> Contoh Best Practice IPA SMP ~ MedEdu

Contoh Best Practice IPA SMP

Posted by susilo On Tuesday, 3 December 2019 0 komentar

Contoh Best Practice IPA SMP – Bagi bapak dan ibu guru di banyak sekali daerah, ketika ini sedang berlangsung acara PKP (Pengembangan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Salah satu kiprah yang harus dilengkapi salah satunya ialah menciptakan best practice.  


Mungkin ada rekan-rekan guru yang belum mengetahui apa itu best practice?. Best Practice ialah Salah satu jenis karya tulis yang disarankan untuk dibentuk oleh pendidik atau tenaga kependidikan. 

Best Practice adalah sebuah karya tulis yang menceritakan pengalaman terbaik dalam menuntaskan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh pendidik atau tenaga kependidikan sehingga bisa memperbaiki mutu layanan pendidikan dan pembelajaran. 
Best Practice tidak selalu identik dengan hal-hal yang besar dan revolusioner yang dilakukan oleh pendidik atau tenaga kependidikan dalam menuntaskan masalah, tetapi bisa juga melalui sebuah hal kecil, penerapan alternatif-alternatif pemecahan duduk kasus yang sederhana, tetapi efektif dan dampaknya terasa oleh sekolah. 

Sistematika penulisan Best Practice tentu berbeda dengan makalah atau skripsi, berikut sistematika penulisan best practice : 
A. Latar Belakang Masalah, 
B. Identifikasi Masalah, 
C. Tujuan, 
D. Hasil yang Diharapkan, 
E. Pelaksanaan dan Hasil Penyelesaian Masalah, dan 
F. Simpulan dan Saran. 

Berikut ini kami berikan rujukan best practice untuk mata pelajaran IPA jenjang Sekolah Menengah Pertama :


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 tahun 2006 perihal standar isi satuan pendidikan dasar menengah, menjelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu bidang studi yang dipelajari pada pendidikan di Sekolah. IPA bekerjasama dengan cara mencari tahu perihal alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA dibutuhkan sanggup menjadi wahana bagi penerima didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pelaksanaan pembelajarannya, IPA harus dirancang sesuai dengan kebutuhan, karakter,dan kemampuan siswa. Tidak bisa hanya dilakukan dengan sekedar transfer ilmu (transfer knowledge) dari guru ke siswa. Tetapi harus mengarahkan penerima didik untuk berfikir kritis dan sanggup menuntaskan masalahnya sendiri atau problem solving yang disebut dengan pembelajaran higher order thinking skill. Selain itu, berdasarkan hasil temuan Depdiknas proses pembelajaran IPA selama ini masih berorientasi pada penguasaan teori dan hafalan. Metode pembelajaran yang terlalu berorientasi kepada guru cenderung mengabaikan hak-hak dan kebutuhan siswa, sehingga proses pembelajaran yang menyenangkan dan mencerdaskan kurang optimal.

Pembelajaran kala 21 telah mengalami banyak pergeseran, diantaranya dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada penerima didik. Tidak dipungkiri pada pembelajaran konvensional, tahun-tahun sebelumnya lebih berpusat pada guru. Gurulah yang aktif dalam pembelajaran, sehingga penerima didik hanya menyimak dan mendengarkan saja. Kalau di dalam bahasa jawa istilahnya “ anteng sedheku “. Peserta didik harus duduk hening , tangan dilipat di atas meja. Metode yang dipakai gurupun cenderung untuk metode ceramah. Mengajar IPA pun seperti menjadi pelajaran sejarah IPA. Hal ini tentu banyak kelemahannya, sebab kemampuan penerima didik untuk mendengar dan menyimak tentu berbeda-beda.

Salah satu model pembelajaran yang berorientasi HOTS ialah discovery learning, Model pembelajaran inovasi (discovery learning) diartikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan warta secara pribadi tetapi siswa dituntut untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai warta tersebut secara mandiri. Siswa dilatih untuk terbiasa menjadi seorang yang saintis (ilmuan). Mereka tidak hanya sebagai konsumen, tetapi dibutuhkan pula bisa berperan aktif, bahkan sebagai pelaku dari pencipta ilmu pengetahuan. Selan itu penulis juga menyebarkan metode Windows Shopping, Pembelajaran ini lebih menekankan pada ketrampilan sosial penerima didik, dan dibutuhkan penerima didik menjadi lebih aktif dan terlibat pribadi dalam proses melalui “shopping “ atau belanja antar kelompok. Di tamat pembelajaran dibutuhkan penerima didik mendapat belanjaan komplit , tentunya dengan konfirmasi dan penguatan dari guru selaku fasilitator.

Oleh sebab penulis dalam proram Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) akan memperbaiki pembelajaran yang di tuangkan dalam Best Practice dengan judul Penggunaan Metode Windows Shopping materi Gangguan Pencernaan pada Manusia dengan berorientasi pada pembelajaran HOTS. 

B. Jenis Kegiatan
Kegiatan yang dilaporkan dalam laporan best practice ini ialah acara pembelajaran IPA Kelas VIII semester ganjil dalam pokok bahasan perubahan zat dan dengan judul Penggunaan Metode Windows Shopping pada Materi Gangguan Sistem Pencernaan dengan berorientasi pada pembelajaran HOTS “ . 

C. Manfaat Kegiatan
Manfaat penulisan Best Practice ialah meningkatkan kompetensi penerima didik dalam Kompetensi Dasar Menganalisis sistem pencernaan pada insan dan memahami gangguan yang bekerjasama dengan sistem pencernaan, serta upaya menjaga kesehatan sistem pencernaan.





0 komentar:

Post a Comment