubungkan ide-ide dan berpikir secara kreatif.

2. Konkret - Abstrak:

Konkret: Murid belajar melalui benda nyata atau contoh konkret.
Abstrak: Murid sudah siap untuk memahami konsep-konsep yang lebih abstrak dan teoritis.

3. Sederhana - Kompleks:

Sederhana: Memberikan materi yang lebih sederhana dengan sedikit abstraksi atau esensi.
Kompleks: Memberikan materi yang lebih rumit dengan banyak abstraksi.

4. Terstruktur - Terbuka (Open Ended):

Terstruktur: Menyediakan tugas dengan instruksi jelas dan tahapan yang terinci.
Terbuka: Memberi murid lebih banyak kebebasan untuk menjelajah dan menggunakan kreativitas dalam menjalani tugas.

5. Tergantung (Dependent) - Mandiri (Independent):

Tergantung: Memberikan bantuan ekstra kepada murid yang masih memerlukan panduan dan dukungan lebih banyak.
Mandiri: Memungkinkan murid yang sudah siap untuk berpikir dan bekerja secara mandiri.

6. Lambat - Cepat:

Lambat: Memberi murid yang mungkin butuh lebih banyak waktu lebih banyak kesempatan untuk memahami konsep atau topik.
Cepat: Memberi murid yang sudah menguasai materi sedikit tantangan tambahan atau memungkinkan mereka untuk melanjutkan lebih cepat.

Dengan memahami perbedaan ini, guru dapat merencanakan pembelajaran yang lebih efektif sesuai dengan kebutuhan belajar unik setiap murid. Hal ini membantu menciptakan lingkungan pembelajaran inklusif di mana semua murid memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan tingkat pemahaman mereka.

B. Minat Murid

Minat adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Tomlinson mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelaajran yang berbasisi minat. diantaranya
  • membantu murid menyadari kecocokan antara sekolah dan kecintaan murid untuk belajar
  • mendemonstrasikan keterhubungan antar semua pembelajaran
  • Menggunakan ketrampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide/ ketrampilan yang kurang dikenal / baru 
  • meningkatkan motivasi murid untuk belajar

minat murid dalam 2 perspektif

Pertama, minat situasional adalah keadaan psikologis yang muncul pada saat tertentu, biasanya dipengaruhi oleh cara penyajian atau situasi. Sebagai contoh, seorang anak bisa tertarik pada pembicaraan tentang hewan jika guru menyajikannya dengan cara menarik.

Kedua, minat individu adalah kecenderungan yang lebih konstan dari individu untuk terlibat dalam jangka panjang dengan objek atau topik tertentu. Misalnya, jika seorang anak memiliki minat pribadi pada hewan, dia akan tetap tertarik mempelajari hewan bahkan jika pembelajarannya tidak disajikan dengan cara yang menarik. Minat individu ini lebih tahan lama dan tidak terlalu dipengaruhi oleh situasi atau cara penyajian.

Untuk menarik minat murid dalam pembelajaran, guru dapat melakukan berbagai cara, seperti:

  • Menciptakan situasi pembelajaran yang menarik perhatian murid, misalnya dengan humor atau menciptakan kejutan.
  • Menghubungkan konteks pembelajaran dengan minat individu murid.
  • Mengkomunikasikan nilai manfaat dari apa yang dipelajari oleh murid.
  • Memberikan kesempatan kepada murid untuk memecahkan persoalan melalui pembelajaran berbasis masalah.
Ketahui bahwa minat setiap murid berbeda, dan dapat berubah sepanjang waktu. Pembelajaran berbasis minat seharusnya tidak hanya mengembangkan minat yang sudah ada, tetapi juga membantu murid menemukan minat baru. Guru dapat mempertimbangkan area minat dan cara ekspresi yang sesuai dengan murid mereka untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan relevan.

C. Profil Belajar Murid

Profil belajar merujuk pada cara individu belajar secara optimal. Tujuan memperhatikan profil belajar murid adalah untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar dengan lebih alami dan efisien. Guru harus menyadari perbedaan dalam profil belajar murid-murid mereka dan memvariasikan metode pengajaran sesuai dengan profil belajar tersebut.

Profil belajar murid dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk:

  1. Preferensi terhadap lingkungan belajar, seperti suhu ruangan, tingkat kebisingan, pencahayaan, dan apakah lingkungan belajar terstruktur atau tidak.
  2. Pengaruh budaya: apakah murid lebih suka belajar secara santai atau terstruktur, apakah mereka lebih pendiam atau ekspresif, dan apakah mereka lebih suka belajar secara personal atau impersonal.
  3. Gaya belajar: terdapat tiga gaya belajar umum, yaitu visual (belajar dengan melihat), auditori (belajar dengan mendengar), dan kinestetik (belajar sambil melakukan).
  4. Preferensi berdasarkan teori kecerdasan majemuk: teori ini mengidentifikasi delapan jenis kecerdasan berbeda, seperti visual-spasial, musical, bodily-kinestetik, interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, dan logic-matematika.
Guru harus berusaha menggunakan beragam metode pengajaran yang mengakomodasi gaya belajar dan preferensi belajar murid. Dengan menyadari perbedaan dalam profil belajar, guru dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih efektif dan memuaskan bagi setiap murid.

mengidentifikasi kebutuhan belajar murid

Guru dapat mengidentifikasi kebutuhan belajar murid dengan berbagai cara, termasuk:
  1. Mengamati perilaku murid: Guru dapat mengamati bagaimana murid belajar, berpartisipasi dalam pelajaran, dan menunjukkan minat pada topik tertentu.
  2. Mencari tahu pengetahuan awal: Guru mencari tahu apa yang sudah diketahui oleh murid tentang topik yang akan diajarkan.
  3. Melakukan penilaian: Guru menggunakan berbagai metode penilaian untuk mengevaluasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap murid, serta mencatat kebutuhan yang ditemukan dari hasil penilaian.
  4. Mendiskusikan dengan orang tua: Guru berkomunikasi dengan orang tua atau wali murid untuk mendapatkan pemahaman lebih baik tentang kebutuhan belajar murid.
  5. Mengamati saat murid mengerjakan tugas: Guru mengamati cara murid menyelesaikan tugas atau aktivitas untuk memahami kebutuhan mereka.
  6. Bertanya atau berdiskusi dengan murid: Guru berbicara langsung dengan murid untuk mendengarkan dan memahami permasalahan atau kebutuhan mereka.
  7. Membaca rapor dan berbicara dengan guru sebelumnya: Guru melihat catatan penilaian dan komentar dari guru-guru sebelumnya serta berbicara dengan guru sebelumnya untuk memahami sejarah pembelajaran murid.
  8. Membandingkan tujuan pembelajaran: Guru membandingkan tujuan pembelajaran dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan saat ini yang dimiliki murid.
  9. Menggunakan penilaian diagnostik: Guru menggunakan penilaian diagnostik untuk memastikan bahwa murid berada di level yang sesuai dengan kebutuhan belajar mereka.
  10. Melakukan survei: Guru dapat menggunakan survei atau kuesioner untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan belajar murid.
  11. Mereview dan melakukan refleksi: Guru mereview dan merenungkan praktik pengajaran mereka sendiri untuk menilai efektivitas pembelajaran.
Pendekatan yang komprehensif dan beragam ini membantu guru mengidentifikasi dan memahami kebutuhan belajar unik dari setiap murid mereka.

Alasan Pembelajaran Berdiferensiasi dapat Berhasil 

Pembelajaran berdiferensiasi (Differentiated Instruction/DI) adalah pendekatan pengajaran yang mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik individu siswa. Berikut adalah tujuh alasan mengapa pembelajaran berdiferensiasi dapat berhasil:

  1. Bersifat Proaktif: Guru merencanakan pembelajaran dengan mempertimbangkan kebutuhan beragam siswa sejak awal.
  2. Bersifat Kualitatif: Diferensiasi bukan hanya tentang memberikan lebih banyak atau kurang tugas kepada siswa, tetapi juga tentang mengubah sifat tugas untuk sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka.
  3. Berakar pada Penilaian: Guru terus menilai kemampuan, minat, dan pendekatan belajar siswa untuk merancang pengalaman belajar yang sesuai.
  4. Menggunakan Pendekatan Terhadap Konten, Proses, dan Produk: Guru membedakan elemen-elemen kurikuler, seperti apa yang dipelajari, bagaimana dipelajari, dan bagaimana hasil pembelajaran ditunjukkan.
  5. Berpusat pada Murid: Pembelajaran difokuskan pada keterlibatan, relevansi, dan ketertarikan siswa, dengan pemahaman bahwa setiap siswa unik.
  6. Kombinasi Seluruh Kelas, Kelompok, dan Individu: Guru menggabungkan pembelajaran kelas, kelompok, dan individu sesuai dengan kebutuhan.
  7. Dinamis: Pembelajaran berdiferensiasi terus berkembang dengan melibatkan kolaborasi dan penyesuaian antara guru dan siswa.
Pendekatan ini memungkinkan semua siswa untuk berkembang sesuai potensi mereka dengan mempertimbangkan perbedaan individual mereka.

Post a Comment