Contoh Best Practice Matematika Smp

Posted by susilo On Tuesday, 3 December 2019 0 komentar

Contoh Best Practice Matematika SMP – Bagi bapak dan ibu guru di aneka macam daerah, ketika ini sedang berlangsung aktivitas PKP (Pengembangan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Salah satu kiprah yang harus dilengkapi salah satunya yaitu membuat best practice.

Rekomendasi Bacaan :

Mungkin banyak rekan-rekan guru yang belum mengetahui apa itu best practice?. Best Practice yaitu Salah satu jenis karya tulis yang disarankan untuk dibentuk oleh pendidik atau tenaga kependidikan. 

Best Practice yaitu sebuah karya tulis yang menceritakan pengalaman terbaik dalam menuntaskan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh pendidik atau tenaga kependidikan sehingga bisa memperbaiki mutu layanan pendidikan dan pembelajaran.

Best Practice tidak selalu identik dengan hal-hal yang besar dan revolusioner yang dilakukan oleh pendidik atau tenaga kependidikan dalam menuntaskan masalah, tetapi bisa juga melalui sebuah hal kecil, penerapan alternatif-alternatif pemecahan dilema yang sederhana, tetapi efektif dan dampaknya terasa oleh sekolah.

Sistematika penulisan Best Practice tentu berbeda dengan makalah atau skripsi, berikut sistematika penulisan best practice : 
A. Latar Belakang Masalah, 
B. Identifikasi Masalah, 
C. Tujuan, 
D. Hasil yang Diharapkan, 
E. Pelaksanaan dan Hasil Penyelesaian Masalah, dan 
F. Simpulan dan Saran. 

Berikut ini saya berikan pola best practice untuk mata pelajaran Matematika jenjang SMP,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran matematika merupakan proses yang dirancang dengan tujuan untuk membuat suasana lingkungan yang memungkinkan penerima didik melakukan aktivitas berguru matematika, sehingga pemahaman konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika sanggup dipelajari dengan baik oleh penerima didik.

Dalam praktik pembelajaran Kurikulum 2013 yang penulis lakukan selama ini, penulis memakai buku siswa dan buku guru. Penulis meyakini bahwa buku tersebut sudah sesuai dan baik dipakai di kelas alasannya yaitu diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata, dalam praktiknya, penulis mengalami beberapa kesulitan ibarat bahan dan kiprah tidak sesuai dengan latar belakang penerima didik. Selain itu, penulis masih berfokus pada penguasaan pengetahuan kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi. Dengan demikian proses berpikir siswa masih dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Guru hampir tidak pernah melakukan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS). Penulis juga jarang memakai media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas kaku dan bawah umur tampak tidak ceria.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa penerima didik diperoleh warta bahwa (a) siswa malas mengikuti pembelajaran yang banyak dilakukan guru dengan cara ceramah (b) selain ceramah, metode yang selalu dilakukan guru yaitu penugasan atau Pekerjaan Ruamh (PR). Sebagian penerima didik mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat teoritis. Tinggal menyalin dari buku teks atau mencontoh temanya.

Untuk menghadapi masa Revolusi Industri 4.0, penerima didik harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 yaitu model pembelajaran berbasis dilema (problem based learning/PBL. PBL merupakan model pembelajaran yang mengedepankan taktik pembelajaran dengan memakai dilema dari dunia kasatmata sebagai konteks siswa untuk berguru perihal cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari bahan yang dipelajarinya. Dalam PBL siswa dituntut untuk bisa memecahkan permasalahan kasatmata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual). Dengan kata lain, PBL membelajarkan penerima didik untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mencari dan memakai sumber pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan dilema yang dihadapi.

Setelah melakukan pembelajaran matematika dengan model PBL, penulis menemukan bahwa proses dan hasil berguru penerima didik meningkat. Lebih cantik dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Ketika model PBL ini diterapkan pada kelas VIII yang lain ternyata proses dan hasil belalajar penerima didik sama baiknya. Praktik pembelajaran PBL yang berhasil baik ini penulis simpulkan sebagai sebuah best practice (praktik baik) pembelajaran berorientasi HOTS dengan model PBL.

B. Jenis Kegiatan Kegiatan yang dilaporkan dalam laporan best practice ini yaitu aktivitas pembelajaran matematika Kelas IX-H pada Kompetensi Dasar Membuat generalisasi luas permukaan dan volume aneka macam bangkit ruang sisi lengkung (tabung, kerucut, dan bola).

C. Manfaat Kegiatan Manfaat penulisan best practice ini yaitu meningkatkan kompetensi penerima didik dalam pembelajaran matematika Kelas IX-H pada Kompetensi Dasar Membuat generalisasi luas permukaan dan volume aneka macam bangkit ruang sisi lengkung (tabung, kerucut, dan bola) yang berorientasi HOTS.

Bagi Anda yang ingin mengunduh pola Best Practice Matematika Sekolah Menengah Pertama silakan 


Best Practice dibentuk oleh Bapak Kiryono, S.Pd Guru SMPN 1 Kebumen

0 komentar:

Post a Comment