Contoh Best Practice Pkp Bahasa Indonesia Smp

Posted by susilo On Tuesday, 3 December 2019 0 komentar

Contoh Best Practice Bahasa Indonesia SMP – Bagi bapak dan ibu guru di aneka macam daerah, dikala ini sedang berlangsung kegiatan PKP (Pengembangan Kompetensi Pembelajaran) berbasis zonasi. Salah satu kiprah yang harus dilengkapi salah satunya ialah menciptakan best practice.


Mungkin ada rekan-rekan guru yang belum mengetahui apa itu best practice?. Best Practice ialah Salah satu jenis karya tulis yang disarankan untuk dibentuk oleh pendidik atau tenaga kependidikan.

Best Practice ialah sebuah karya tulis yang menceritakan pengalaman terbaik dalam menuntaskan sebuah permasalahan yang dihadapi oleh pendidik atau tenaga kependidikan sehingga bisa memperbaiki mutu layanan pendidikan dan pembelajaran.


Best Practice tidak selalu identik dengan hal-hal yang besar dan revolusioner yang dilakukan oleh pendidik atau tenaga kependidikan dalam menuntaskan masalah, tetapi bisa juga melalui sebuah hal kecil, penerapan alternatif-alternatif pemecahan problem yang sederhana, tetapi efektif dan dampaknya terasa oleh sekolah.

Sistematika penulisan Best Practice tentu berbeda dengan makalah atau skripsi, berikut sistematika penulisan best practice : 
A. Latar Belakang Masalah, 
B. Identifikasi Masalah, 
C. Tujuan, 
D. Hasil yang Diharapkan, 
E. Pelaksanaan dan Hasil Penyelesaian Masalah, dan 
F. Simpulan dan Saran. 

Berikut ini kami berikan contoh best practice PKP untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia jenjang SMP :

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 perihal Sistem Pendidikan Nasional pasal 57 menyatakan bahwa penilaian dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Evaluasi dilakukan terhadap penerima didik, lembaga, dan kegiatan pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.

Dalam praktik pembelajaran Kurikulum 2013 yang penulis lakukan selama ini, penulis memakai buku siswa dan buku guru. Penulis meyakini bahwa buku tersebut sudah sesuai dan baik dipakai di kelas alasannya ialah diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata, dalam praktiknya, penulis mengalami beberapa kesulitan menyerupai bahan dan kiprah tidak sesuai dengan latar belakang siswa. Selain itu, penulis masih berfokus pada penguasaan pengetahuan kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi. Dengan demikian proses berpikir siswa masih dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Guru hampir tidak pernah melakukan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS).  Penulis juga jarang memakai media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas kaku dan belum dewasa tampak tidak ceria. 

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa diperoleh informasi bahwa (a) siswa malas mengikuti pembelajaran yang banyak dilakukan guru dengan cara ceramah, (b) selain ceramah, metode yang selalu dilakukan guru ialah penugasan. Sebagian siswa mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat teoritis, dan hanya menyalin dari buku teks. 

Untuk menghadapi masa Revolusi Industri 4.0, siswa harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).  Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 ialah model pembelajaran berbasis problem (problem based learning) PBL. PBL merupakan model pembelajaran yang mengedepankan taktik pembelajaran dengan memakai problem dari dunia aktual sebagai konteks siswa untuk mencar ilmu perihal cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari bahan yang dipelajarinya. 

Salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas siswa ialah menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP).

Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan, maka pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan istilah zonasi. Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan Guru (PKG) TK, kelompok kerja guru (KKG) SD, atau musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) SMP/SMA/SMK, dan musyawarah guru bimbingan dan konseling (MGBK), yang selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon, sanggup terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan pemberdayaan guru. Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, menyerupai status pengakuan sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.

Pedoman ini disusun untuk menunjukkan arah dalam implementasi Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi dalam penggunaan aspek HOTS, 5M, 4 Dimensi Pengetahuan dan Kecapakan Abad 21 di dalam RPP.

B. Jenis Kegiatan
Kegiatan yang dilaporkan dalam laporan praktik ini ialah kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia unit 1 Teks Cerita Pendek kelas IX dan unit 2 Teks Laporan Hasil Observasi Kelas VII.

C. Manfaat Kegiatan
Manfaat Program PKP Berbasis Zonasi ialah sebagai berikut:
1). Membiasakan guru untuk menciptakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai penilaiannya;
2). Membiasakan siswa untuk berpikir tingkat tinggi sehingga sanggup meningkatkan kompetensinya;
3). Memberikan teladan kepada kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik;
4). Memberikan teladan kepada pengawas sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik dan manajerial.

Bagi Anda yang membutuhkan contoh Best Practice PKP Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama silakan 


Sumber : Retno Supi Purbandari, S.Pd (Guru SMPN 1 Gabuswetan)

0 komentar:

Post a Comment